Kumpulan Sinopsis Naskah Islam Sunda Kuno - 1

Dibawah ini terdapat beberapa ringkasan dari naskah-naskah sunda kuno yang terdapat di kabupaten Garut:

Kitab Ilmu Fiqh Islam Kuno

Naskah Kuno Ogin Amarsakti

Nama Pemegang naskah : Hamim Sumirta. Tempat naskah : Kp. Sindangrasa Desa Ngamplang Kec. Cilawu. Asal naskah : pemberian. Ukuran naskah : 16 x 21 cm. Ruang tulisan : 13 x 17 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 84 Halaman. Jumlah baris per halaman : 14 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 11 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : biru. Bekas pena : tumpul. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : putih kekuning-kuningan. Keadaan kertas : tipis halus. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Baginda Maruf, Raja kerajaan Madusari adalah putra Baginda Hamzah, cucu Nabi Yusuf. Mempunyai dua orang istri, istri pertama bernama Nurhayat sedangkan istri kedua bernama Lasmaya. Baginda Maruf dari Nurhayat mempunyai dua anak tiri bernama Pangeran Sabang dan Raden Saka. Lasmaya sendiri adalah keturunan Wiku Bagawan Madali. Baginda Maruf pergi berburu ke Hutan. Lasmaya yang sedang hamil tua ditinggalkan bersama Nurhayat. Ketika Lasmaya melahirkan, Nurhayat menyuruh dukun anak agar mata Lasmaya ditutup. Anak laki-laki yang lahir dari Lasmaya dibuang ke laut dan sebagai gantinya diletakkan anak kucing, anak kera dan seekor burung ciung. Setelah Baginda Maruf datang bukan main marahnya dan menuduh Lasmaya berbuat serong dan menyuruhnya dibunuh. Namun atas nasehat Patih Budiman, Lasmaya tidak jadi dibunuh melainkan dibuang ke hutan. Lasmaya dimasukkan ke dalam kerangkeng besi dan ketiga putranya diikutsertakan. Kucing kemudian diberi nama Panji Malang, Kera diberi nama Panca Tantran dan Burung diberi nama Panji Layang. Ketiga putranya itu dapat bertingkah seperti manusia dan dapat menceritakan kepada Lasmaya bahwa putra yang sebenarnya dibuang ke laut atas perintah Nurhayat.

Panca Tantran dan Panji Malang dapat mengambil pedang pusaka yang tersimpan di Keraton Madusari. Dengan pedang tersebut kerangkeng dapat dihancurkan. Mereka kemudian berlindung di tanah lading di kaki Gunung. Antaboga, Raja Negeri Malebah dalam perjalanannya dipinggir laut menemukan seorang bayi laki-laki yang sedang terapung-apung. Bayi itu diambil,dipelihara dan diberi nama Amarsakti. Setelah Amarsakti dewasa diberi tahu oleh Antaboga tentang siapa sebenarnya Amarsakti itu.

Amarsakti diberi kesempatan berkelana mengelilingi Negeri Malebah. Dalam kesempatan itu ia berjumpa dengan ibu serta dengan adik-adiknya. Lasmaya dan ketiga putranya dibawa oleh Amarsakti ke Malebah dan diterima baik oleh Antaboga. Amarsakti disuruh pergi ke Madusari oleh Antaboga untuk menjumpai ayahnya. Namun dalam perjalanannya di tengah hutan, Amarsakti berjumpa dengan rombongan Raja Baginda Maruf yang sedang kesulitan karena ada seekor burung mengamuk. Ketika Baginda Maruf akan ditanduk oleh seekor banteng, Amarsakti menyamar menjadi seorang anak kampung dan dapat membunuh banteng itu. Amarsakti yang mengaku bernama Sarah dibawa oleh Baginda Maruf ke Madusari dan diberi tugas menemani Pangeran Sabang dan Raden Saka. Di Madusari Sarah berkesempatan berguru kepada Patih Budiman bersama-sama Pangeran Sabang dan Raden Saka. Nurhayat tidak senang dengan adanya Sarah di Keraton itu. Pada kesempatan Sarah dibawa pergi oleh Pangeran Sabang dan Raden Saka untuk mencari pedang yang hilang dan Sarah dibunuh. Kepada Raja dilaporkan bahwa pedang tidak dapat ditemukan dan Sarah mati diterkam binatang buas. Raja tetap bersedih hati merindukan pedang yang hilang.

Karena Antaboga itu sebenarnya jin Islam, ia mengetahui Amarsakti berganti nama Sarah dan mati di tengah hutan. Antaboga segera datang dan menghidupkan kembali Sarah serta membuat pedang tiruan yang serupa dengan pedang kepunyaan Baginda Maruf yang hilang. Sarah disuruh pergi mengantarkan pedang kepada raja Madusari. Kepada Raja, Sarah , melaporkan bahwa dirinya benar diterkam badak dan didalam perut badak ada seorang perempuan yang dijaga oleh seekor kera, seekor kucing dan seekor burung. Dikatakan oleh Sarah bahwa pedang diperoleh dari ketiga binatang tersebut. Setelah menyerahkan pedang, Sarah pergi pamit untuk pulang ke kampung.

Dalam perjalanan pulang Sarah tiba di negeri Mulki. Rajanya yang bernama Mulkiyah mempunyai putri cantik yang bernama Bidayasari. Di Negara Mulki Sarah berganti nama menjadi Ogin dan dijadikan anak angkat oleh tukang kebun. Bidayasari sangat senang dengan keindahan dan bunga-bungaan. Bidayasari dilamar oleh Raja madusari untuk dinikahkan dengan putranya. Pangeran sabang dan Raden saka disuruh tinggal di Keraton Mulki. Tetapi Bidayasari tidak melayani malah pergi ke kampung dan mencintai Ogin, kemudian Ogin dibawa ke Istana.

Raja Gomati dari kerajaan Geulang Keraton mencintai Bidayasari. Dirga Bahu dan Jaya kelana, patih kerajaan Geulang Keraton menculik Bidayasari. Seluruh negeri geger dan pasukan dikerahkan untuk mencari Bidayasari. Ogin semula tidak ikut mencari. Akan tetapi Raja mengatakan bahwa barang siapa yang dapat menyelamatkan Bidayasari akan dijadikan menantu. Ogin pun pergi mencari putri. Setelah diluar Istana Ogin menjelma menjadi Amarsakti dan kuda sakti pemberian Antaboga yang bernama Gelap Sakti siap membantu. Akhirnya penculik putri dapat dikalahkan dan putri dapat diselamatkan. Amarsakti menolak mengantarkan putri ke Istana walaupun putri menyatakan cinta kepadanya. Amarsakti menceritakan bahwa ia mengetahui bahwa putri diculik itu dari si Ogin. Amarsakti meminta kepada putri untuk mengadakan sayembara yang isinya barangsiapa yang dapat membawa kera, kucing dan burung yang bisa menyanyi dan berbicara, itulah yang akan menjadi suami putrid. Setelah berkata begitu Amarsakti menghilang dan muncul kembali si Ogin. Putri marah pada si Ogin karena tidak berterus terang mempunyai majikan tampan.

Raja Mulki mengadakan sayembara. Kepada pelamar pertama yaitu Pangeran Sabang, raja berkata bahwa sayembara ini dilakukan untuk keadilan karena ada seratus pelamar. Si Ogin pergi pulang kampung dan kepada Antaboga berkata bahwa ia mencintai putri. Antaboga menyuruh Panji Malang, Panji Layang dan Panca Tantran untuk membantu ogin melamar putri. Karena ketiga binatang itu kelakuannya seperti manusia dan sangat menyenangkan, raja menerima lamaran itu.

Patih Durjaman mempengaruhi Raja Mulki yang sedang bingung. Patih menyarankan agar perkawinan dilakukan dengan Pangeran Sabang dari Madusari. Akan tetapi pada saat perkawinan dilangsungkan datanglah rombongan Lasmaya dari Malebah dan mendesak bahwa putranyalah yang berhak menjadi suami putri. Terjadilah pertarungan antara Madusari dan Malebah. Dewi lasmaya ikut berperang dan tidak dapat dikalahkan. Akhirnya Nurhayat diketahui bahwa ia curang. Maka Baginda Ma’ruf kembali berpermaisuri Lasmaya, sedangkan Ogin Amarsakti menikah dengan Bidayasari.

Kumpulan Doa, Jampe dan Silsilah

Nama Pemegang naskah : Adang. Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu Kec. Sukawening. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 13 x 19 cm. Ruang tulisan : 9 x 14 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 263 Halaman. Jumlah baris per halaman : 10 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 10 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : besar. Warna tinta : hitam. Bekas pena : agak tajam. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas daluang. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : kecoklat-coklatan. Keadaan kertas : tebal agak keras. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : prosa.

Ringkasan isi :

Isi naskah ini terdiri atas kumpulan jampe (mantra), doa dan beberapa kisah atau silsilah para bangsawan dari kerajaan tradisional di tatar Sunda. Tidak sedikit dalam naskah itu, jampe-jampe dikemas dalam bentuk isim yang dijadikan azimat. Disebutkan pula beberapa tuah dari jampe-jampe itu diantranya dari aspek sosial, ekonomi hingga bagaimana menciptakan hubungan suami istri yang harmonis lahir dan batin. Palintangan waktu dalam kehidupan mempunyai peran penting. Hari baik, bulan dan tahun baik ada waktunya (perhitungan ketentuan). Sementara doa-doa pun sangat penting untuk tercipta kesempurnaan hidup. Bermacam-macam doa mulai dari yang pernah digunakan Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Jika manusia melaksanakan dan konsisten dalam melakukannya, maka akan tercipta kesempurnaan dunia dan akherat (sejatining manusia). Itulah keutamaan doa.

KISAH 1:

Diceritakan Sunan Amangkurat dari Kesultanan Mataram hendak melebur tembaga putih untuk dijadikan sebuah bedil (senjata api). Sunan mengumpulkan para Adipati dan menanyakan pada mereka siapa yang sanggup melebur tembaga putih. Tapi tidak ada seorang pun dari para Adipati yang sanggup. Kemudian Sunan Amangkurat bertapa di Kedaleman mencari petunjuk. Dalam pertapaan beliau mendapat petunjuk bahwa yang akan mampu melebur tembaga itu adalah seseoran Kyai Gandumayak. Kemudian Sususnan menanyakan kepada para Adipati apakah ada yang bernama Kyai Gandumayak. Ki Ngabehi Wiranagga dari Galuh menjawab : Benar Gusti Ada, tepatnya di wilayah Bangkelung.

Setelah mendengar jawaban Ki Ngabehi, Sang Sunan memanggil Kyai Gandumayak dan ditanya kesanggupannya untuk melebur tembaga putih, jika tidak sanggup maka akan dipenggal kepala Kyai itu. Kyai Gandumayak menyanggupi dengan kompensasi ia mendapatkan tanah (wilayah). Sunan mengabulkan permintaan Kyai Gandumayak dengan memberi beberapa tanah dari Wiranangga di Galuh, pangeran Suta Jaya di Gebang, Pangeran Rangga Gempol di Sumedang. Kemudian tembaga putih itu dilebur oleh Gandumayak dan dijadikan bedil dan dinamakan Guntur Geni. Setelah selesai membuat bedil diangkat oleh Sunan Amangkurat menjadi lurah dan diberi gelar Lurah Trenggana yang mempunyai cacah 750 jiwa, serta ditempatkan di Bangkelung, wilayah Galuh dan diberi Surat Piagam. Sususnan Amangkurat membuat pernyataan yang berisi penitipan Lurah Trenggana kepada 3 tumenggung, 4 rangga, dan 5 lurah Wangsa Raja juga kepada Kompeni supaya jangan sekali-sekali diganggu. Pernyataan Sunan Amangkurat dilanjutkan oleh penggantinya yaitu Kangjeng Sunan Dipati Puger. Saya menitipkan Lurah Trenggana kepada 3 tumenggung, 4 rangga, dan 5 Lurah Wangsa Raja, Kapiten Jangkung, dan Kapiten Mayor. Jika terdapat anak cucu Lurah Trenggana di tanah kulon atau dimana-mana jangan diperlakukan sewenang-wenang atau diperkerjakan oleh kompeni karena tidak punya tanah. Barang siapa memperkerjakannya kepada kompeni dan menganiaya, saya doakan celaka, durhaka serta tidak punya umur untuk keturunannya.

KISAH 2:

Pancakaki Sakawayana bubar dari Padjadjaran, maka Prabu Siliwangi berputra Batara Sangon Waya dan Sunan Tampogawa berputra Sunan Jati Langgeng, berputra Sunan Jati Wisesa, berputra Sunan Panggeng, berputra Subang Karancang, berputra Prabu Haris Bancana punya adik Prabu Liman Senjaya, beradik Prabu Tartomas Sembung, Prabu Liman Kencana,Prabu Liman Dawah, Prabu Ngerah, Prabu Tunggang beradik Prabu Payung Kancana, berputra Prabu Harimangun, Prabu Indang Kancana, Prabu Haji Mentri berputra Santawaan Lukta Panggung berputra Santawaan Jagabaya, berputra Ki Ngabehi Naya Manggala, berputra Ki Ngabehi Patra yang memegang Tapes Wates Cutak Sukawayana.

KISAH 3:

Sejarah Cihaur Manunggal muncul dari Jatining Pangeran, yakni Sang Ratu Sulton Sakti yang ada di Gunung Mandalawangi, Sang Ratu Wisesa yang ada di Curug Cimandiracun, Sang Ratu Taji Larang yang ada di Gunung Kuta, Sunan Guru Windu yang ada di Gunung Windu. Raden Aci Maya yang ada di hulu Cigunung Agung, Sang Ratu Aci Putih Maya Herang yang ada di gunung, Raden Sangiang yang ada di Gunung Picung, Raden Jayaw Wisesa yang ada di Sangiyang Tapak, Raden Antera yang yang ada di Sangiang Ngantrang, Pangeran Ujug Putih yang ada di Hulu Cipancar, Raden Maya Sakti yang ada di Bojong Gowong, Raden Maya Wisesa yang ada di Bojong Pulus, Raden Sangkan Jaya yang ada di Gunung Haruman, Raden Sangkan Herang yang ada di Gunung Leutik, raden Kanawati yang ada di Hulu Cikacang, raden Sunia Larang yang ada di Gunung Kaledong, Ratu Mandala Agung yang ada di Hulu Cipari. Pangeran Mangkubumi yang ada di Sarongge, Raden Manik Sakti yang ada di Hulu Cikembulan.

Naskah Kuno Sulanjana

Nama Pemegang naskah : Adang. Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu Kec. Sukawening. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 17 x 22 cm. Ruang tulisan : 14 x 18 cm. Keadaan naskah : tidak utuh. Tebal naskah : 49 Halaman. Jumlah baris per halaman : 14 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 11 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : besar. Warna tinta : hitam. Bekas pena : tumpul. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas tidak bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : kecoklat-coklatan. Keadaan kertas : agak tipis halus. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Di Suralaya para dewa bermusyarawah untuk mendirikan bakal Panca Warna. Dewa Anta ditugas membuat batu penyangga tiang. Tetapi Dewa Anti tidak dapat melaksanakan tugasnya, karena badannya berbentuk ular. Dewa Anta menagis sedih dan meneteskan air mata tiga butir. Air mata itu kemudian berubah menjadi tiga butir telur yang dibawanya dengan cara digenggam oleh mulut.

Karena kesalahpahaman seekor burung elang, telur itu jatuh dua butir yang kemudian menetas menjadi Kalabuat dan Budug Basu. Sapi Gumarang, raja segala binatang jelmaan Kencing Idajil (setan) memelihara Kalbuat dan Budug Basu sebagai anak angkat. Atas perintah Batara Guru telur yang tinggal satu butir dierami Dewa Anta. Telur menetas, lahirlah seorang putri cantik yang diberi nama Dewi Puhaci Terus Dangdayang atau juga Dewi Aruman. Batara Guru mencintai Dewi Puhaci dan berniat memperistri. Akan tetapi ditentang oleh Batara Narada karena hal itu akan merusak citra Batara Guru sendiri. Disamping itu Batara Guru dianggap melanggar hukum dan merusak agama sebab Dewi Puhaci diasuh dan disusui oleh Dewi Umah, istri Batara Guru. Oleh karena itu Dewi Puhaci masih tergolong anak Batara Guru, maka perkawinannya tidak boleh terjadi.

Agar perkawinan Batara Guru dengan Dewi Puhaci tidak terjadi, Batara Narada mencari akal. Diberinya Dewi Puhaci buah Koldi sehingga berhenti menyusui. Tetapi karena ketagihan dan buah koldi itu tidak ada lagi, maka Dewi Puhaci jatuh sakit hingga meninggal dunia. Mayat Dewi Puhaci diurus oleh bagawat Sang Sri dan kuburannya dijaga siang malam sambil menyalakan dupa. Kemudian keluarlah dari dalam tanah kuburan itu berjenis-jenis bibit tanaman. Dari kuburan bagian kepala keluar kelapa, dari telinga keluar macam-macam pohon bamboo, dari ari-ari keluar macam-macam tumbuhan menjalar, dari payudara keluar macam-macam buah-buahan. Pendek kata semua jenis pepohonan berasal dari tubuh Dewi Puhaci.

Semar ditugasi Batara Guru untuk membawa bibit tanaman itu ke negeri Pakuan yang dirajai Prabu Siliwangi. Istri Prabu Siliwangi bernama Nawang Wulan adalah putra Batara Gur. Maka dengan adanya bibit tanaman itu, negeri Pakuan menjadi subur makmur. Akan tetapi Prabu Siliwangi dilarang mengetahui bagaimana Dewi Nawang Wulan menanak nasi. Jika Sang Prabu Siliwangi melanggar larangan, maka akan jatuh telak kepda Nawang Wulan.

Tersebutlah Budug Basu yang diasuh oleh Sapi Gumarang di Tegal Kapapan sedang mencari Dewi Puhaci. Tiba di kuburan Dewi Puhaci, Budug Basu mengelilingi kuburan sebanyak tujuh kali. Setelah itu Budug Bassu meninggal dunia. Mayat Budug Basu oleh Kalamullah dan Kalamuntir dibawa keliling dunia sebanyak tujuh kali. Di tengah jalan mayat Budug Basu pun menjelma menjadi seekor badak. Kalamullah dan Kalamuntir menjaga binatang-binatang tersebut menjadi dua bagian yaitu bagian darat dan laut. Selanjutnya dikisahkan Sulanjana putra laki-laki yang diasuh Dewi Pratiwi, dititipi negeri Suralaya sebab Batara Guru dan Narada akan turun ke bumi memeriksa ngeri Pakuan. Kedua Batara itu menjelma menjadi burung Pipit.

Tersebutlah Dempu Awang dari negeri seberang akan membeli padi dari Pakuan. Karena padi-padi tersebut hanya titipan Batara Guru, oleh putra Siliwangi permohonan Dempu Awang itu ditolak. Dempu Awang sakit hati, maka dimintanya bantuan dari Sapi Gumarang untuk merusak tanaman padi. Sapi Gumarang dibantu oleh binatang-binatang jelmaan Budug Basu, merusak tanaman padi. Sementara Sulanjana dan kedua orang adik perempuannya yang bernama Talimendang dan Talimendir, diperintah Batara Guru untuk menjaga dan menyembuhkan padi. Terjadilah peperangan antara penjaga dan perusak. Akan tetapi Sapi Gumarang kalah dan berjanji akan mengabdi kepada Sulanjana asal pada setiap mulai menanam padi disambat (atau dipanggil secar batin) serta disediakan daun paku pada pupuhunan (tempat sesaji di lading atau di sawah).

Prabu Siliwangi penasaran ingin melihat cara Dewi Nawang Wulan menanak nasi. Dibukanya padi yang sedang dimasak, maka Dewi Nawang Wulan kembali ke Kahiyangan. Namun sebelum pergi sempat berpesan dulu agar membuat lesung, dulang, kipas (bahsa sunda: hihid), bakul dan periuk untuk menanak nasi. Prabu Siliwangi menyesal dan menghadap Batara Guru minta pengampunan agar Dewi Nawang Wulan kembali ke Pakuan. Permohonan Sang Prabu ditolak, kemudian ia sendiri pergi ke Pakuan setelah menerima pelajaran bagaimana cara menanak nasi dan bercocok tanam padi yang baik. Dewi Anta oleh Batara Guru diturunkan ke bumi untuk menjaga padi.

Timbanganten

Timbanganten adalah kerajaan kecil atau keprabuan yang terletak di Tangkil, daerah yang termasuk wilayah Kecamatan Tarogong Kaler sekarang. Daerah ini tepatnya berada di lereng Gunung Guntur. Bekas kota Timbanganten meliputi Situ Gede, Tegal Sari, Korobokan, sampai Babakan Salaawi. Selain dikenal dengan nama Timbanganten, keprabuan ini juga dikenal dengan Keprabuan Mandala Puntang.

Antara abad ke-14 sampai ke-16, yang berkuasa di Keprabuan Timbanganten berturut-turut Dalem Pasehan, Ratu Maraja Inten Dewata, Prabu Permana di Puntang, Prabu Panten Rama Dewa, dan Prabu Derma Kingking. Ketika masuk pengaruh Islam pada tahun 1575 dan masa Sumedang Larang tahun 1580, yang berkuasa di Timbanganten berturut-turut Sunan Derma Kingking, Sunan Ranggalawe, dan Tumenggung Jayakusumah.

Tumenggung Jayakusumah dikenal juga sebagai Demang Mataram, karena dialah yang pertamakali mengabdi kepada Kerajaan Mataram Jawa. Mataram saat itu diperintah Mas Ngabei Sutawijaya (Senopati) yang berkuasa antara tahun 1575-1601. Sejak pula Timbanganten resmi menjadi kandaga atau kabupaten. Wilayah Kabupaten ini meliputi daerah-daerah yang kini menjadi wilayah Cisurupan, Samarang, Tarogong, dan Bojongsalam (Banyuresmi).

Saat Gunung Guntur meletus, Kabupaten Timbanganten tertimbun material vulkanik dan menyebabkan hancurnya wilayah ini. Namun nama Timbanganten masih terus digunakan sebagai nama distrik pada saat VOC dan pemerintah kolonial Belanda berkuasa di Tanah Sunda dan masuk ke wilayah Parakanmuncang.

Pada saat Kabupaten Limbangan-Garut terbentuk pada tahun 1901, Timbanganten dijadikan distrik yang meliputi Onderdistrik Tarogong, Bojongsalam, dan Samarang. Namun pada tahun 1913, nama Timbanganten dihapus dan diganti dengan Distrik Tarogong yang meliputi wilayah yang sama seperti tahun 1901.

Kecamatan Tarogong untuk beberapa lama menjadi ibukota Kabupaten Garut, setelah kantor Bupati dipindahkan dari kompleks alun-alun di Garut Kota ke wilayah Sukagalih. Sejak tahun 2003, wilayah Tarogong dimekarkan menjadi dua kecamatan, yakni menjadi Tarogong Kaler dan Tarogong Kidul.

Sajarah Turunan Timbanganten

Nama Pemegang naskah : Toha. Tempat naskah : Desa Cikedokan Kec. Bayongbong. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 21 x 29 cm. Ruang tulisan : 19 x 27 cm. Keadaan naskah : sebagian rusak. Tebal naskah : 32 Halaman. Jumlah baris per halaman : 17 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 17 dan 14 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : agak tajam. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas tidak bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : kuning kecoklat-coklatan. Keadaan kertas : halus. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : prosa.

Ringkasan isi:

Naskah ini berisi silsilah yang berhubungan dengan keluarga bangsawan Timbanganten dan Bandung. Pada umumnya silsilah tersebut diawali dari nabi Adam AS sebagai manusia pertama; kemudian melalui nabi Muhammad, Ratu Galuh, Ciung Manarah dan Prabu Siliwangi, Raja Padjadjaran. Ratu Galuh dianggap sebagai Raja pertama di Pulau Jawa.

Keluarga Bangsawan Timbanganten muncul sejak Dalem Pasehan menjadi Ratu di Kadaleman Timbanganten. Wilayah Kadaleman Timbanganten sekarang mencakup wilayah Kecamatan Tarogong Kaler dan Kidul, Samarang, Leles dan Kadungora (Cikembulan). Dalem Pasehan adalah keturunan dari Ciung Manarah yang lahir di Mandala Putang. Ia pernah menjadi mertua Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi menikahi anaknya bernama Nyi Mas Ratna Inten Dewata. Sewaktu menjadi Ratu, Dalem Pasehan menyandang gelar Sunan Permana di Putang. Di akhir hayatnya, ia kemudian menjadi pertapa dan menghilang (tilem) di Gunung Satriya. Sebagai pengganti yang menjadi Ratu adalah anaknya yang bernama Sunan Dayeuh Manggung yang dimakamkan di Dayeuh Manggung. Sunan Dayeuh Manggung wafat dan digantikan anaknya, Sunan Darma Kingkin yang makamnya di Muara Cikamiri. Setelah Sunan Darma Kingkin meninggal, maka Sunan Ranggalawe, putranya yang menggantikan dan beribukota di Korwabokan. Kemudian setelah Sunan Ranggalawe, berturut-turut yang menjadi Ratu di Timbanganten adalah Sunan Kaca (adik Ranggalawe), Sunan Tumenggung Pateon (menantu Sunan Kaca atau putra Sunan Ranggalawe), Sunan Pari (Ipar Sunan Pateon), Sunan Pangadegan (adik Sunan Pateon) yang dimakamkan di Pulau Cangkuang.

Sunan Pangadegan meninggal, maka yang menggantikan adalah Sunan Demang. Sunan Demang sendiri meninggal (dibunuh) di Mataram, dan penggantinya adalah Sunan Sanugiren (kakak Sunan Demang). Selanjutnya yang menggantikan Sunan Sanugiren, putranya Demang Wirakrama. Demang Wirakrama setelah meninggal dimakamkan di Sarsitu dan digantikan oleh putranya, Raden Demang Candradita yang dikemudian hari menjadi penghulu Bandung. Meninggal di Cikembulan dan dimakamkan di Tanjung Kuning. Kakak Raden Demang Candradita, Raden Demang Ardisutanagara menjadi Dalem di Bandung dan setelah meninggal dimakamkan di astana Tenjolaya Timbanganten.

Pengganti Demang Ardisutanagara adalah Dalem Tumenggung Anggadireja, setelah meninggal dikenal dengan sebutan Sunan Gordah, Timbenganten. Pengganti Sunan Gordah, putranya bernama Raden Inderanagara dan bergelar Tumenggung Anggadireja, ketika meninggal dimakamkan di astana Tarik Kolor Bandung. Tumenggung Anggadireja meninggal digantikan petranya, Raden Anggadireja yang bergelar Dalem Adipati Wiratanukusuma. Dalem Adipati Wiratanukusuma meninggal dan dimakamkan di pinggir mesjid Tarik Kolor Bandung. Selanjutnya sebagai pengganti adalah putranya Dalem Dipati Wiratanukusuma.

Dalem Dipati Wiratanukusuma meninggal, maka yang menggantikan Raden Naganagara (putranya) serta bergelar Dipati Wiratanukusuma, tetapi tidak lama karena ia dibunuh Kolonial Belanda. Dipati Wiratanukusuma digantikan putranya, Raden Rangga Kumetir dan bergelar Dalem Adipati. Sewaktu Dalem Adipati meninggal yang menggantikan adalah saudaranya, bernama Raden Kusumadilaga dan dikemudian hari ia bergelar Dalem Adipati Kusumadilaga Bintang. Selanjutnya dalam naskah ini diuraikan mengenai batas-batas wilayah Timbenganten, tanah Cihaur dan tanah ukur Pasir Panjang yang dibatasi Gunung Mandalawangi.

Suryaningrat

Nama pemegang naskah : Duki bin Saleh. Tempat naskah : Desa Cigagade Kec. Balubur Limbangan. Asal naskah : salinan. Ukuran naskah : 17 x 22 cm . Ruang tulisan : 14 x 18 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 269 Halaman. Jumlah baris per halaman : 13 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 10 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : agak tajam. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : putih kekuning-kuningan. Keadaan kertas : tipis halus. Cara penulisan : timbal balik . Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Tersebutlah sebuah kerajaan yang bernama Banurungsit. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja bernama Suryanagara. Ia mempunyai seorang putra bernama Suryaningrat. Suryaningrat beristri Ningrumkusumah, putra patih. Setelah Raja Suryanagara meninggal, Raden Suryaningrat diangkat menjadi raja. Ternyata pengangkatan tersebut tidak dikehendaki oleh Raja Duryan. Kerajaan Banurungsit diserang Raja Duryan yang mendapat dukungan rakyat Banurungsit. Dalam peperangan yang terjadi Suryaningrat kalah, lalu ditangkap dan dipenjarakan sedangkan istrinya, Ningrumkusumah dipaksa untuk menjadi istri raja Duryan.

Dengan menggunakan ilmu sirep, Ningrumkusumah berhasil membebaskan suaminya. Kemudian mereka melarikan diri ke hutan. Mereka terus berkelana sampai akhirnya tiba di wilayah negara Durselam. Ketika sedang mandi di sebuah Taman yang indah, Ningrumkusumah dilihat patih Indra Bumi yang ditugaskan oleh raja Durselam mencarikan wanita cantik untuk dijadikan istrinya. Dalam perjalanan menuju ibukota Durselam, Suryaningrat ditenggelamkan ke dalam sungai oleh Demang Langlaung. Meskipun suaminya Suryaningrat telah tenggelam dibawa arus sungai, Ningrumkusumah mencari suaminya menyusuri sungai. Dalam perjalanan mencari suaminya, Ningrumkusumah mendapat keris pusaka bernama Bantal Nogar dari seorang pertapa berasal dari tanah Arab yang bernama Syeh Rukman. Menurut petunjuk pertapa untuk dapat bertemu kembali dengan suami, Ningrumkusumah harus menyamar menjadi seorang laki-laki dengan nama Raden Rukmantara. Raden Rukmantara terlibat perang dengan pasukan Duryan yang menguasai Banurungsit. Raja Duryan sedang mencari Raden Suryaningrat dan Ningrumkusumah. Dalam perang tersebut Raden Rukmantara menang.

Raden Rukmantara melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan ia sempat ke Negara Erum yang diperintah oleh Sri Amangkurat. Raja ini mempunyai seorang putri cantik bernama Ratna Wulan. Ratna Wulan jatuh cinta kepada Raden Rukmantara yang tidak mengetahui bahwa sebetulnya orang itu adalah wanita. Raden Rukmantara pura-pura mau. Akhirnya mereka menikah. Raden Rukmantara diangkat menjadi raja negara Erum.

Prabu Kandi, raja negara Esam, yang ditolak lamarannya oleh putri Ratna Wulan menantang perang kepada negara Erum. Raden Rukmantara berhasil mengalahkan Prabu Kandi berkat tuah senjata pemberian Syeh Rukman. Prabu Kandi sendiri yang telah dikalahkan oleh Rukmantara dipaksa untuk menganut agama Islam.

Raden Suryaningrat yang hanyut di sungai telah sampai ke sebuah puli Peri yang dikuasai oleh Naga Giri. Raden Suryaningrat dapat meninggalkan Nusa Ipri dan sampailah ke negara Erum. Raden Rukmantara alias putri Ningrumkusumah yang sedang mencari suaminya membuat sayembara di negara Erum dengan memasang gambarnya yang sedang menangisi Raden Suryaningrat. Barangsiapa yang melihat gambarnya yang sedang menangis harus membawanya ke istana. Melalui gambar tersebut Raden Suryaningrat dapat bertemu kembali dengan istrinya, Ningrumkusumah. Selanjutnya Ratna Wulan dijadikan istri kedua oleh Raden Suryaningrat.

Ringkas cerita,setelah semua musuh dapat dikalahkan dan mereka diampuni bahkan diangkat menjadi senapati di negara asal masing-masing, Raden Suryaningrat dengan istrinya hidup tentram di negara Banurungsit.

Babad Godog

Nama pemegang naskah : Encon. Tempat naskah : Desa Cangkuang. Asal naskah : pemberian. Ukuran naskah : 16 x 20.5 cm . Ruang tulisan : 15 x 18 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 71 Halaman. Jumlah baris per halaman : 15 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 15 dan 13 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : agak tajam. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas daluang. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : coklat kekuning-kuningan. Keadaan kertas : agak tebal. Cara penulisan : timbal balik . Bentuk karangan : puisi (tembang) .

Ringkasan isi :

Naskah ini berisi cerita tentang kisah seorang tokoh yang bernama Keyan Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di Pulau Jawa dan menetap di Godog. Suci Kecamatan Karangpawitan Garut sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan Rakhmat, dan Sunan Bidayah.

Pada suatu hari Keyan Santang berdatang sembah kepada ayahandanya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yakni hasrat hatinya untuk dapat melihat darah sendiri. Kemudian baginda memanggil para ahli nujum untuk menanyakan siapa gerangan orang yang sanggup memenuhi keinginan Keyan Santang seperti yang diucapkannya tadi. Para ahli nujum tidak seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan raja. Tetapi kemudian seorang kakek yang sudah tua renta datang menghadap baginda raja dan berkata. Daulat tuanku, hamba hendak menghabarkan kepada tuanku bahwa sebenarnya ada orang yang dapat memperlihatkan darah raja putra itu, ialah Baginda Ali di Mekah.

Prabu Siliwangi bertanya, Siapa kiranya yang akan unggul bila anakku bertarung dengan dia Selesai pertanyaan itu diucapkan, maka tanpa memperlihatkan jawaban kakek itu pun lenyap dari pandangan. Menurut yang empunya cerita, kakek itu tak lain adalah Malaikat Jibril.

Nama Baginda Ali terkesan pada hati Keyan Santang. Sekarang ia ingin mencari orang yang memiliki nama itu ke Mekah. Setelah meminta izin dari Prabu Siliwangi dan menyetujuinya untuk berangkat, maka Keyan Santang terbang. Namun ia belum tahu jalan ke Mekah. Baru saja ia tinggal landas, di atasnya terdengar suara tanpa wujud sumbernya, Engkau bernama Geranta Sentra.

Setelah itu tampak olehnya seorang putri yang sangat cantik turun dari langit. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang dengan putri itu. Kemudian putri itu minta kepada Keyan Santang agar diambilkan bintang-bintang dari langit. Setelah selesai mengucapkan permintaannya itu, maka hilanglah putri itu. Ingin memenuhi permintaan sang putri, Keyan Santang bertambah tinggi terbangnya, ia bermaksud akan memetik bintang. Tetapi malah bintang itu berterbangan jauh ke langit. Keyan Santang tidak putus asa, ia terus mengejar bintang itu hingga akhirnya ia sampai di atas Mekah. Karena Keyan santang demikian bernafsunya ia ingin dapat menangkap salah satu bintang, maka langit di atas Mekah pun menjadi hingar bingar. Suara gaduh itu membuat baginda Ali ingin melihat keadaan langit.

Tak lama kemudian bertemulah Baginda Ali dengan Keyan Santang. Terjadilah percakapan antara mereka. Kata Baginda Ali, Kau dapat mengambil bintang, asal kau tahu dahulu mantranya. Keyan Santang menanyakan bagaimana bunyi mantra itu. Kemudian Baginda Ali mengucapkan mantra yang berbunyi. Allohusoli ala nu dimakbul Sayidina Muhammad. Setelah Keyan Santang mengucapkan mantra itu, ia dapat menangkap bintang dari langit. Ternyata bintang itu berupa untaian tasbih.

Diketahui akhirnya oleh putra raja Padjadjaran itu bahwa yang mengajarkan mantra itu adalah baginda Ali yang tengah dicarinya. Timbul keinginan Keyan Santang untuk mengajak bertarung dengan Baginda Ali. Tetapi Baginda Ali sudah tidak ada. Keyan Santang hanya bertemu dengan seorang tua bangka yang sedang membawa tungked (tongkat) dan tiang mesjid. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang dengan orang tua itu. Keyan Santang mencoba untuk mencabut tongkat yang ditancapkan oleh orang tua tadi, tetapi tidak berhasil Setelah diketahui bahwa orang tua itu tidak lain adalah Baginda Ali, maka Keyan Santang pun menyatakan takluk dan kemudian mau memeluk agama Islam. Keyan Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat atau Sunan Bidayah.

Keyan Santang pun memiliki tugas untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk agama Islam. Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton serta merta berubah menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menuju hutan Sancang mengikuti Prabu Siliwangi.

Sementara itu Sunan Rahkmat meng-Islamkan rakyat yang ada di Batulayang, Lebak Agung, Lebak Wangi, Curug Fogdog, Curug Sempur, dan Padusunan. Sewaktu itu Sunan Rakhmat kawin dengan Nyi Puger Wangi yang berasal dari Puger. Dari Puger Wangi Sunan Rakhmat mempunyai anak kembar, kedua-duanya laki-laki, kakaknya bernama Ali Muhammad dan adiknya Pangeran Ali Akbar. Sayang sekali tak lama kemudian setelah melahirkan Nyi Puger Wangi meninggal dunia.

Dalam kesedihan karena ditinggal istri, Sunan Rakhmat terus menyiarkan agama Islam di Karang Serang, Cilageni, Dayeuh Handap, Dayeuh Manggung, Cimalati, Cisieur, Cikupa, Cikaso, Pagaden, Haur Panggung, Cilolohan, warung Manuk, Kadeunghalang, dan Cihaurbeuti. Pada suatu saat pernah pula Sunan Rakhmat berangkat lagi ke Mekah.

Waktu akan pulang lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani oleh ratu Jin dan Jabalkop.

Alkisah disebutkan bila peti itu gesah (bergoyang) di suatu tempat di Pulau Jawa, maka itulah tandanya Sunan Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim. Adapun menurut yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang dimakamkan di Godog Karangpawitan Garut.

Sumber: pasulukan loka gandasasmita

0 Waleran:

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos