Media Sosialisasi Aksara Sunda

Cara penulisan dalam tradisi tulis masyarakat Sunda terdoku­mentasikan dalam bentuk ungkapan tradisional “Peso pangot ninggang lontar, daluang katinggang mangsi”. Dari ungkapan tersebut dapat diketahui adanya alat tulis dan media untuk menuliskan aksara.

Peso pangot adalah alat tulis berupa pisau sedangkan mangsi adalah sejenis tinta yang digunakan untuk menulis dengan mengguna­kan alat berupa kalam atau pena.

Cara menuliskan aksara dengan menggunakan peso pangot dan pena (mangsi) tidaklah sama. Cara menggunakannya peso pangot adalah dengan mengeratkan bagian ujung pisau yang tajam, dalam hal ungkapan tradisional di atas adalah pada permukaan daun lontar, sedangkan pemakaian mangsi dengan menggunakan kalam atau pena pada permukaan daluang (kertas tradisional Indonesia yang terbuat dari bahan kulit kayu pohon Paper mulberry) sama seperti halnya menulis dengan menggunakan pulpen atau ballpoint pada permukaan kertas. Penggunaan alat tulis dan media penulisan yang berbeda akan berdampak secara langsung pada kegiatan menulis secara mekanis, hal ini dikarenakan oleh perbedaan karakteristik alat dan media yang memerlukan perlakuan khusus.

Berbeda dengan kegiatan tulis menulis di jaman dahulu yang tidak begitu banyak menyediakan alat dan media untuk melakukan penulisan, jaman sekarang tersedia begitu banyak alat dan media untuk menuliskan aksara, bahkan sangat terbuka kemungkinan pengembangan aplikasi penulisan dengan menggunakan berbagai media dan tujuan penulisan itu sendiri.

Dalam hal penulisan aksara Sunda untuk menuliskan kata-kata atau kalimat yang tidak mempunyai konsonan rangkap atau gugus konsonan, maka penulisannya bisa dilakukan dengan sederhana, yaitu merangkaikan aksara ngalagena demi aksara ngalagena yang mewakili bunyi suara yang bersangkutan. Berbeda dengan hal tersebut, jika aksara Sunda digunakan untuk menuliskan kata-kata yang mempunyai gugus konsonan di tengah-tengah kata, maka penulisannya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menggunakan pamaéh dan menyandingkan dua aksara ngalagena atau pasangan.

Penggunaan pamaéh dilakukan sebagai salah satu cara dalam pembelajaran aksara Sunda pada tahap awal, sedangkan penggunaan pasangan terutama bertujuan untuk penghematan ruang tulisan dan menghindari penggunaan pamaéh di tengah-tengah kata. Adapun cara penulisan pasangan pada dasarnya adalah menyandingkan dua aksara ngalagena, bersandingnya (pasangan) dua aksara ngalagena dimaksud mempunyai arti pembacaan bahwa bunyi vokal aksara ngalagena pada aksara yang awal menjadi hilang sehingga menjadi konsonan karena dipaéh oleh aksara ngalagena yang mengikutinya.

Aksara swara tidak bisa digunakan sebagai pasangan untuk menghilangkan bunyi vokal yang mendahuluinya. Berikut ini adalah contoh penulisan aksara Sunda dengan menggunakan pamaéh dan pasangan.

Sosialisasi

Aksara Sunda sebagai Materi PembelajaranSebagai salah satu lambang kebanggaan dan entitas budaya, aksara Sunda perlu disosialisasikan kepada segenap lapisan masyarakat, baik birokrat, tokoh masyarakat, pemuda, dan juga kepada siswa di sekolah-sekolah.

Pemasyarakatan aksara Sunda kepada birokrat, tokoh masyara­kat, pemuda, dan masyarakat umum lainnya biasanya dilakukan melalui pelatihan atau workshop, sedangkan kepada siswa di sekolah-sekolah diberikan melalui materi pelajaran.

Pemasyarakatan aksara Sunda di sekolah-sekolah seharusnya merupakan salah satu cara yang paling efektif karena beberapa kele­bihan, di antaranya materi tersebut diberikan secara sistematis dan simultan, apalagi kalau diajarkan pada setiap tingkatan kelas di sekolah menengah, khususnya pada materi pelajaran bahasa Sunda.

Kelebihan lainnya yaitu motivasi para siswa untuk menguasai aksara Sunda akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat umum lainnya, karena akan terus dibimbing dan distimulasi oleh penugasan-penugasan dari guru bidang studi.

Selain itu, iklim belajar, kompetisi dengan teman, dan aspek ketertarikan untuk mempelajari hal-hal yang baru merupakan faktor pendukung utama untuk mencapai keberhasilan pembelajaran aksara Sunda di sekolah.

Peluang-peluang di atas dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin melalui kreativitas guru disertai dengan mengeliminasi berbagai kelemahan dari pembelajaran aksara di sekolah, di antaranya alokasi waktu dan penempatan materi pelajaran aksara Sunda yang menurut Panduan Penyusunan Kurikulum Standar Kompetensi dan Kom­petensi Dasar (SKKD) hanya ada di kelas X tingkat SMA/SMK/MA, walaupun juga ada sebagian buku pelajaran tingkat SMP/MTs yang mencantum­kan materi aksara Sunda.

Standar kompetensi untuk kelas X SMA/SMK/MA yaitu mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan dalam berbagai ragam tulisan dalam berbentuk terjemahan atau aksara Sunda, surat dan biografi, sedangkan kompetensi dasarnya yaitu menerjemahkan atau menulis aksara Sunda.



SKKD di atas jika diterjemahkan secara operasional dalam bentuk pembelajaran di kelas dapat meliputi pembelajaran baca-tulis aksara Sunda serta tidak menutup kemungkinan diimbuhi dengan teknik penulisan estetis aksara Sunda atau kaligrafi aksara Sunda, khususnya bagi siswa yang memiliki bakat dan minat khusus.Pembelajaran membaca dapat diawali dengan materi yang paling sederhana, di antaranya dengan pembacaan (mengeja) plang jalan, papan nama lembaga, bentuk-bentuk pengumuman pendek, dan wacana-wacana pendek. Tentu saja hal tersebut dilakukan setelah terlebih dahulu mengenali dan menghapal lambang bunyi atau fonem-fonem aksara Sunda. Adapun pembelajaran menulis dapat diawali dengan menuliskan nama masing-masing, alamat, nama sekolah, nama teman, dan wacana-wacana pendek lainnya.

Kemampuan baca-tulis secara manual tersebut nantinya akan terintegrasi dengan kemampuan mengetikannya melalui keyboard komputer. Jika hal tersebut telah tercapai maka baca-tulis aksara Sunda akan sama mudahnya dengan baca-tulis huruf Latin.

Materi pembelajaran aksara Sunda bagi sekolah-sekolah tertentu, seperti Yayasan Atikan Sunda (YAS) atau Pasundan dilakukan lebih intensif karena SKKD dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah disesuaikan dengan ciri dan kemandirian sekolah yang bersangkutan, yaitu lebih menekankan kepada kesundaan. Maka tidak heran, jika materi pembelajaran aksara Sunda telah diberikan sejak tingkat SMP dengan frekuensi pembelajaran dan tingkat pengayaan­nya lebih banyak. Dengan demikian, tentu saja kemampuan siswanya pun akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kemampuan siswa di sekolah lainnya.

Bagi siswa, selain ada nilai kebanggaan dari pembelajaran aksara Sunda, tentu diperlukan dorongan-dorongan lainnya terutama berkenaan dengan manfaat dari penguasaan aksara tersebut. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian selanjutnya, misalnya bagaimana menempatkan pentingnya aksara Sunda dalam pergaulan kaum remaja atau siswa sekolah, misalnya pula jika aksara Sunda kemudian bisa digunakan pada fitur ponsel untuk mengirim SMS atau kepen­tingan komunikasi lainnya.

Aksara Sunda sebagai Media Ekspresi Seni

Aksara Sunda sebagai lambang bunyi, di samping digunakan sebagai media untuk mengkomunikasikan gagasan secara langsung dengan sifat informasionalnya, juga bisa dimanfaatkan sebagai media untuk berekspresi dalam bidang seni. Cabang seni yang sangat memungkinkan memanfaatkan aksara Sunda adalah seni rupa.

Dalam dunia seni rupa, aksara yang disajikan dalam karya seni pada dasarnya adalah bentuk komunikasi yang memerlukan in­terpretasi lebih lanjut karena bentuk aksara yang disajikan tersebut meliputi seluruh gagasan yang tidak hanya sekedar menerangkan aspek verbal dari keterbacaan suatu tulisan.

Dalam dunia seni rupa dikenal adanya kaligrafi, yaitu bentuk eks­plorasi lebih jauh dari pemanfaatan suatu karakter aksara untuk mengejar aspek estetika. Demikian juga dengan pemakaian aksara Sunda sebagai media untuk berkarya, pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk eksplorasi lebih jauh dalam hal aplikasi aksara Sunda di berbagai bidang.

Penggunaan aksara Sunda dalam dunia seni rupa lebih mengutama­kan aspek dan nilai artistik sebagai pencapaian akhir dari sebuah karya. Hal ini berbeda dengan bidang lainnya yang lebih mengede­pankan sifat informasional, yaitu penggunaan aksara Sunda sebagai sarana untuk merekam bunyi yang berisi informasi yang hendak disampaikan dengan pemenuhan kaidah penulisan yang ketat.

Karena pemanfaatan aksara Sunda dalam dunia seni rupa lebih ditujukan untuk mencapai nilai artistik, maka ada kalanya kaidah penulisan yang telah baku dieksplorasi lebih jauh, baik dalam hal variasi bentuk, ukuran, penyaksi, dan penanda aksara, bahkan ada­kalanya proses modifikasi tersebut dilakukan sebebas-bebasnya.

Kaligrafi aksara Sunda pada kanvas.

Wijayakusumah; Mix Media pada kanvas, karya Edi Dolan dan Silih Asah, Asih, Asuh; Mix Media pada kanvas, karya Edi Dolan.


Eksplorasi pemanfaatan aksara Sunda dalam dunia seni rupa yang dalam bentuk visualnya cenderung bersifat personal dan terkadang bersifat absurd, menarik untuk dicermati sebagai satu kenyataan dari adanya konsep estetika modern dengan media aksara Sunda.

 Patung aksara Sunda karya Abah Gopal

Media Sosialisasi Aksara Sunda

Membaca aksara Sunda kadang-kadang lebih sulit dari pada menuliskannya. Hal ini karena sedikitnya bahan bacaan yang menggu­nakan aksara Sunda. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk menyediakan bahan bacaan yang menggunakan aksara Sunda, baik cetak maupun elektronik.

Media penunjang sosialisasi aksara Sunda tersebut, antara lain buku-buku yang menggunakan aksara Sunda, media cetak yang terbit berkala, atau media elektronik seperti e-book (buku elektronik) dan website.

Dengan hadirnya komputerisasi aksara Sunda, penyediaan bahan-bahan tersebut akan lebih mudah. Misalnya, untuk mencetak sebuah buku yang sepenuhnya menggunakan aksara Sunda, kita hanya menyiapkan sebuah font aksara Sunda pada komputer dan kemudian menulis aksara Sunda. Apalagi, dengan adanya program transliterasi Latin ke aksara Sunda, setiap dokumen teks dapat dialih-aksarakan dengan cepat.

catetan : kang rizal

1 Waleran:

  • Urang Kampoeng says:
    24 Juni 2012 22.12

    Sampurasun..nepangan baraya. Nyuhunkeun pidu'ana ti baraya sadaya..mudah2an ku ayana pelajaran Mulok Bahasa Sunda di wilayah Kacamatan Dayeuhluhur Kabupaten cilacap, tiasa sukses tur mangrupa salasahiji cara pikeun tetep ngalestarikeun budaya, adat, sareng bahasa sunda anu asli ti tatar parahiyangan.

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos