Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman AS?

|1 waleran
Sekilas jika kita membaca buku baru tentang Sundaland bagian dari Indonesia, apakah banjir saat zaman es yang mencair dan cerita dari buku tersebut ada sangkut pautnya dengan kisah di bawah? yang jelas saat mendengarkan file rekaman gambar kurang lebih 60 menit yang ada juga bahasan 17-8-45 kesemuanya tertuang dalam bentuk stupa2 yang berbentuk piringan yang ada pada candi borobudur hanya waktu yang bisa menjawab nantinya. Apakah zaman keemasan bangkitnya Indonesia akan datang pada suatu masa nanti nya waktu jua yang dapat menjawabnya.

Membaca judul diatas, tentu banyak orang yang akan mengernyitkan dahi, sebagai tanda ketidakpercayaannya. Bahkan, mungkin demikian pula dengan Anda. Sebab, Nabi Sulaiman AS adalah seorang utusan Allah yang diberikan keistimewaan dengan kemampuannya menaklukkan seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk angin yang tunduk di bawah kekuasaannya atas izin Allah. Bahkan, burung dan jin selalu mematuhi perintah Sulaiman. Silahkan baca artikel di bawah ini yang kami himpun dari republika.co.id untuk lebih lengkapnya.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada abad ke-9 Sebelum Masehi (989-931 SM), atau sekitar 3.000 tahun yang lalu. Sementara itu, Candi Borobudur sebagaimana tertulis dalam berbagai buku sejarah nasional, didirikan oleh Dinasti Syailendra pada akhir abad ke-8 Masehi atau sekitar 1.200 tahun yang lalu. Karena itu, wajarlah bila banyak orang yang mungkin tertawa kecut, geli, dan geleng-geleng kepala bila disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan oleh Nabi Sulaiman AS.


Candi Borobudur merupakan candi Budha. Berdekatan dengan Candi Borobudur adalah Candi Pawon dan Candi Mendut. Beberapa kilometer dari Candi Borobudur, terdapat Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Plaosan, dan lainnya. Candi-candi di dekat Prambanan ini merupakan candi Buddha yang didirikan sekitar tahun 772 dan 778 Masehi.

Lalu, apa hubungannya dengan Sulaiman? Benarkah Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang hebat dan agung itu? Apa bukti-buktinya? Benarkah ada jejak-jejak Islam di candi Buddha terbesar itu? Tentu perlu penelitian yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak untuk membuktikan validitas dan kebenarannya.

Namun, bila pertanyaan di atas diajukan kepada KH Fahmi Basya, ahli matematika Islam itu akan menjawabnya; benar. Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang ada di tanah Jawa.

Dalam bukunya, Matematika Islam 3 (Republika, 2009), KH Fahmi Basya menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut. Di antaranya, hutan atau negeri Saba, makna Saba, nama Sulaiman, buah maja yang pahit, dipindahkannya istana Ratu Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lainnya.

Dalam Alquran, kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba disebutkan dalam surah An-Naml [27]: 15-44, Saba [34]: 12-16, al-Anbiya [21]: 78-81, dan lainnya. Tentu saja, banyak yang tidak percaya bila Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman.

Di antara alasannya, karena Sulaiman hidup pada abad ke-10 SM, sedangkan Borobudur dibangun pada abad ke-8 Masehi. Kemudian, menurut banyak pihak, peristiwa dan kisah Sulaiman itu terjadi di wilayah Palestina, dan Saba di Yaman Selatan, sedangkan Borobudur di Indonesia.

Tentu saja hal ini menimbulkan penasaran. Apalagi, KH Fahmi Basya menunjukkan bukti-buktinya berdasarkan keterangan Alquran. Lalu, apa bukti sahih andai Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman atau bangunan yang pembuatannya merupakan perintah Sulaiman?

Menurut Fahmi Basya, dan seperti yang penulis lihat melalui relief-relief yang ada, memang terdapat beberapa simbol, yang mengesankan dan identik dengan kisah Sulaiman dan Ratu Saba, sebagaimana keterangan Alquran. Pertama adalah tentang tabut, yaitu sebuah kotak atau peti yang berisi warisan Nabi Daud AS kepada Sulaiman. Konon, di dalamnya terdapat kitab Zabur, Taurat, dan Tingkat Musa, serta memberikan ketenangan. Pada relief yang terdapat di Borobudur, tampak peti atau tabut itu dijaga oleh seseorang.

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman’.” (QS Al-Baqarah [2]: 248).

Kedua, pekerjaan jin yang tidak selesai ketika mengetahui Sulaiman telah wafat. (QS Saba [34]: 14). Saat mengetahui Sulaiman wafat, para jin pun menghentikan pekerjaannya. Di Borobudur, terdapat patung yang belum tuntas diselesaikan. Patung itu disebut dengan Unfinished Solomon.

Ketiga, para jin diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung. (QS Saba [34]: 13). Seperti diketahui, banyak patung Buddha yang ada di Borobudur. Sedangkan gedung atau bangunan yang tinggi itu adalah Candi Prambanan.

Keempat, Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan. (QS An-Naml [27]: 20-22). Reliefnya juga ada. Bahkan, sejumlah frame relief Borobudur bermotifkan bunga dan burung. Terdapat pula sejumlah relief hewan lain, seperti gajah, kuda, babi, anjing, monyet, dan lainnya.

Kelima, kisah Ratu Saba dan rakyatnya yang menyembah matahari dan bersujud kepada sesama manusia. (QS An-Naml [27]: 22). Menurut Fahmi Basya, Saba artinya berkumpul atau tempat berkumpul. Ungkapan burung Hud-hud tentang Saba, karena burung tidak mengetahui nama daerah itu. “Jangankan burung, manusia saja ketika berada di atas pesawat, tidak akan tahu nama sebuah kota atau negeri,” katanya menjelaskan. Ditambahkan Fahmi Basya, tempat berkumpulnya manusia itu adalah di Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 36 kilometer dari Borobudur. Jarak ini juga memungkinkan burung menempuh perjalanan dalam sekali terbang.

Keenam, Saba ada di Indonesia, yakni Wonosobo. Dalam Alquran, wilayah Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. (QS Saba [34]: 15). Dalam kamus bahasa Jawi Kuno, yang disusun oleh Dr Maharsi, kata ‘Wana’ bermakna hutan. Jadi, menurut Fahmi, wana saba atau Wonosobo adalah hutan Saba.

Ketujuh, buah ‘maja’ yang pahit. Ketika banjir besar (Sail al-Arim) menimpa wilayah Saba, pepohonan yang ada di sekitarnya menjadi pahit sebagai azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya. “Tetapi, mereka berpaling maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1236] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS Saba [34]: 16).

Kedelapan, nama Sulaiman menunjukkan sebagai nama orang Jawa. Awalan kata ‘su’merupakan nama-nama Jawa. Dan, Sulaiman adalah satu-satunya nabi dan rasul yang 25 orang, yang namanya berawalan ‘Su’.

Kesembilan, Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Saba melalui burung Hud-hud. “Pergilah kamu dengan membawa suratku ini.” (QS An-Naml [27]: 28). Menurut Fahmi, surat itu ditulis di atas pelat emas sebagai bentuk kekayaan Nabi Sulaiman. Ditambahkannya, surat itu ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko.

Kesepuluh, bangunan yang tinggal sedikit (Sidrin qalil). Lihat surah Saba [34] 16). Bangunan yang tinggal sedikit itu adalah wilayah Candi Ratu Boko. Dan di sana terdapat sejumlah stupa yang tinggal sedikit. “Ini membuktikan bahwa Istana Ratu Boko adalah istana Ratu Saba yang dipindahkan atas perintah Sulaiman,” kata Fahmi menegaskan.

Selain bukti-bukti di atas, kata Fahmi, masih banyak lagi bukti lainnya yang menunjukkan bahwa kisah Ratu Saba dan Sulaiman terjadi di Indonesia. Seperti terjadinya angin Muson yang bertiup dari Asia dan Australia (QS Saba [34]: 12), kisah istana yang hilang atau dipindahkan, dialog Ratu Bilqis dengan para pembesarnya ketika menerima surat Sulaiman (QS An-Naml [27]: 32), nama Kabupaten Sleman, Kecamatan Salaman, Desa Salam, dan lainnya. Dengan bukti-bukti di atas, Fahmi Basya meyakini bahwa Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman. Bagaimana dengan pembaca? Hanya Allah yang mengetahuinya. 

Wallahu A’lamulghuyub..

Borobudur dalam Jalinan Nilai Religi, Seni dan Sejarah

Saat ini ribuan bahkan jutaan orang telah menyaksikan secara langsung kemegahan Candi Borobudur. Tidak heran rumah ibadah umat Budha yang memiliki 72 stupa ini membuat decak kagum siapa pun juga. Tetapi masihkah kita percaya bahwa ia adalah bagian dari keajaiban dunia yang kita banggakan itu?

Kiranya pertanyaan inilah yang coba dijawab dalam Dialog kebudayaan dalam rangka pameran seni visual ‘The Thousand Mysteries of Borobudur’ dengan tema “Borobudur dalam Jalinan Nilai Religi, Seni & Sejarah”. Dialog ini dilaksanakan pada hari Minggu, 6 Mei 2007, Pukul 19.00 WIB di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta 55000.

Adapun nara sumber dialog ini terdiri dari para ahli sejarah, religi dan seni, diantaranya; St. Sunardi [staf pengajar Universitas Sanata Dharma/USD, Yogyakarta], Bante Phanyapharo [Wakil Joti Wihara Muntilan Magelang] dan DR. Daud Aris Tanudirja [Sejarawan, UGM]. Bertindak sebagai moderator dialog DR. Amiluhur Soeroso.

Tema “Borobudur Dalam Jalinan Nilai Religi, Seni & Sejarah” diangkat agar bangsa Indonesia sebagai pewaris Candi Borobudur tidak hanya kagum dan terbuai saja lantas melupakan nilai religi, seni dan sejarah Candi Borobudur. Nunuk Ambarwati, Chier of Project Coordinator, dalam siaran persnya menyatakan bahwa kita harus mengungkap lagi pengetahuan dan misteri yang ada pada Candi Borobudur.

Lebih lanjut Nunuk menjelaskan sudah ada yang mencoba mendekati Candi Borobudur dengan cara memecah bagian-bagian tertentu dari Borobudur, sehingga memudahkan orang untuk memahami detail sejarahnya. Namun pada bagian sejarah inilah banyak menyimpan data berpotensi meragukan. Untuk itu para sejarawan kita ditantang untuk lebih meyakinkan kepada dunia, minimal kapan tepatnya Borobudur itu didirikan.

Forum dialog yang diselenggarakan oleh Jogja Gallery berharap pertemuan ini mampu menimbulkan pergulatan intelektual yang menarik sehingga dapat memberi peluang terjadinya fenomena atau hasil kreativitas baru, seperti halnya yang pernah dihasilkan oleh seniman dan rohaniwan 13 abad yang lalu ketika bertemu membuat Borobudur. Selain itu dapat juga memunculkan satu kesepakatan dan pernyataan bersama yang bersifat himbauan kepada semua pihak yang merasa peduli kepada nasib Borobudur di masa depan.

Catatan: Nunuk Ambarwati
Email: qnansha@yahoo.com





Kumpulan Sinopsis Naskah Islam Sunda Kuno - 2

|0 waleran
Naskah Kuno Batara Kala

Nama Pemegang naskah : Adang. Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu Kec. Sukawening. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 17 x 22 cm. Ruang tulisan : 13 x 16 cm. Keadaan naskah : tidak utuh. Tebal naskah : 32 Halaman. Jumlah baris per halaman : 14 baris Jumlah baris halaman awal dan akhir : -. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : tumpul. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas tidak bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : kecoklat-coklatan. Keadaan kertas : tipis agak halus . Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan Isi :

Keadaan di Sorgaloka kacau balau akibat ulah seorang putri di bumi bernama Dewi Tanara melakukan Tapabrata di Gunung Marabu. Dewi Tanara ingin bersuamikan seseorang yang suka disembah tetapi tidak diberi kewajiban untuk menyembah. Turunlah Batara Guru dari Sorgaloka karena merasa bahwa dirinyalah yang dimaksudkan oleh Dewi Tanara.

Batara Guru berubah wujud menjadi seorang raksasa ketika mengejar-ngejar Dewi Tanara karena melihat paha Dewi Tanara raksasa terjatuh dan meneteskan sperma sehingga jatuh ke tanah. Raksasa sadar bahwa ia adalah Batara Guru dan berjanji tidak akan mengejar-ngejar lagi asal wujudnya dikembalikan ke wujud semula. Saat itu juga Batara Guru kembali dari wujud raksasa ke wujud semula. Kemudian Batara Guru pulang ke Sorgaloka sedangkan Dewi Tanara kembali ke negrinya. Keadaan di Sorgaloka kembali tenteram, Batara Narada disuruh Batara Guru untuk mengamankan spermanya yang jatuh ke tanah, akan tetapi setelah sperma itu dibuang ke laut malah menjelma menjadi seorang raksasa yang bernama Batara Kala.

Batara Kala diberitahu oleh Semar bahwa Batara Guru adalah ayahnya. Pergilah Batara Kala ke negeri Sorgaloka menjumpai Batara Guru dan minta makanan dari jenis daging manusia. Batara Guru mengabulkan permintaannya dengan syarat hanya beberapa dari jenis daging manusia diantaranya ialah orang yang berstatus anak tunggal, orang yang berstatus kadana kadini ( hanya bersaudara kakak beradik laki-laki dan perempuan atau perempuan dan laki-laki ), orang yang berstatus nanggung bugang (kakak dan adik meninggal dunia), orang yang berstatus anak mungku (hanya tiga bersaudara dua perempuan satu laki-laki atau sebaliknya), orang-oarang yang dilahirkan pada waktu malam hari, orang-orang yang bepergian pada waktu maghrib, akan tetapi batara Guru memberikan larangan bahwa orang yang sedang berada di arena pagelaran wayang, tidak boleh dimakan. Orang-orang di bumi kalang kabut, takut kepada Batara Kala, Batara Guru bingung memikirkan nasib manusia di bumi yang ketakutan kepada Batara Kala dan mungkin akan habis dimakan olehnya. Maka turunlah Batara Guru dengan rombongannya ke bumi menyamar menjadi kelompok penabuh wayang. Batara Guru sendiri menjadi dalangnya, dengan sebutan dayang Longlongan.

Naskah Kuno Layang Buana Wisesa

Nama Pemegang naskah : Adang. Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu Kec. Sukawening. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 16 x 21 cm. Ruang tulisan : 15 x 17 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 79 Halaman. Jumlah baris per halaman : 15 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 14 dan 17 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : tumpul. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : putih kecoklat-coklatan. Keadaan kertas : tipis halus. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Konon ada dua orang kakak beradik bernama Buana dan Wisesa. Selam hidupnya antara keduanya selalu saling bertanya jawab masalah hidup dan mereka selalu berfikir mengenai nilai-nilai kehidupan. Buana bertempat tinggal di sebuah Kampung besar yang bernama Jembarngalah, sedangkan Wisesa bertempat tinggal di sebuah kampung kecil bernama Jamanngalah.

Pertanyaan pertama diajukan oleh Wisesa yang kemudian dijawab oleh Buana. Adapun pertanyaan itu berbunyi. Ketika hidup di dunia bagaimana asal muasalnya dan bagaimana kita lahir dari orang tua itu.

Kata Buana, kita berada di tujuh alam, dan melalui tujuh alam itu kita lahir ke dunia. Ketujuh alam itu adalah alam akhadiat, alam wahdat, alam wahidiat, alam arwah, alam ajam, alam missal, dan alam insane kamil.

Selanjutnya Buana mengajukan pertanyaan kepada Wisesa yang isinya, Apa yang akan ditempuh oleh orang yang akan meninggal dunia Wisesa menerangkan bahwa jalan yang akan ditempuh oleh orang yang akan mati melalui tujuh alam yang berlambangkan dalam tubuh kita sendiri yaitu lidah, telinga, hidung, mata, kulit, otak dan kemaluan. Kepada tujuh anggota badan itulah kita mengabdi selama hidup.

Karena kesenangan di akherat nanti sangat tergantung pada penggunaan ketujuh anggota badan itu, yaitu apakah diabdikan kepada kehidupan duniawi saja ataupun bagi kepentingan hidup di akherat nanti, maka Wisesa memberi nasehat agar kita jangan terlalu mementingkan kehidupan di dunia saja.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh Wisesa setelah menajwab pertanyaan Buana, Apa yang dapat dibawa dari kehidupan di dunia untuk kepentingan hidup di akherat nanti Buana menerangkan bahwa ada lima hal pekerjaan di dunia, yaitu yang dilakukan oleh mata, hidung, telinga, mulut dan otak. Kelima pekerjaan itu seperti dilambangkan oleh Rukun Islam. Keterangan mengenai Rukun Islam oleh Buana dijelaskan dengan panjang lebar.

Nasehat-nasehat dari dua orang kakak beradik itu sangat penting buat kita yang pokoknya dalam hidup itu kita harus saling asah, saling asuh dan saling asih.

Naskah Kuno Rawa Nabi

Nama Pemegang naskah : Adang. Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu Kec. Sukawening. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 16 x 21 cm. Ruang tulisan : 12 x 17 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 336 Halaman. Jumlah baris per halaman : 15 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 14 dan 9 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : agak tajam. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas daluang. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : kecoklat-coklatan. Keadaan kertas : halus, agak tebal. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Dikisahkan kabilah kaum Qurais yang hendak berdagang ke negeri Esam dipimpin oleh seorang kepala rombongan bernama Abu Jahal. Rombongan kabilah semuanya menunggang unta. Namun tiba-tiba unta yang ditunggangi Abu Jahal di paling depan tidak mau maju. Abu Jahal berusaha memaksa unta supaya melangkah, unta itu tetap diam bahkan menjatuhkan Abu Jahal dari punggungnya. Abu Jahal terjatuh dari punggung unta hingga pingsan. Selanjutnya Abu Jahal disarankan teman-temannya agar ganti naik unta. Abu Jahal menaiki unta lain, tetapi memasrahkan jabatan kepala rombongan kepada Alobah.

Ketika rombongan melanjutkan perjalanan tiba-tiba Alobah, kepala rombongan yang paling depan, diserang seekor harimau. Unta yang ditungganginya menjadi sasaran terkaman harimau itu. Abu Bakar yang ikut serta dalam rombongan itu berkata dalam hati. Ki Alobah, sebenarnya harimau itu hendak menerkammu, tetapi unta itu telah bela pati menjadi perisai.

Keesokan harinya yang menjadi kepala rombongan Ki Kosim. Konon malaikan Jibril turun dari langit kealam dunia membawa unta dari surga. Unta itu ditungganginya mendahului Ki Kosim. Unta yang ditunggangi malaikat adalah unta betina, sedangkan yang ditunggangi Ki Kosim adalah unta jantan. Ketika unta jantan yang ditunggangi Ki Kosim melihat unta betina itu, maka unta Ki Kosim berlari mengejar unta yang ditunggangi malaikat meninggalkan rombongan. Seketika anggota rombongan merasa heran jalan menjadi rata. Jibril dan untanya tiba-tiba menghilang tanpa ada yang tahu seorang pun. Ki Kosim bingung, jalan mendadak buntu. Semua menjadi tambah kaget, jalan menjadi hutan belantara. Tiba-tiba Abu Jahal berkata, hal ini pasti karena Muhammad ikut rombongan kita. Kemudian dari belakang Abu Bakar menyela, hai Abu Jahal , jangan sekali-sekali kau bicara asal bunyi. Muhammad itu bukan orang sembarangan, jika kamu tahu. Coba bila kamu beri ia kesempatan menjadi kepala rombongan mungkin kita tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Kemudian Abu Jahal pun menuruti saran Abu Bakar dan Muhammad disetujui menjadi kepada rombongan menggantikan Ki Kosim. Maka ketika Muhammad menjadi kepala rombongan hutan belantara berubah menjadi jalan yang bagus, air, makanan dan buah-buahan banyak. Semua rombongan bergembira.

Dalam perjalanan pertama, Nabi dengan rombongannya dicegat oleh ular besar, tapi semua ular itu tunduk pada Nabi. Perjalanan kedua dicegat oleh seekor singa, tapi singa itu pun hormat dan sepertinya mengakui kerosulan Muhammad. Perjalanan ke negeri Esam dilanjutkan kembali hingga tiba pada sebuah rumah seorang Kyai yang sudah tua. Kyai itu bernama Syahroh, kerjanya mempelajari kitab-kitab Jabur, Tauret dan Injil. Ternyata Kyai Sahroh telah mengetahui kerosulan Muhammad. Dikisahkan perjalanan ke negeri Esam tinggal kurang lebih setengah hari lagi. Diceritakan di negeri Esam ketika kangjeng Nabi hamper tiba sekitar 3 pal lagi di kota Esam, orang-orang penduduk Esam merasa heran ketika terlihat cahaya menyebar ke kota Esam. Singkat cerita kangjeng Nabi sampai ke kota Esam, tampak cahaya kangjeng Nabi gemerlapan, kelap-kelip. Orang-orang pada bengong campur kaget. Di negeri Esam terang benderang. Burung-burung melayang-layang bolak-balik di atas negeri Esam seolah mengelilingi kota itu dan menandakan nabi telah datang. Pepohonan tiba-tiba keluar tunas, daun dan kembang. Orang-orang semakin kaget, apa sebab terjadi demikian. Diceritakan raja Esam pun telah melihat semua kejadian itu. Kemudian raja memanggil seorang ahli nujum dan menanyakan kejadian itu. Ahli nujum tadi menjelaskan bahwa hal itu sebagai tanda bakal datang ke negeri Esam seorang ratu sealam dunia.

Kemudian raja berdandan pakaian kebesaran hendak menyambut kedatangannya. Maka kangjeng Nabi beserta rombongan disambut dengan hormat oleh raja Esam dan di tempatkan di sebuah gedung mewah. Orang-orang negeri Esam hormat dan santun kepda kangjeng Nabi. Selama melakukan perdagangan di negeri Esam barang dagangan milik kangjeng Nabi laris sekali. Banyak penduduk tertarik untuk membelinya. Pada suatu hari ada 4 orang kafir yang telah mengetahui kerasulan Muhammad. Mereka membencinya dan hendak membunuh kangjeng Nabi. Dicarilah akal, mereka bermusyawarah. Dengan pura-pura hendak membeli barang dagangan kangjeng Nabi karena tertarik, disuruhlah kangjeng Nabi datang ke rumah orang-orang kafir sambil membawa dagangannya. Singkat cerita kangjeng Nabi sampai di rumah orang kafir itu dan disuruh duduk di kursi dekat pintu. Keempat orang kafir itu sangat santun dan hormat kepada kangjeng Nabi. Disuguhkanlah kangjeng Nabi makanan-makanan ringan. Sementara kangjeng Nabi mencicipi makanan itu, seorang dari empat orang kafir itu naik persis di atas pintu dimana kangjeng Nabi duduk. Rupanya mereka telah bersiasat jauh-jauh sebelumnya. Kangjeng Nabi disuruh duduk di dekat pintu, di atasnya telah disimpan sebongkah batu yang akan dijatuhkan sehingga menimpa kangjeng Nabi yang ada di bawahnya. Itulah rekayasa keempat orang kafir itu. Tetapi rencana mereka tidak berhasil karena batu yang akan ditimpakan kepada kangjeng Nabi tidak mampu digeserkan oleh orang kafir itu. Bahkan batu itu menjepitnya hingga tidak bisa keluar. Sampai ketiga orang temannya mengetahui kejadian itu. Pada akhirnya orang yang terjepit itu hanya bisa ditolong oleh kangjeng Nabi sendiri, setelah ia mengakui niat jahatnya.

Naskah Kuno Suryakanta

Nama pemegang naskah : Duki bin Saleh. Tempat naskah : Desa Cigagade Kec. Balubur Limbangan. Asal naskah : pemberian. Ukuran naskah : 17 x 22 cm. Ruang tulisan : 14 x 19 cm. Keadaan naskah : relatif baik. Tebal naskah : 241 Halaman. Jumlah baris per halaman : 12 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 11 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : tumpul. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas tidak bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : kecoklatan. Keadaan kertas : tebal. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi:

Adalah sebuah kerajaan Tanjung Karoban Bagendir yang jauhnya dari kerajaan Banurungsit tujuh bulan perjalanan. Raja Tanjung Karoban Bagendir bernama Dengali dengan patihnya Dungala yang kedua-duanya siluman. Raja Dengali mempunyai istri dua orang, Kala Andayang dan Kala Jahar. Pada suatu hari Raja Dengali didatangi oleh Emban Turga, Emban melaporkan bahwa kerajaan Nusantara baru saja dikalahkan oleh Raden Suryaningrat dari kerajaan Erum. Emban Turka terpikat oleh ketampanan dan kegagahan Raden Suryaningrat. Tatkala ia menyatakan cintanya, serta merta ditolak oleh Raden Suryaningrat, bahkan Emban Turga diusir. Emban Turga mohon bantuan Raja Dengali agar memperoleh Raden Suryanigrat untuk dijadikan suami. Raja Dengali menjanjikan akan membantu menangkap Raden Suryaningrat. Ia menyuruh seorang raksasa untuk mencuri putra mahkotanya bernama Suryakanta. Raden Suryakanta dapat diculik ketika sedang bermain ditaman. Maka hebohlah kerajaan Erum dan Nusantara karena kehilangan putra mahkota. Istri raja yang bernama Ningrumkusumah diusir karena dianggap dialah yang menjadi sebab hilangnya Raden Suryakanta. Ningrumkusumah pergi tanpa tujuan. Dalam perjalanannya ia sampai ke tempat pertapaan Pandita Syeh Rukmin,yang memberitahu bahwa ia telah difitnah oleh seseorang yang bernama Jamawati.

Untuk membalas dendam kepada yang memfitnah dan mendapatkan kembali Raden Suryakanta yang diculik atas perintah Raja Dengali, Ningrumkusumah harus berganti nama menjadi Jaya Komara Diningrat atau Jaya Lalana Di Ningrat. menyamar seolah-olah menjadi laki-laki.

Ningrumkusumah alias Jaya Komara dapat membunuh Raja Dengali dan Emban Turga. Tetapi untuk menemukan kembali Raden Suryakanta, ia harus mengalami bermacam-macam kesengsaraan dan peperangan. Dalam peperangan yang terjadi, Ningrukusumah selalu menang. Di setiap negara yang dikalahkannya, raja dan pemeluknya diharuskan memeluk agama Islam, diantaranya kerajaan Yunan, Turki, Raja Bahrain, Raja Gosman. Prabu Suryaningrat sepeninggalan Ningrumkusumah jatuh sakit. Ia selalu teringat kepada istrinya dan menyesali kepergiannya. Ditambah lagi putra kesayangannya Suryakanta belum ditemukan juga. Ia tidak menyangka bahwa Ningrumkusumah telah difitnah oleh Jamawati, istrinya yang lain.

Lama-kelamaan Raja Suryaningrat mengetahui dari seorang mentri bahwa Jamawati lah yang telah memfitnah Ningrumkusumah. Raden Suryaningrat sangat marah kepada Jamawati dan terbukalah bahwa yang telah mencuri Suryakanta adalah Raja Dengali atas permintaan Emban Turga.

Raden Suryaningrat menantang perang kepada Raja Dengali dari Kerajaan Tanjung Karoban Bagendir. Berkat kegagahan Ningrumkusumah dan Ratna Wulan (keduanya istri Raden Suryaningrat), Dengali dikalahkan dan Suryakanta kembali.

Naskah Kuno Walangsungsang

Nama Pemegang naskah : Imas Darwati. Tempat naskah : Desa Tegalsari Kec. Wanaraja. Asal naskah : pemberian dari Ny. Titi, Cinunuk Garut. Ukuran naskah : 17 x 21.5 cm. Ruang tulisan : 11 x 15 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 266 Halaman. Jumlah baris per halaman : 13 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 14 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : tajam. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas tidak bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : kekuning-kuningan. Keadaan kertas : tebal, halus. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Prabu Siliwangi, raja Padjadjaran mempunyai dua orang putra, yang sulung laki-laki bernama Walangsungsang, dan adiknya perempuan bernama Rara Santang. Disamping kedua putranya itu, Baginda mempunyai putra yang lainnya pula sebanyak sembilan orang. Tetapi mereka meloloskan diri dari keratin. Kesembilan putranya itu terdiri atas lima orang laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka bertapa di Gunung yang saling berjauhan. Seorang putranya laki-laki bertapa di Jakarta, yang lain di Tanjung Kuning bernama Santang Partala, sedang yang lainnya lagi bernama Garantang Setra, Ishu Gumare di Lebak dan Sang Sekarsari. Adapun putra-putranya yang perempuan adalah Nyi Tanjung Buana betapa di Pesisir Barat, Nyi Gending Juri atau Nyi Panjang Nagara di pesisir Selatan, Nyi Ratu di Kawali, dan Nyi Sekar Bang di Karang Pangantik.

Pada suatu malam Walangsungsang bermimpi. Dalam mimpi ia bertemu dengan Rosul yang menganjurkan agar pergi menuju Gunung Amparan dan menemui Syeh Jati, seorang guru dari Mekah. Keesokan harinya Walangsungsang memberikan impiannya itu kepada ayahnya. Prabu Siliwangi setelah mendengar pembicaraan Walangsungsang sangat murka. Lalu Walangsungsang berjalan menuju Karawang menemui Syeh Orah, yaitu seorang guru keturunan Qurais yang menganggap guru kepada Syeh Gunung Jati.

Atas petunjuk Syeh Ora, Walangsungsang pergi menuju Gunung Amparan untuk berguru kepada Syeh Nurjati. Tetapi di tengah perjalanan ia singgah dulu di padepokan agama Budha. Ia belajar agama Budha dari Pandita Danuwarsi sampai paham betul tentang seluk-beluk agama itu.

Dikisahkan Rara Santang akhirnya melaksanakan pula pesan kakaknya. Ia meninggalkan keraton menyusul Walangsungsang. Di Gunung Tangkuban Perahu ia bertemu dengan Nyai Indang Sakiti, yakni adik Prabu Siliwangi. Dari Nyai Indang, Rara Santang memperoleh hadiah azimat baju antakusumah. Khasiat baju tersebut, barang siapa yang memakai baju tersebut maka ia dapat terbang. Kemudian Rara Santang berganti nama menjai Nyi Batin. Ia meninggalkan Gunung Tangguban Perahu dan pergi ke Gunung Cilawung, atas anjuran Nyi Indang Sakiti. Di Gunung Cilawung Nyi Batin bertemu dengan Sang Banjaran Angganati, seorang pendeta. Sebuah nama diberikan oleh pendeta itu kepada Nyi Batin, ialah nama Nyi Eling.

Pertemuan kakak beradik, Walangsungsang dan Rara Santang terjadi di tempat kediaman pendeta Danu Wargi. Pendeta itu mempunyai seorang anak perempuan bernama Nyi Endang Geulis yang kemudian dikawin oleh Walangsungsang. Walangsungsang diberi sebentuk cincin ampil ali-ali dan nama baru yakni Samadulahi. Walangsungsang terus mencari guru agama Islam. Sampai ada petunjuk terus melanjutkan perjalanan ke Gunung Jati. Petunjuk itu datang dari raja Bango yang berhasil ditaklukan Walangsungsang ketika ia akan mendapatkan azimat berupa pandil baja. Di Gunung Jati ada Syeh Nurjati, nama lainnya Syeh Nurbayan, cucu Nabi Muhammad. Putra raja Padjadjaran itu menyatakan tunduk kepada Syeh Nurjati dan ia berguru agama Islam. Syeh Nurjati memberi nama kepada Walangsungsang, Cakrabumi.

Pada suatu waktu Syeh Nurjati menengok Walangsungsang di Sembung Luwung. Saat itulah Syeh Nurjati menyuruh Walangsungsang dan Rara Santang untuk pergi ke Baitulloh. Kemudian kedua kakak beradik itu pergi ke Mekah dengan membawa sepucuk surat dari Syeh Nurjati yang dialamatkan kepada Syeh Bayan. Kepada Syeh Bayan inilah Walangsungsang berguru agama Islam.

Dikisahkan Rara Santang diperistri oleh raja Mesir dan mempunyai dua orang anak, ialah Syarif Hidayat dan Syarif Arifin. Adapun Walangsungsang setelah diberi Sorban oleh raja Mesir dan perbekalan di Arab kembali lagi ke Pulau Jawa dengan Nama Abdul Keman. Dalam perjalanannya ia singgah dulu di Aceh. Di sana ia mengobati Sultan Kut dan kawin dengan anak sultan itu.

Diceritakan oleh yang empunya cerita bahwa Syarif Hidayat mencari Nabi Muhammad. Atas pertolongan Abdul Safari dengan memberikan dua buah barang yang berasal dari Malaikat Jibril. Syarif Hidayat dapat mengadakan perjalanan Miraj. Ia bertemu dengan Nabi Muhammad dan mengadakan percakapan tentang rahasia hidup dan mati. Atas perintah Nabi Muhammad. Syarif Hidayat akhirnya pergi ke Gunung Jati di Pulau Jawa dan berjumpa lagi dengan ibunya, Rara Santang yang sudah pulang dari Mesir, di Cirebon. Sebelum ia bermukim di Gunung Jati dengan nama Sunan Jati Purba, ia pernah berkelana di Jawa, Madura, Palembang dan Cina.

Babad Limbangan

Nama pemegang naskah : R. Sulaeman Anggapradja. Tempat naskah : Jln Ciledug 225 Kel. Kota Kulon. Kec Garut Kota. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 20.5 x 32 cm. Ruang tulisan : 17 x 17 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 16 Halaman. Jumlah baris per halaman : 39 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 39 dan 23 baris. Huruf : Latin. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : agak tajam . Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas bergaris ukuran folio. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : putih. Keadaan kertas : agak tebal, halus. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Pada zaman dahulu kala Prabu Layaran Wangi (Prabu Siliwangi) dari kerajaan Pakuan Raharja mempunyai seorang pembantu bernama Aki Panyumpit. Setiap hari Aki Panyumpit diberi tugas berburu binatang dengan menggunakan alat sumpit (panah) dan busur.

Pada suatu hari Aki Panyumpit pergi berburu ke arah Timur. Sampai tengah hari ia belum memperoleh hasil buruannya, padahal telah banyak bukit dan gunung didaki. Sesampainya di puncak gunung, ia mencium wewangian dan melihat sesuatu yang bersinar di sebelah Utara pinggir sungai Cipancar. Ternyata harum wewangian dan sinar itu keluar dari badan seorang putri yang sedang mandi serta mengaku putra Sunan Rumenggong, yaitu Putri Rambut Kasih penguasa daerah Limbangan. Peristiwa pertemuan dengan Nyi Putri dari Limbangan dikisahkan oleh Aki Panyumpit kepada Prabu Layaran Wangi. Berdasarkan peristiwa itu Prabu Layaran Wangi menamai gunung itu Gunung Haruman (haruman = wangi). Prabu Layaran Wangi bermaksud memperistri putri dari Limbangan. Ia mengirimkan Gajah Manggala dan Arya Gajah (keduanya pembesar Pakuan Raharja).

Aki Panyumpit serta sejumlah pengiring bersenjata lengkap untuk meminang putri tersebut dengan pesan lamaran itu harus berhasil dan jangan kembali sebelum berhasil. Kendati pun pada awalnya Nyi Putri menolak lamaran tetapi setelah berhasil dinasehati Sunan Rumenggong, ayahnya, akhirnya menerima dijadikan istri oleh Prabu Layaran Wangi. Selang 10 tahun antaranya, Nyi Putri (Rambut Kasih) mempunyai dua orang putra dari Raja Pakuan Raharja, yaitu Basudewa dan Liman Senjaya. Kedua anak itu dibawa ke Limbangan oleh Sunan Rumenggong (kakeknya) dan kemudian dijadikan kepala daerah di sana. Basudewa menjadi penguasa Limbangan dengan gelar Prabu Basudewa dan Liman Senjaya penguasa daerah Dayeuh Luhur di sebelah Selatan dengan gelar Prabu Liman Senjaya.

Di kemudian hari Prabu Liman Senjaya setelah beristri membuka tanah, membuat babakan pidayeuheun (kota) dan lama kelamaan dibangun sebuha Negara dengan nama Dayeuh Manggung. Negara baru ini bisa berkembang sehingga dikenal baik oleh tetangga-tetangganya, seperti Sangiang Mayok, Tibanganten, Mandalaputang. Dayeuh Manggung terkenal karena keahlian dalam membuat tenunan. Rajanya yang lain yang termashur adalah Sunan Ranggalawe.

Naskah Kuno Samaun

Nama Pemegang naskah : Aki Ebeng. Tempat naskah : Desa Cikelet Kulon Kec. Cikelet. Asal naskah : warisan. Ukuran naskah : 16.3 x 21 cm. Ruang tulisan : 14 x 19 cm. Keadaan naskah : hilang sebagian. Tebal naskah : 72 Halaman. Jumlah baris per halaman : 16 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 14 dan 16 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : biru. Bekas pena : tumpul. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : putih. Keadaan kertas : halus, agak tebal. Cara penulisan : timbal balik. Bentuk karangan : puisi.


Ringkasan isi :

Nyi Siti Huna di negeri Mekah bersuamikan Ki Halid. Mereka masih menyembah berhala. Karena putranya yang sembilan orang itu perempuan semua, mereka selalu berdoa agar dikaruniai anak laki-laki. Permohonan kedua suami istri itu dikabulkan, maka lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Samaun. Begitu anak itu dilahirkan, kemudian berlari keluar rumah dan bersujud kepada Allah sambil mengucapkan kalimat syahadat. Nyi Siti Huna sangat terkejut, apalagi ketika disuruh menyusu tidak mau bahkan berkata tidak mau menyusu karena ibunya seorang kafir. Demi kebahagiaan anaknya, Kemudian Siti Huna masuk Islam Dan mengucapkan syahadat. Di tempat tidur Samaun selalu bercakap-cakap dengan ibunya. Ki Halid melihat kenyataan bahwa anaknya baru tiga hari sudah dapat berbicara dan meminta agar ayahnya masuk Islam, maka Ki Halid pun masuk Islam dan mengucapkan syahadat.

Nabi Muhammad mendengarkan ada anak yang baru dilahirkan sudah dapat berbicara dan kedua orang tuanya sudah masuk Islam, berkenan pergi melayat. Samaun dipangku dan dicium nabi Muhammad. Abu Jahal mendengar Nabi Muhammad telah melayat keluarga Ki Halid, berkenan pula pergi menengok Samaun. Akan tetapi, baru saja Abu Jahal masuk di pekarangan. Samaun berteriak-teriak mengancam sehingga Abu Jahal lari pontang-panting. Atas kelakuan Samaun semacam itu menimbulkan kemarahan Abu Jahal. Patih Surakah dimintai tolong oleh oleh Abu Jahal agar Nabi Muhammad dan samaun diusir dari Mekah. Ketika diadakan pembicaraan bagaimana caranya mengusir Samaun, ternyata tidak ada yang sanggup. Oleh karena itu Abu jahal meminta bantuan kepada Kin Wan raja di negeri Iskandar.

Sebelum Kin Wan datang melapor ke Abu jahal akan menangkap Samaun dilewatinya rumah Samaun itu. Kin Wan terpancing pertengkaran mulut dengan Samaun sehingga kemudian berkelahi dan Kin Wan terbunuh. Rakyat Mekah geger menyaksikan Kin Wan terbunuh itu. Abu Jahal bertambah marah, dikumpulkannya tentara dan dikepungnya rumah Samaun. Akan tetapi setiap orang yang akan menangkap Samaun selalu mati terbunuh.

Pada suatu ketika Samaun bertemu dengan Abu Jahal di pasar. Terjadilah percakapan yang tidak mengenakkan Abu Jahal, apalagi setelah Samaun berkata agar putrinya diberikan untuk dijadikan istri. Samaun masuk ke rumah Abu Jahal. Di rumah Abu Jahal Samaun menjumpai dua orang wanita dan satu diantaranya adalah putri Abu jahal, kedua orang wanita itu kemudian masuk Islam dan dibawa ke rumah Samaun. Abu Jahal bukan main berangnya, tetapi ia bingung pula memikirkan bagaimana cara mengusir Samaun dan nabi Muhammad.

Tersebutlah di negeri Swara yang dirajai oleh Kobti mempunyai seorang putri bernama Siti mariyah, walaupun sudah dilamar oleh banyak raja, tetapi selalu ditolak oleh ayahnya, Siti Mariyah menyuruh orang untuk datang kepada Nabi Muhammad. Siti Mariyah meminta Nabi Muhammad agar datang melamarnya. Mula-mula Nabi Muhammad bingung, tetapi setelah mendapat restu dari Siti Aisyah, istrinya, dan pula setelah mendapat wahyu maka berangkatlah Nabi Muhammad berikut pengikutnya ke negari Swara. Raja Swara tidak senang atas kedatangan Nabi Muhammad itu dan terjadilah peperangan. Peperangan atas kedua belah pihak akhirnya dimenangkan oleh tentara Nabi Muhammad meskipun jumlah tentara Kobti lebih banyak. Samaun dalam peperangan ini bukan main berjasanya, bahkan Siti Mariyah putri raja Kobti pun dapat dibawa lari oleh Samaun, yang kemudian diserahkan kepada Nabi Muhammad. Raja Kobti berikut para pengawalnya mati terbunuh oleh Ali, sahabat Nabi. Para prajurit Kobti yang masih hidup bersama-sama Siti Mariyah kemudian masuk Islam. Seluruh harta kekayaan negeri Kobti dibawa ke negeri Mekah dan diperlakukan sebagai barang gonimah

Naskah Kuno Suryaningrat

Nama pemegang naskah : Duki bin Saleh. Tempat naskah : Desa Cigagade Kec. Balubur Limbangan. Asal naskah : salinan. Ukuran naskah : 17 x 22 cm . Ruang tulisan : 14 x 18 cm. Keadaan naskah : baik. Tebal naskah : 269 Halaman. Jumlah baris per halaman : 13 baris. Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 10 baris. Huruf : Arab/Pegon. Ukuran huruf : sedang. Warna tinta : hitam. Bekas pena : agak tajam. Pemakaian tanda baca : ada. Kejelasan tulisan : jelas. Bahan naskah : kertas bergaris. Cap kertas : tidak ada. Warna kertas : putih kekuning-kuningan. Keadaan kertas : tipis halus. Cara penulisan : timbal balik . Bentuk karangan : puisi.

Ringkasan isi :

Tersebutlah sebuah kerajaan yang bernama Banurungsit. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja bernama Suryanagara. Ia mempunyai seorang putra bernama Suryaningrat. Suryaningrat beristri Ningrumkusumah, putra patih. Setelah Raja Suryanagara meninggal, Raden Suryaningrat diangkat menjadi raja. Ternyata pengangkatan tersebut tidak dikehendaki oleh Raja Duryan. Kerajaan Banurungsit diserang Raja Duryan yang mendapat dukungan rakyat Banurungsit. Dalam peperangan yang terjadi Suryaningrat kalah, lalu ditangkap dan dipenjarakan sedangkan istrinya, Ningrumkusumah dipaksa untuk menjadi istri raja Duryan.

Dengan menggunakan ilmu sirep, Ningrumkusumah berhasil membebaskan suaminya. Kemudian mereka melarikan diri ke hutan. Mereka terus berkelana sampai akhirnya tiba di wilayah negara Durselam. Ketika sedang mandi di sebuah Taman yang indah, Ningrumkusumah dilihat patih Indra Bumi yang ditugaskan oleh raja Durselam mencarikan wanita cantik untuk dijadikan istrinya. Dalam perjalanan menuju ibukota Durselam, Suryaningrat ditenggelamkan ke dalam sungai oleh Demang Langlaung. Meskipun suaminya Suryaningrat telah tenggelam dibawa arus sungai, Ningrumkusumah mencari suaminya menyusuri sungai. Dalam perjalanan mencari suaminya, Ningrumkusumah mendapat keris pusaka bernama Bantal Nogar dari seorang pertapa berasal dari tanah Arab yang bernama Syeh Rukman. Menurut petunjuk pertapa untuk dapat bertemu kembali dengan suami, Ningrumkusumah harus menyamar menjadi seorang laki-laki dengan nama Raden Rukmantara. Raden Rukmantara terlibat perang dengan pasukan Duryan yang menguasai Banurungsit. Raja Duryan sedang mencari Raden Suryaningrat dan Ningrumkusumah. Dalam perang tersebut Raden Rukmantara menang.

Raden Rukmantara melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan ia sempat ke Negara Erum yang diperintah oleh Sri Amangkurat. Raja ini mempunyai seorang putri cantik bernama Ratna Wulan. Ratna Wulan jatuh cinta kepada Raden Rukmantara yang tidak mengetahui bahwa sebetulnya orang itu adalah wanita. Raden Rukmantara pura-pura mau. Akhirnya mereka menikah. Raden Rukmantara diangkat menjadi raja negara Erum.

Prabu Kandi, raja negara Esam, yang ditolak lamarannya oleh putri Ratna Wulan menantang perang kepada negara Erum. Raden Rukmantara berhasil mengalahkan Prabu Kandi berkat tuah senjata pemberian Syeh Rukman. Prabu Kandi sendiri yang telah dikalahkan oleh Rukmantara dipaksa untuk menganut agama Islam.

Raden Suryaningrat yang hanyut di sungai telah sampai ke sebuah puli Peri yang dikuasai oleh Naga Giri. Raden Suryaningrat dapat meninggalkan Nusa Ipri dan sampailah ke negara Erum. Raden Rukmantara alias putri Ningrumkusumah yang sedang mencari suaminya membuat sayembara di negara Erum dengan memasang gambarnya yang sedang menangisi Raden Suryaningrat. Barangsiapa yang melihat gambarnya yang sedang menangis harus membawanya ke istana. Melalui gambar tersebut Raden Suryaningrat dapat bertemu kembali dengan istrinya, Ningrumkusumah. Selanjutnya Ratna Wulan dijadikan istri kedua oleh Raden Suryaningrat.

Ringkas cerita,setelah semua musuh dapat dikalahkan dan mereka diampuni bahkan diangkat menjadi senapati di negara asal masing-masing, Raden Suryaningrat dengan istrinya hidup tentram di negara Banurungsit.

Orang Sunda, Target Kristenisasi No.1 Di Dunia

|10 waleran
Akhir November 2010, International Crisis Group (ICG) merilis laporan berkode “Asia Briefing N°114” yang sangat mengejutkan.

Secara blak-blakan, lembaga yang bermarkas di Brussels Belgia ini mempublikasikan hasil investigasi yang panjang dari berbagai sumber bahwa akar masalah di balik insiden Ciketing itu adalah maraknya gerakan kristenisasi di Bekasi yang sebagian didanai dari luar negeri.

Dalam laporan berjudul “Indonesia: ‘Christianization’ and Intolerance” itu, ICG menyimpulkan bahwa salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antar umat beragama di Indonesia adalah agresivitas Kegiatan penginjilan di daerah Muslim (Aggressive evangelical Christian proselytizing in Muslim strongholds).

"Mereka menjadikan orang-orang muslim yang miskin sebagai objek pemurtadan. Yayasan Kaki Dian Emas mewajibkan setiap siswa sekolahnya mengkristenkan lima orang sebagai syarat kelulusan."

“On the Christian side, several evangelical organizations committed to converting Muslims have also set up shop in Bekasi, some funded internationally, others purely home-grown. Yayasan Mahanaim, one of the wealthiest and most active, is particularly loathed by the Islamist community because of its programs targeting the Muslim poor. Another, Yayasan Bethmidrash Talmiddin, run by a Muslim convert to Christianity, uses Arabic calligraphy on the cover of its booklets, suggesting they are Islamic in content, and requires every student at its school as a graduation requirement to convert five people,”

(Di pihak Kristen, beberapa organisasi penginjil yang berkomitmen untuk mengkristenkan Muslim ada di Bekasi, beberapa didanai dari luar negeri, yang lain murni lokal. Yayasan Mahanaim, salah satu organisasi neo-Pantekosta yang paling bonafit serta aktif, sangat dibenci kaum muslim garis keras karena program-programnya menjadikan orang-orang muslim yang miskin sebagai objek pemurtadan. Sebelumnya, Yayasan Kaki Dian Emas, yang dijalankan oleh pendeta yang tadinya muslim, menggunakan kaligrafi Arab pada sampul-sampul publikasinya, seolah-olah isinya mengenai Islam, dan mewajibkan setiap siswa sekolahnya mengkristenkan lima orang sebagai syarat kelulusan).

Lebih jauh, ICG memperingatkan bahwa gerakan kristenisasi itu bisa memicu lahirnya gerakan jihadis yang mereka sebut dengan istilah teroris dan ekstremis, yang dilakukan oleh para aktivis anti pemurtadan.

[demikian laporan ICG tertanggal 24 November 2010]

Dalam sub-judul “Christianization: The Reality,” ICG memaparkan fakta-fakta gerakan kristenisasi. Kristenisasi di Indonesia bukanlah isu, melainkan fakta dan diprogram oleh lembaga resmi gereja, dengan membidik Jawa Barat sebagai target utama.

Pada halaman 2, ICG melaporkan, dalam wawancara di Jakarta tanggal 10 Oktober 2010, salah seorang pengurus PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), mengakui adanya lembaga Kristen besar yang menjadikan Jawa Barat dan Banten sebagai target penginjilan:

“An official at the Indonesian Communion of Churches, a Protestant umbrella organization, said the big evangelical organizations were deliberately targeting West Java and Banten, the provinces that ring Jakarta, in the hope that a pincer movement of proselytisation would eventually gain them a bigger foothold in the capital.”

"Christianization: The Reality! Kristenisasi di Indonesia bukanlah isu, melainkan fakta dan diprogram oleh lembaga resmi gereja, dengan membidik Jawa Barat sebagai target utama penginjilan."

Beberapa lembaga penginjilan internasional yang membidik Urang Sunda, di antaranya adalah:

1. Joshua Project.
lembaga penginjilan internasional yang menargetkan komunitas etnis mayoritas nonkristen di seluruh dunia. Orang Sunda tak luput dari bidikannya, karena dianggap sebagai salah satu kelompok minoritas, dengan populasi Kristen kurang dari 2 persen.

2. Beja Kabungahan (Lampstand).
lembaga yang dirintis sejak tahun 1969 oleh misionaris Amerika ini memfokuskan pendirian gereja dan penginjilan kepada suku Sunda di Jawa Barat. bukti niat busuk mereka bisa kita lihat dalam situsnya www.sunda.org 

www.sunda.org

3. Partners International (Mitra Internasional).
lembaga yang berbasis di Spokane, Washington ini juga menargetkan suku Sunda, Jawa Barat. Dalam operasinya, mereka bekerja melalui Evangelical Theological Seminary Indonesia (ETSI) dan Persekutuan Kristen Sunda. (sengaja direkayasa dengan mengumpulkan orang kristen luar sunda yang bisa dan mengerti bahasa sunda untuk mengelabui orang sunda asli)

4. Frontiers.
sebuah organisasi berbasis di Arizona ditujukan untuk menyebarkan kekristenan kepada umat Muslim di Jawa Barat.

5. Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI).
perwakilan dari lembaga penginjilan internasional The Orlando. Di Jawa Barat LPMI sangat aktif menyebarkan misi di kampus-kampus. Bulan Desember 2006 kelompok LPMI Malang Jatim bikin geger dengan melakukan ritual mengusir setan penghuni Al-Qur'an. Buntut pelecehan agama ini, 11 orang pendeta ditangkap dan divonis penjara masing-masing 5 tahun.

Selain itu, dua lembaga Kristen yang melakukan penginjilan secara radikal di Bekasi adalah Yayasan Mahanaim dan Yayasan Bethmidrash Talmiddin, dan masih banyak organisasi-organisai lain yang bertujuan serupa. (targetnya adalah Jawa Barat).

Wasiat: untuk saudara-saudaraku seaqidah, orang sunda maupun suku lainnya, pertahankan Aqidah Islamiyah sampai Mati..!!

Info terbaru dari beberapa Guru saya di Priangan Timur:
Kristenisasi juga saat ini mendanai pembangunan Masjid, Madrasah dan Pesantren dengan beberapa syarat. diantara syarat yang sering diminta adalah:

- Tanpa Pengeras Suara / Tanpa ada suara Adzan.
- Tanpa ada Bedug.
- Tanpa mengajarkan materi yang berbau Jihad.
- Tanpa Fan Tauhid. - lain-lain yang berhubungan dengan Aqidah dan Syiar Islam.

Donatur yang sedang gencar saat ini berasal dari Australia, mendanai Ormas, Agama, Parpol, Beberapa bidang Usaha Rakyat, Media Massa, Surat Kabar, Entertainment (beberapa acara televisi). - Agst 2012

Islam di Sunda geus sumebar 2 abad samemeh Wali 9

|1 waleran

“Tina naskah-naskah kuno bisa dicindekeun yen agama Islam teh saenyana geus sumebar di tatar Sunda jauh saméméh Dewan anu Salapan aya,” ceuk Undang Darsa, M.Hum., salah saurang ahli pilologi nu kawilang nyongcolang. Anu dimaksud Déwan Salapan ku ieu dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung téh taya lian iwal ti Wali 9.

Dina naskah Carita Parahyangan (abad ka-16 katompérnakeun) upamana disebutkeun di tatar Sunda anu munggaran ngagem agama Islam téh Bratalagawa, putra kadua Prabu Pangandiparamarta Jaya Déwabrata atawa Bunisora Suradipati. Bratalagawa téh sodagar anu mindeng lalayar ka nagara-nagara nu jauh: Sumatera, Cina, India, Srilanka, tepi ka Arab. tujuanana salian ti dagang teh nyaeta dek guguru deui kanu jajatena leuwih luhur atawa anu bisa ngelehkeun jajaten manehna.

Dina sajarah lokal di Cirebon, disebutkeun Bratalagawa sanggeus nganut agama Islam jeung ngalakonan ibadah hajidatang deui ka tatar Sunda taun 1337 Maséhi. Katelah ku sebutan Haji Baharudin nu sanggeus mukim di Cirebon sarta nyebarkeun Islam dijulukan Haji Purwa Galuh, dumeh Bratalagawa téh urang Galuh munggaran nu munggah haji.

Abad ka-15, kira-kira taun 1416 Maséhi, di Tanjungpura (Karawang) badarat ulama ti Campa (Viétnam), Syéh Hasanudin nu tadina milu ka rombongan armada Cina nu dipingpin ku Laksamana Chéng Ho. Di Karawang, Syéh Hasanudin nu katelah ku julukan Syéh Quro ngadegkeun pasantrén.

Dina waktu nu sajaman, di Pasambangan, Amparanjati, deukeut Palabuan Muarajati (Cirebon) mukim Syéh Datuk Kahfi. Sarua ngadegkeun pasantrén jeung nyebarkeun agama Islam. Taun 1470 Maséhi, Syéh Syarif Hidayatullah, nu ceuk sajarah lokal masih kénéh katurunan raja Sunda, nu lahir di Mesir, dumuk di Cirebon.

Ti paro abad ka-15, Islam beuki sumebar di tatar Sunda, lain ngan ukur di basisirna. “Anu diajarkeunana hakékat Islam, galeuhna atawa inti ajaran islam. Naskah-naskah ti abad-16 tepi ka abad ka-17, najan teu nyebutkeun ajaran Islam, eusi téks naskahna kandel pisan ajaran kaislamanana,” ceuk Undang Darsa.

Ku raja-raja Sunda, ceuk Undang Darso, sumebarna agama Islam di tatar Sunda, henteu dipandang hiji ancaman. “Nu matak Prabu Wastukencana teu ngaharu biru Haji Purwa, Syéh Quro, Syéh Datuh Kahfi nu nyebarkeun agama Islam di wewengkon Pantura Jawa barat. Asal ulah ku cara paksa pirusa, ulah tepika ngabalukarkeun riributan,” pokna.

Naon pangna raja-raja Sunda, babakuna sanggeus Wali Sanga ngalalakon, siga anu ngamusuhan ka Islam tepi ka dirurugna? “Sikep (raja-raja Sunda) kitu lain lain ditujukeun ka agamana. Ku Demak jeung Cirebon Islam geus dijadikeun kakuatan pulitik,” ceuk Prof. Dr. Edi S. Ekadjati suwargi dina salahsahiji tulisanana.

Undang Darsa nyebutkeun peperangan antara karajaan Sunda jeung Demak, Cirebon katut Banten lain perang agama, tapi perang pilitik. “Saacan aya Déwan Salapan, Islam téh geus sumebar ka wewengkon pagunungan bari meunang panangtayungan ti raja-raja Sunda. Atuh Sri Baduga Maharaja, dina sajarah lokal disebutkeun ngadahup ka Subanglarang nu geus ngagem Islam,” pokna.

Pangeran Cakrabuana, Raden Syarif Hidayatullah, Prabu Kian Santang

|6 waleran
Pangeran Cakrabuana, Raden Syarif Hidayatullah, Prabu Kian Santang : Tiga Tokoh Penyebar Ajaran Agama Islam di Tanah Pasundan


Berbicara tentang proses masuknya Islam (Islamisasi) di seluruh tanah Pasundan atau tatar Sunda yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, maka mesti berbicara tentang tokoh penyebar dari agama mayoritas yang dianut suku Sunda tersebut. Menurut sumber sejarah lokal (baik lisan maupun tulisan) bahwa tokoh utama penyebar Islam awal di tanah Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran, yaitu Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Prabu Kian Santang.

Sampai saat ini, masih terdapat sebagian penulis sejarah yang meragukan keberadaan dan peran dari ketiga tokoh tersebut. Munculnya keraguan itu salah satunya disebabkan oleh banyaknya nama yang ditujukan kepada mereka. Misalnya, dalam catatan beberapa penulis sejarah nasional disebutkan bahwa nama Paletehan (Fadhilah Khan) disamakan dengan Syarif Hidayatullah. Padahal dalam sumber sejarah lokal (cerita babad), dua nama tersebut merupakan dua nama berbeda dari dua aktor sejarah dan memiliki peranan serta kedudukan yang berbeda pula dalam proses penyebaran Islam di tanah Pasundan (dan Nusantara).

Selain faktor yang telah disebutkan, terdapat juga faktor-faktor lainnya yang mengakibatkan munculnya keraguan terhadap ketiga tokoh tersebut. Di antaranya seperti kesalahan pengambilan sumber yang hanya mengambil sumber asing seperti catatan orang Portugis atau Belanda; atau juga disebabkan sering banyaknya mitos yang dijumpai para penulis sejarah dalam beberapa sumber lokal. Kondisi seperti ini sangat membingungkan dan meragukan setiap orang yang ingin mencoba merekonstruksi ketiga tokoh penyebar Islam di tanah Pasundan tersebut.

Dengan berdasarkan pada realitas historis semacam itu, maka tulisan ini akan mencoba mengungkap misteri atau ketidakjelasan kedudukan, fungsi, dan peran ketiga tokoh itu dalam proses Islamisasi di tanah Pasundan. Dengan demikian diharapkan tulisan ini dapat memberikan sumbangan berarti terhadap khazanah sejarah kebudayaan Islam-Sunda yang sampai saat ini dirasakan masih kurang. Selain itu diharapkan juga dapat memberikan informasi awal bagi para peminat dan peneliti tentang sejarah Islam di tanah Pasundan.

Sumber Sejarah

Sebenarnya banyak sumber sejarah yang belum tergali mengenai bagaimana proses penyebaran Islam (Islamisasi) di tanah Pasundan. Sumber-sumber tersebut berkisar pada sumber lisan, tulisan, dan artefak (bentuk fisik). Sumber lisan yang terdapat di tanah Pasundan tersebar dalam cerita rakyat yang berlangsung secara turun temurun, misalnya tentang cerita “Kian Santang bertemu dengan Sayyidina Ali” atau cerita tentang “Ngahiang-nya Prabu Siliwangi jadi Maung Bodas” dan lainnya. Begitu pula sumber lisan (naskah), sampai saat ini msaih banyak yang belum disentuh oleh para ahli sejarah atau filolog. Naskah-naskah tersebut berada di Museum Nasional, di Keraton Cirebon Kasepuhan dan Kanoman, Museum Geusan Ulun, dan di daerah-daerah tertentu di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti di daerah Garut dan Ciamis. Di antara naskah yang terpenting yang dapat dijadikan rujukan awal adalah naskah Babad Cirebon, naskah Wangsakerta, Babad Sumedang, dan Babad Limbangan.

Sumber lainnya yang dapat dijadikan alat bantu untuk mengetahui proses perkembangan Islam di tanah Pasundan ialah artefak (fisik) seperti keraton, benda-benda pusaka, maqam-maqam para wali, dan pondok pesantren. Khusus mengenai maqam para wali dan penyebar Islam di tanah Pasundan adalah termasuk cukup banyak seperti Syeikh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Rahmat (Garut), Eyang Papak (Garut), Syeikh Jafar Sidik (Garut), Sunan Mansyur (Pandeglang), dan Syeikh Qura (Kerawang). Lazimnya di sekitar area maqam-maqam itu sering ditemukan naskah-naskah yang memiliki hubungan langsung dengan penyebaran Islam atau dakwah yang telah dilakukan para wali tersebut, baik berupa ajaran fiqh, tasawuf, ilmu kalam, atau kitab al-Qur’an yang tulisannya merupakan tulisan tangan.

Pangeran Cakrabuana

Berdasarkan sumber sejarah lokal (seperti Babad Cirebon) bahwa Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang merupakan tiga tokoh utama penyebar Islam di seluruh tanah Pasundan. Ketiganya merupakan keturunan Prabu Sliliwangi (Prabu Jaya Dewata atau Sribaduga Maha Raja) raja terakhir Pajajaran (Gabungan antara Galuh dan Sunda). Hubungan keluarga ketiga tokoh tersebut sangatlah dekat. Cakrabuana dan Kian Santang merupakan adik-kakak. Sedangkan, Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Cakrabuana dan Kian Santang. Syarif Hidayatullah sendiri merupakan anak Nyai Ratu Mas Lara Santang, sang adik Cakrabuana dan kakak perempuan Kian Santang.

Cakrabuana (atau nama lain Walangsungsang), Lara Santang, dan Kian Santang merupakan anak Prabu Siliwangi dan hasil perkawinannya dengan Nyai Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar Karawang. Peristiwa pernikahannya terjadi ketika Prabu Siliwangi belum menjadi raja Pajajaran; ia masih bergelar Prabu Jaya Dewata atau Manahrasa dan hanya menjadi raja bawahan di wilayah Sindangkasih (Majalengka), yaitu salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh Surawisesa (kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sedangkan kerajaan Sunda-Surawisesa (Pakuan/Bogor) masih dipegang oleh kakak ayahnya (ua: Sunda) Prabu Susuk Tunggal.

Sebelum menjadi isteri (permaisuri) Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang telah memeluk Islam dan menjadi santri (murid) Syeikh Hasanuddin atau Syeikh Quro. Ia adalah putera Syeikh Yusuf Siddiq, ulama terkenal di negeri Champa (sekarang menjadi bagian dari Vietnam bagian Selatan). Syeikh Hasanuddin datang ke pulau Jawa (Karawang) bersama armada ekspedisi Muhammad Cheng Ho (Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong) dari dinasti Ming pada tahun 1405 M. Di karawang ia mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Quro. Oleh karena itu ia mendapat gelar (laqab) Syeikh Qura. Ajaran yang dikembangkan oleh Syeikh Qura adalah ajaran Islam Madzhab Hanafiah.

Pondok Quro yang didirikan oleh Syeikh Hasanuddin tersebut merupakan lembaga pendidikan Islam (pesantren) pertama di tanah Pasundan. Kemudian setelah itu muncul pondok pesantren di Amparan Jati daerah Gunung Jati (Syeikh Nurul Jati). Setelah Syeikh Nurul Jati meninggal dunia, pondok pesantren Amparan Jati dipimpin oleh Syeikh Datuk Kahfi atau Syeikh Idhopi, seorang ulama asal Arab yang mengembangkan ajaran Islam madzhab Syafi’iyyah.

Sepeninggal Syeikh Hasanuddin, penyebaran Islam melalui lembaga pesantren terus dilanjutkan oleh anak keturunannya, di antaranya adalah Musanuddin atau Lebe Musa atau Lebe Usa, cicitnya. Dalam sumber lisan, Musanuddin dikenal dengan nama Syeikh Benthong, salah seorang yang termasuk kelompok wali di pulau Jawa (Yuyus Suherman, 1995:13-14).

Dengan latar belakang kehidupan keberagamaan ibunya seperti itulah, maka Cakrabuana yang pada waktu itu bernama Walangsungsang dan adiknya Nyai Lara Santang memiliki niat untuk menganut agama ibunya daripada agama ayahnya (Sanghiyang) dan keduanya harus mengambil pilihan untuk tidak tetap tinggal di lingkungan istana. Dalam cerita Babad Cirebon dikisahkan bahwa Cakrabuana (Walangsungsang) dan Nyai Lara Santang pernah meminta izin kepada ayahnya, Prabu Jaya Dewata, yang pada saat itu masih menjadi raja bawahan di Sindangkasih untuk memeluk Islam. Akan tetapi, Jaya Dewata tidak mengijinkannya. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang akhirnya meninggalkan istana untuk berguru menimba pengetahuan Islam. Selama berkelana mencari ilmu pengetahuan Islam, Walangsungsang menggunakan nama samaran yaitu Ki Samadullah. Mula-mula ia berguru kepada Syeikh Nurjati di pesisir laut utara Cirebon. Setelah itu ia bersama adiknya, Nyai Mas Lara Santang berguru kepada Syeikh Datuk Kahfi (Syeikh Idhopi).

Selain berguru agama Islam, Walangsungsang bersama Ki Gedeng Alang Alang membuka pemukinan baru bagi orang-orang yang beragama Islam di daerah pesisir. Pemukiman baru itu dimulai tanggal 14 Kresna Paksa bukan Caitra tahun 1367 Saka atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849 Hijrah (8 April 1445 M). Kemudian daerah pemukiman baru itu diberi nama Cirebon (Yuyus Suherman, 1995:14). Penamaan ini diambil dari kata atau bahasa Sunda, dari kata “cai” (air) dan “rebon” (anak udang, udang kecil, hurang). Memang pada waktu itu salah satu mata pencaharian penduduk pemukiman baru itu adalah menangkap udang kecil untuk dijadikan bahan terasi. Sebagai kepada (kuwu; Sunda) pemukiman baru itu adalah Ki Gedeng Alang Alang, sedangkan wakilnya dipegang oleh Walangsungsang dengan gelar Pangeran Cakrabuana atau Cakrabumi.

Setelah beberapa tahun semenjak dibuka, pemukian baru itu (pesisir Cirebon) telah menjadi kawasan paling ramai dikunjungi oleh berbagai suku bangsa. Tahun 1447 M, jumlah penduduk pesisir Cirebon berjumlah 348 jiwa, terdiri dari 182 laki-laki dan 164 wanita. Sunda sebanyak 196 orang, Jawa 106 orang, Andalas 16 orang, Semenanjung 4 orang, India 2 orang, Persia 2 orang, Syam (Damaskus) 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6 orang. Agama yang dianut seluruh penduduk pesisir Cirebon ini adalah Islam.

Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, pangeran Cakrabuana (Walangsungsang atau Cakrabumi, atau Ki Samadullah) kemudian ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (Jala artinya air; graha artinya rumah), Mesjid ini merupakan mesjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Mesjid ini sampai saat ini masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi mesjid Pejalagrahan. Sudah tentu perubahan nama ini, pada dasarnya berpengaruh pada reduksitas makna historisnya. Setelah mendirikan pemukiman (padukuhan; Sunda) baru di pesisir Cirebon, pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Ketika di Mekah, Pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang bertemu dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa (sultan) kota Mesir pada waktu itu. Syarif Abdullah sendiri, secara geneologis, merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw. generasi ke-17.

Dalam pertemuan itu, Syarif Abdullah merasa tertarik hati atas kecantikan dan keelokan Nyai Mas Lara Santang. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Pangeran Cakrabuana mendapat gelar Haji Abdullah Iman, dan Nyai Mas Lara Santang mendapat gelar Hajjah Syarifah Muda’im. Selanjutnya, Nyai Mas Larasantang dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana dengan Syarif Abdullah. Di Mekah, Pangeran Walangsungsang menjadi mukimin selama tiga bulan. Selama tiga bulan itulah, ia belajar tasawuf kepada haji Bayanullah, seorang ulama yang sudah lama tinggal di Haramain. Selanjutnya ia pergi ke Baghdad mempelajari fiqh madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali, dan Maliki.

Selang beberapa waktu setelah pengeran Cakrabuana kembali ke Cirebon, kakeknya dari pihak ibu yang bernama Mangkubumi Jumajan Jati atau Ki Gedeng Tapa meninggal dunia di Singapura (Mertasinga). Yang menjadi pewaris tahta kakeknya itu adalah pangeran Cakrabuana. Akan tetapi, Pangeran Cakrabuana tidak meneruskan tahta kekuasaan kakeknya di Singapura (Mertasinga). Ia membawa harta warisannya ke pemukiman pesisir Cirebon. Dengan modal harta warisan tersebut, pangeran Cakrabuana membangun sebuah keraton bercorak Islam di Cirebon Pesisir. Keraton tersebut diberi nama Keraton Pakungwati. Dengan berdirinya Keraton Pakungwati berarti berdirilah sebuah kerajaan Islam pertama di tatar Sunda Pajajaran. Kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana tersebut diberi nama Nagara Agung Pakungwati Cirebon atau dalam bahasa Cirebon disebut dengan sebutan Nagara Gheng Pakungwati Cirebon.

Mendengar berdirinya kerajaan baru di Cirebon, ayahnya Sri Baduga Maharaja Jaya Dewata (atau Prabu Suliwangi) merasa senang. Kemudian ia mengutus Tumenggung Jayabaya untuk melantik (ngistrénan; Sunda) pangeran Cakrabuana menjadi raja Nagara Agung Pakungwati Cirebon dengan gelar Abhiseka Sri Magana. Dari Prabu Siliwangi ia juga menerima Pratanda atau gelar keprabuan (kalungguhan kaprabuan) dan menerima Anarimakna Kacawartyan atau tanda kekuasaan untuk memerintah kerajaan lokal. Di sini jelaslah bahwa Prabu Siliwangi tidak anti Islam. Ia justeru bersikap rasika dharmika ring pamekul agami Rasul (adil bijaksana terhadap orang yang memeluk agama Rasul Muhammad).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang pertama sukses menyebarkan agama Islam di tatar Sunda adalah Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Haji Abdullah Iman. Ia merupakan Kakak Nyai Mas Lara Santang dan Kian Santang, dan ketiganya merupakan anak-anak dari Prabu Siliwangi. Dengan demikian, ia merupakan paman (ua; Sunda) dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Ia dimakamkan di Gunung Sembung dan makamnya berada luar komplek pemakaman (panyawéran; Sunda) Sunan Gunung Jati.

Prabu Kian Santang

Sebagaimana halnya dengan Prabu Siliwangi, Kian Santang (Ki Hyang Sancang) merupakan salah satu tokoh yang dianggap misterius. Akan tetapi tokoh ini, dalam cerita lisan dan dunia persilatan (kependekaran) di wilayah Sunda, terutama di daerah Priangan, sangatlah akrab dan legendaris dengan pikiran-pikiran orang Sunda. Dalam tradisi persilatan, Kian Santang terkenal dengan sebutan Gagak Lumayung. Sedangkan nama Kian Santang sendiri sangat terkenal dalam sejarah dakwah Islam di tatar Sunda bagian pedalaman.

Sampai saat ini terdapat beberapa versi mengenai tokoh sejarah yang satu ini. Bahkan tidak jarang ada juga yang meragukan tentang keberadaan tokoh ini. Alasannya adalah bahwa sumber sejarah yang akurat faktual dari tokoh ini kurang dapat dibuktikan. Sudah tentu pendapat semacam ini adalah sangat gegabah dan ceroboh serta terburu-buru dalam mengambil kesimpulannya. Jika para sejarawan mau jujur dan teliti, banyak sumber-sumber sejarah yang dapat digunakan bahan penelitian lanjut mengenai tokoh ini, baik itu berupa sumber sejarah lisan, tulisan, maupun benda-benda sejarah. Salah satunya adalah patilasan Kian Santang di Godog Garut, atau Makam Kian Santang yang berada di daerah Depok Pakenjeng Garut. Kalaulah ada hal-hal yang berbau mitos, maka itu adalah merupakan tugas sejarawan untuk memilahnya, bukannya memberi generalisir yang membabi buta, seolah-olah dalam seluruh mitologi tidak ada cerita sejarah yang sebenarnya.

Sampai saat ini terdapat empat sumber sejarah (lisan dan tulisan) yang menceritakan tentang sepak terjang tokoh Kian Santang yang sangat legendaris itu. Keempat sumber itu, ialah (1) cerita rakyat, (2) sejarah Godog yang diceritakan secara turun menurun; (3) P. de Roo de la Faille; dan 4) Babad Cirebon karya P.S. Sulendraningrat. Terdapat beberapa versi cerita rakyat mengenai perjalanan dakwah Kian Santang, dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang bertanding kekuatan gaib dengan Sayyidina Ali dan Prabu Kian Santang tidak mampu mencabut tongkat yang ditancapkan oleh Baginda Ali kecuali sesudah Prabu Kian Santang membaca kalimat Syahadat.

Di dalam cerita lisan lainnya, dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang adalah putera raja Pajajaran yang masuk Islam. Ia pergi ke Arab, masuk Islam dan setelah kembali ia memakai nama Haji Lumajang. Cerita lainnya lagi mengatakan bahwa Prabu Kian Santang mengajar dan menyebarkan agama Islam di Pajajaran dan mempunyai banyak pengikut; dan banyak pula putra raja yang masuk Islam; bahwa Prabu Kian Santang diusir dari keraton dan tidak lagi menganut agama nenek moyangnya dan menghasut raja Pajajaran, bahwa ia akhirnya pergi ke Campa sewaktu kerajaan Pajajaran runtuh.

Dari cerita rakyat tersebut terdapat alur logis yang menunjukkan kebenaran adanya tokoh Kian Santang sebagai salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan. Misalnya alur cerita tentang “Haji Lumajang” atau ia pergi ke Campa ketika kerajaan Pajajaran runtuh. Atau istilah Pajajaran itu sendiri yang sesuai dengan data arkeologi dan sumber data yang lainya seperti Babad tanah Cirebon dan lainnya.

Adapun mengenai pertemuannya dengan Sayyidina Ali, boleh jadi nama tersebut bukanlah menantu Rasulullah yang meninggal pada tahun 661 M, melainkan seorang syekh (guru) tarekat tertentu atau pengajar tertentu di Mesjid al-Haram. Jika sulit dibuktikan kebenarannya, maka itulah suatu bumbu dari cerita rakyat; bukan berarti seluruh cerita itu adalah mitos, tahayul, dan tidak ada buktinya dalam realitas sejarah manusia Sunda.

Sejalan dengan cerita rakyat di atas, P. de Roo de la Faille menyebut bahwa Kian Santang sebagai Pangeran Lumajang Kudratullah atau Sunan Godog. Ia diidentifikasi sebagai salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan. Kesimpulan ini didasarkan pada bukti-bukti fisik berupa satu buah al-Qur’an yang ada di balubur Limbangan, sebuah skin (pisau Arab) yang berada di desa Cinunuk (distrik) Wanaraja Garut, sebuah tongkat yang berada di Darmaraja, dan satu kandaga (kanaga, peti) yang berada di Godog Karangpawitan Garut.

Dalam sejarah Godog, Kian Santang disebutnya sebagai orang suci dari Cirebon yang pergi ke Preanger (Priangan) dan dari pantai utara. Ia membawa sejumlah pengikut agama Islam. Adapun yang menjadi sahabat Kian Santang setelah mereka masuk Islam dan bersama-sama menyebarkan Islam, menurut P. de Roo de la Faille, berjumlah 11 orang, yaitu 1) Saharepen Nagele, 2) Sembah Dora, 3) Sembu Kuwu Kandang Sakti (Sapi), 4) Penghulu Gusti, 5) Raden Halipah Kandang Haur, 6) Prabu Kasiringanwati atau Raden Sinom atau Dalem Lebaksiuh, 7) Saharepen Agung, 8 ) Panengah, 9) Santuwan Suci, 10) Santuwan Suci Maraja, dan 11) Dalem Pangerjaya.

Dari seluruh cerita rakyat tersebut dapat disimpulkan bahwa Kian Santang merupakan salah seorang putra Pajajaran, yang berasal dari wilayah Cirebon dan merupakan seorang penyebar agama Islam di Pajajaran. Kesimpulan ini dapat dicocokkan dengan berita yang disampaikan oleh P.S. Sulendraningrat yang mengatakan bahwa pada abad ke-13, kerajaan Pajajaran membawahi kerajaan-kerajaan kecil yang masing-masing diperintah oleh seorang raja. Di antaranya adalah kerajaan Sindangkasih (Majalengka) yang diperintah oleh Sri Baduga Maharaja (atau Prabu Jaya Dewata alias Prabu Siliwangi). Pada waktu itu Prabu Jaya Dewata menginspeksi daerah-daerah kekuasaannya, sampailah ia di Pesantren Qura Karawang, yang pada waktu itu dipimpin oleh Syeikh Hasanuddin (ulama dari Campa) keturunan Cina. Di pesantren inilah ia bertemu dengan Subang Larang, salah seorang santri Syeikh Qura yang kelak dipersunting dan menjadi ibu dari Pangeran Walangsungsang, Ratu Lara Santang, dan Pangeran Kian Santang.

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa Kian Santang merupakan salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan yang diperkirakan mulai menyiarkan dan menyebarkan agama Islam pada tahun 1445 di daerah pedalaman. Ia adalah anak dari Prabu Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi, raja terakhir Pajajaran. Ia berasal dari wilayah Cirebon (Sindangkasih; Majaengka), yaitu ketika bapaknya masih menjadi raja bawahan Pajajaran, ia melarikan diri dan menyebarkan Islam di wilayah Pasundan (Priangan) dan Godog, op groundgebied. Limbangan merupakan pusat penyebaran agama Islam pertama di Tatar Sunda (khususnya di wilayah Priangan). Selain di Godog pada waktu itu, sebagian kecil di pantai utara sudah ada yang menganut Islam sebagai hubungan langsung dnegan para pedagang Arab dan India.

Mula-mula Kian Santang mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja Galuh Pakuwon yang terletak di Limbangan, bernama Sunan Pancer (Cipancar) atau Prabu Wijayakusumah (1525-1575). Raja yang satu ini merupakan putra Sunan Hande Limasenjaya dan cucu dari Prabu Layangkusumah. Prabu Layangkusumah sendiri adalah putra Prabu Siliwangi. Dengan demikian Sunan Pancer merupakan buyut Prabu Siliwangi. Kian Santang menghadiahkan kepada Sunan Pancer satu buah al-Qur;an berkukuran besar dan sebuak sekin yang bertuliskan lafadz al-Qur’an la ikroha fiddin. Berkat Sunan Pancer ini Islam dapat berkembang luas di daerah Galuh Pakuwon, sisi kerajaan terakhir Pajajaran.

Para petinggi dan raja-raja lokal lainnya yang secara langsung diIslamkan oleh Kian Santang di antaranya, ialah (1) Santowan Suci Mareja (sahabat Kian Santang yang makamnya terletak dekat makam Kian Santang); 2) Sunan Sirapuji (Raja Panembong, Bayongbong), 3) Sunan Batuwangi yang sekarang terletak di kecamatan Singajaya (ia dihadiahi tombak oleh Kian Santang dan sekarang menjadi pusaka Sukapura dan ada di Tasikmalaya.

Melalui raja-raja lokal inilah selanjutnya Islam menyebar ke seluruh tanah Priangan. Kemudian setelah itu Islam disebarkan oleh para penyebar Islam generasi berikutnya, yaitu para sufi seperti Syeikh Jafar Sidiq (Penganut Syatariah) di Limbangan, Eyang Papak, Syeikh Fatah Rahmatullah (Tanjung Singguru, Samarang, Garut), Syeikh Abdul Muhyi (penganut Syatariyah; Pamijahan, Tasikmalaya), dan para menak dan ulama dari Cirebon dan Mataram seperti Pangeran Santri di Sumedang dan Arif Muhammad di Cangkuang (Garut).

Raden Syarif Hidayatullah

Seperti telah diuraikan di atas bahwa ketika selesai menunaikan ibadah haji, Nyi Mas Larasantang dinikahkan oleh kakaknya (Walangsungsang) dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa kota Mesir dari klan al-Ayyubi dari dinasti Mamluk. Ia adalah putera dari Nurul Alim atau Ali Burul Alim yang mempunyai dua saudara, yaitu Barkat Zainal Abidin (buyut Fadhilah Khan, Faletehan) dan Ibrahim Zainal Akbar, yaitu ayah dari Ali Rahmatullah atau raden Rahmat atau Sunan Ampel (Yuyus Suherman, 1995:14). Nurul Alim, Barkat Zainal Abidin, dan Ibrahim Zainal Akbar merupakan keturunan Rasulullah saw. Nurul Alim menikah dengan puteri penguasa Mesir (wali kota), karena itulah Syarif Abdullah (puteranya) menjadi penguasa (wali kota) Mesir pada masa dinasti Mamluk. Hasil pernikahan antara Syarif Abdullah dengan Nyi Mas Larasantang melahirkan dua putera yaitu, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang lahir di Mekkah pada tahun 1448 dan Syarif Nurullah yang lahir di Mesir.

Syarif Hidayatullah muda berguru agama kepada beberapa ulama terkenal saat itu. Di antaranya ia berguru kepada Syeikh Tajuddin al-Kubri di Mekkah dan Syeikh Athaillah, seorang penganut terekat Sadziliyyah dan pengarang kitab tasawuf, al-Hikam, masing-masing selama dua tahun. Setelah merasa cukup pengetahuan agamanya, ia memohon kepada kedua orang tuanya untuk berkunjung kepada kakak ibunya (Pangeran Cakrabuana) di Cirebon yang pada waktu itu menduduki tahta kerajaan Islam Pakungwati.

Selama di perjalanan menujuk kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon, Syarif Hidayatullah menyempatkan diri untuk singgah di beberapa tempat yang dilaluinya. Di Gujarat India, ia singgah selama tiga bulan dan sempat menyebarkan Islam di tempat itu. Di Gujarat ia mempunyai murid, yaitu Dipati Keling beserta 98 anak buahnya. Bersama Dipati Keling dan pengikutnya, ia meneruskan perjalanannya menuju tanah Jawa. Ia pun sempat singgah di Samudera Pasai dan Banten. Di Pasai ia tinggal selama dua tahun untuk menyebarkan Islam bersama saudaranya Syeikh Sayyid Ishak. Di Banten ia sempat berjumpa dengan Sayyid Rakhmatullah (Ali Rakhmatullah atau Syeikh Rahmat, atau Sunan Ampel) yang sedang giatnya menyebarkan Islam di sana.

Sesampainya di Cirebon, Syarif Hidayatullah giat menyebarkan agama Islam bersama Syeikh Nurjati dan Pangeran Cakrabuana. Ketika itu, Pakungwati masih merupakan wilayah kerajaan Galuh dengan rajanya adalah Prabu Jaya Dewata, yang tiada lain adalah kakek dari Syarif Hidayatullah dan ayah dari Nyi Mas Larasantang. Oleh karena itu, Prabu Jaya Dewata tidak merasa khawatir dengan perkembangan Islam di Cirebon. Syarif Hidayatullah bahkan diangkat menjadi guru agama Islam di Cirebon, dan tidak lama kemudian ia pun diangkat semacam “kepala” di Cirebon. Syarif Hidayatullah giat mengadakan dakwah dan menyebarkan Islam ke arah selatan menuju dayeuh (puseur kota) Galuh. Prabu Jaya Dewata mulai gelisah, kemudian ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan Pajajaran yang terletak di wilayah kerajaan Sunda dengan rajanya Prabu Susuktunggal, yang masih merupakan paman (ua; Sunda) dari Jaya Dewata. Tetapi karena Pabu Jaya Dewata menikah dengan Mayang Sunda, puteri Susuk Tunggal, maka perpindahan bobot kerajaan dari Galuh (Kawali Ciamis) ke Pakuan Pajajaran (Bogor) bahkan mempersatukan kembali Galuh-Sunda yang pecah pada masa tahta Prabu Dewa Niskala, ayah Prabu Jaya Dewata. Di Pajajaran, Prabu Jaya Dewata mengganti namanya menjadi Sri Baduga Maharaja (lihat Didi Suryadi, Babad Limbangan, 1977:46).

Pada tahun 1479, Pangeran Cakrabuana mengundurkan diri dari tapuk pimpinan kerajaan Pakungwati. Sebagai penggatinya, maka ditasbihkanlah Syarif Hidayatullah sebagai sultan Cirebon yang baru. Di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, Pakungwati mengalami puncak kemajuannya, sehingga atas dukungan dari rakyat Cirebon, Wali Songo, dan Kerajaan Demak, akhirnya Pakungwati melepaskan diri dari Pajajaran. Sudah tentu, sikap ini mengundang kemarahan Prabu Jaya Dewata dan berusaha mengambil alih kembali Cirebon. Namun penyerangan yang dilakukan Prabu Jaya Dewata tidak berlangsung lama. Dikatakan bahwa Prabu Jaya Dewata mendapatkan nasihat dari para Purohita (pemimpin agama Hyang) yang menyatakan bahwa tidak pantas terjadi pertumpahan darah antara kakek dan cucunya. Lagi pula berdirinya Cirebon pada dasarnya merupakan atas jerih payah putera darah biru Pajajaran, yaitu Pengeran Cakrabuana.

Pada tanggal 13 Desember 1521 M, Prabu Siliwangi mengundurkan diri dari tahta kerajaan Pajajaran, untuk selanjutnya menjadi petapa suci sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Sebagai penggantinya adalah Pangeran Surawisesa yang dilantik pada bukan Agustus 1522 M dengan gelar Sanghyang. Pangeran Surawisesa inilah yang secara resmi melakukan perjanjian kerjasama dengan Portugis yang naskah perjanjiannya ditandatangani pada 21 Agustus 1522 M, berisi tentang kerjasama di bidang perdagangan dan pertahanan. Rintisan kerja sama antara Pajajaran dan Portugis itu telah dirintis sejak Prabu Jaya Dewata masih berkuasa. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa pertama dalam sejarah diplomatik Nusantara, boleh dikatakan bahwa ia merupakan seorang raja dari Nusantara yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik dengan orang-orang Eropa.

Perjanjian kerjasama antara Pajajaran dan Portugis itu telah menimbulkan kekhawatiran bagi kerajaan Demak dan Cirebon. Karena itulah pada tahun 1526 M, Sultan Trenggono dari Demak mengutus Fadhilah Khan (Fathailah atau Faletehan) ke Cirebon untuk sama-sama menguasai Sunda Kelapa yang pada waktu itu masih berada dalam kekuasaan Pajajaran. Strategi ini diambil agar pihak Portugis tidak dapat menduduki pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak berapa lama pad atahun 1527 M Portugis datang ke Sunda Kelapa untuk mewujudkan cita-cita mendirikan benteng di Muara Kali Ciliwung daerah bandar Sunda Kelapa. Namun pasukan Portugis dipukul mundur oleh pasukan Fadhilah Khan yang waktu itu sudah bergelar Pangeran Jayakarta.

Banyak nama yang dinisbahkan pada Pengeran terakhir ini, yaitu Pengeran Jayakarta, Fatahilah, Faletehan, Tagaril, dan Ki Bagus Pase. Penisbahan nama terakhir terhadapnya karena ia berasal dari Samudera Pasai. Ia merupakan menantu Sultan Trenggono dan Sultan Syarif Hidayatullah. Hal ini karena Faletehan selain menikah dengan Ratu Pembayun (Demak), ia juga menikah dengan Ratu Ayu atau Siti Winahon, puteri Syarif Hidayatullah, janda Pati Unus yang gugur di Malaka (Yuyus Suherman, 1995:17). Dengan menikahi putri Demak dan Cirebon, maka Faletehan memiliki kedudukan penting di lingkungan keluarga kedua keraton itu. Karena itulah, ketika Syarif Hidayatullah meninggal pada 19 September 1568 M, maka Faletehan diangkat menjadi pengganti Syarif Hidayatullah sebagai Sultan di Cirebon. Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean), putra Syarif Hidayatullah, mengundurkan diri dari tahta kerajaan Islam Cirebon. Muhammad Arifin sendiri lebih memilih menjadi penyebar Islam di tatar Sunda bagian utara dan sejak itulah ia lebih dikenal dengan nama Pangeran Pasarean.

Ketika Faletehan naik tahta di Cirebon ini, saat itu, Jayakarta (Sunda Kelapa) diperintah oleh Ratu Bagus Angke, putra Muhammad Abdurrahman atau Pangeran Panjunan dari putri Banten. Namun Faletehan menduduki tahta kerajaan Cirebon dalam waktu yang tidak lama, yakni hanya berlangsung selama dua tahun, karena ia mangkat pada tahun 1570 M. Ia dimakamkan satu komplek dengan mertuanya, Syarif Hidayatullah, yakni di Astana Gunung Jati Cirebon. Ia kemudian digantikan oleh Panembahan Ratu.

Penutup

Demikianlah sekilas mengenai uraian historis tentang peran Pangeran Cakrabuana, Kian Santang, dan Syarif Hidayatullah dalam proses penyebaran Islam di tanah Pasundan yang sekarang menjadi tiga wialyah, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat beberapa kesimpulan dan temuan sementara yang dapat dijadikan bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

Pertama, bahwa orang yang pertama menyebarkan Islam di daerah pesisir utara Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang atau Adipati Cakrabuana atau Ki Cakrabumi atau Ki Samadullah atau Syeikh Abdul Iman, yang mendirikan kerajaan pertama Islam Pakungwati. Ia adalah ua dari Syarif Hidayatullah.

Kedua, Kian Santang merupakan anak ketiga dari pasangan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang yang beragama Islam. Ia dilahirkan pada tahun 1425, dua puluh lima tahun sebelum lahir Sunan Gunung Jati dan Mualana Syarif Hidayatullah. Ia mulai menyebarkan agama Islam di Godog, Garut pada tahun 1445. Ia adalah penyebar Islam pertama di pedalaman tatar Sunda. Ia merupakan paman dari Syarif Hidayatullah. Ia disebutkan berasal dari wilayah Cirebon, tepatnya dari Kerajaan Sindangkasih (Majalengka).

Ketiga, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah nama tokoh yang berbeda dengan Faletehan. Keduanya memiliki peran yang berbeda dalam usaha menyebarkan agama Islam di tanah Pasundan.

Daftar Pustaka
  • Didi Suryadi. 1977. Babad Limbangan.
  • Edi S. Ekajati. 1992. Sejarah Lokal Jawa Barat. Jakarta: Interumas Sejahtera.
  • Edi S. Ekajati. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarahi). Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Hamka. 1960. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Nusantara.
  • Pemerintahan Propinsi Jawa Barat. 1983. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat.
  • Sulaemen Anggadiparaja. T.T. Sejarah Garut Dari Masa Ke Masa. Diktat.
  • Yuyus Suherman. 1995. Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda. Bandung: Pustaka.

Hidup dan Mati Tradisi Masyarakat Sunda

|0 waleran
Dalam Kamus Filsafat (1996: 1.115-1.116), tradisi merupakan adat istiadat, ritus-ritus, ajaran-ajaran sosial, pandangan-pandangan, nilai-nilai, dan aturan-aturan perilaku, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Takdir atau hidup dan mati sebuah tradisi sangat bergantung dan ditentukan oleh dua faktor. Pertama, pengguna atau pemakai tradisi (masyarakat). Kedua, pihak yang berkuasa atau pemerintah.


Untuk faktor pertama (pengguna tradisi), kita ambil saja contoh tradisi lokal yang pernah ada di sekitar Desa Babakan Panjang, Kec. Nagrak, Kab. Sukabumi. Tradisi yang pernah ada di sana salah satunya adalah tradisi yang berkaitan dengan pertanian. Dari dulu sampai sekarang para petani di desa tersebut membajak sawahnya dengan menggunakan kerbau, karena kondisi areal persawahannya yang tidak rata tidak memungkinkan untuk menggunakan tenaga mesin traktor. Akan tetapi, tradisi nembang saat berada di sawah, kini tidak akan pernah ditemukan atau didengar kembali.

Tembang yang dilagukan berkaitan dengan pertanian di sekitar Desa Babakan Panjang, di antaranya, pertama, tradisi membangunkan kerbau. Orang-orang dulu pemilik kerbau sering membangunkan kerbaunya pada jam dua dini hari dengan tembang: / Ki Panganten geura gugah / Bisi kasiangan nyawah / Gobang pontrang di tunjangeun / Jeleker sora pecut dipecutkeun. (/ Sang Pengantin - sepasang kerbau - segera bangun / Takut kesiangan membajak sawah / Gobang pontrang adalah metafora dari cambuk, yang ada di sampingmu / Jeleker suara cambuk yang dilesatkan /).

Kedua, tradisi nembang waktu membajak sawah. Pembajak sawah yang duduk di atas singkal atau garu, dengan memegang cambuk, mulut mereka pun menembang: / Hur-hur / Kia-kia / Jalan aing, jalan sia / Tapak aing, tapak sia / Aing lempeng, sia lempeng / Aing mengkol, sia mengkol /. (/ Hur-hur / Kia-kia / jalan saya “pembajak” jalan kamu “kerbau” / Bekas saya, bekas kamu / Saya lurus, kamu pun lurus / saya belok, kamu juga harus belok /).

Ketiga, tradisi nembang menunggui padi yang sudah menguning. Para petani yang padinya siap panen, biasanya menunggui padi miliknya itu di dalam gubuk dan menggerakkan orang-orangan sawah dengan memakai benang. Agar burung-burung tidak memakan padi, pak tani pun mengeluarkan “mantra” yang berbunyi: / Sieuh-sieuh / manuk ka ditu, ka dayeuh / di dieu sagala euweuh / sia moal bisa seubeuh / da aya anu nga geugeuh /. (/ Sieuh-sieuh padanan katanya “Hus-hus”/ burung ke sana, ke kota /di sini tidak ada apa-apa / kamu takkan bisa kenyang / sebab ada yang menunggu /).

Sekali lagi, tradisi-tradisi nembang seperti yang telah ditulis itu, tidak akan pernah ditemukan atau didengar kembali pada saat sekarang.

Tradisi lainnya yang mati di sana adalah tradisi metemeyan, yakni tradisi syukuran panen. Sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan panen padi, juragan sawah biasanya memakai pakaian bagus yang ia miliki. Lalu ia pergi ke sawah dan memberikan sedekah berupa nasi lengkap dengan lauk pauknya kepada para pegawai yang berada di sawah. Para pegawai pada saat sebelumnya telah menyiapkan alat tatabeuhan (bunyi-bunyian) berupa kentungan, kendang atau dog-dog, dan gong kecil. Alat tersebut ditabuh pada saat juragan sawah memberikan sedekah.

Tidak semua tradisi mati. Beberapa di antaranya masih dipraktikkan sampai sekarang. Terutama tradisi yang berkaitan dengan ritus-ritus agama (Islam), seperti: nujuh bulan, mahinum, tahlilan , manakiban atau maca syekh, dan pupujian. Salah satu pupujian yang masih bisa didengar sampai sekarang, misalnya: / Eling-eling umat / Muslimin, muslimat / Hayu urang berjamaah salat / estu kawajiban / urang keur di dunya / kangge pibekeleun munggih ka aherat /.

Faktor penentu takdir tradisi yang kedua adalah pihak yang berkuasa atau pemerintah. Contohnya adalah Instruksi Presiden (Inpres) No. 14/1967. Dengan inpres itu, pemerintah melarang masyarakat peranakan Tionghoa untuk menjalankan ritus-ritus keagamaan, tradisi-tradisi kepercayaannya, dan adat istiadat mereka. Begitupun dengan Inpres No. 2/1980 dan Keputusan Presiden (Keppres) No. 131/1980, dinyatakan bahwa etnis atau peranakan Tionghoa dilarang menggunakan bahasa Tionghoa, dan dilarang merayakan hariraya Imlek (tahun baru Tionghoa).

Baru pada hari Selasa, 18 Januari 2000, pemerintah mengumumkan melalui Keppres No. 6/2000 yang mencabut Inpres No. 14/1967. Mulai hari itu, masyarakat peranakan Tionghoa kembali bebas menjalankan ritus-ritus, tradisi-tradisi kepercayaannya, dan adat istiadat mereka. Selang sebulan kemudian pada tanggal 5 Februari 2000, pemerintah pada saat itu memperbolehkan perayaan Imlek dan penggunaan bahasa Tionghoa.

Dengan kata lain, dengan dicabutnya peraturan yang membelenggu tradisi peranakan Tionghoa, telah terjadi semacam reinkarnasi (hidup kembali) tradisi peranakan Tionghoa. Kita juga dapat melihat pembunuhan tradisi lama yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Pada Revolusi Turki tahun 1923, Mustafa Kemal mengeluarkan kebijakan pelarangan ajaran tarekat sufi, tradisi tulisan dan bahasa Arab, dan tradisi memakai fez (topi khas Turki). Selain membunuh, Mustafa Kemal juga menghidupkan tradisi baru, yang sampai sekarang masih terjaga. Yakni penggunaan tulisan Latin dan bahasa Turki, juga penggunaan topi (gaya khas orang-orang Eropa).

Reza Khan, Syah Iran yang berkuasa tahun 1925-1941, juga mengeluarkan kebijakan yang serupa dengan Mustafa Kemal. Reza melarang penggunaan turban tradisional, tradisi hijab, dan tradisi perayaan untuk menghormati imam-imam Syiah dan Husain. Akan tetapi setelah imperiumnya berakhir, tradisi-tradisi yang lama itu dihidupkan kembali oleh pemerintahan yang baru.

Sekali lagi, baik pengguna tradisi maupun pemerintah adalah sama-sama merupakan dua elemen yang sangat penting dalam menentukan hidup dan matinya sebuah tradisi.

Perbedaannya adalah, tradisi yang dibiarkan mati dan yang dipelihara agar tetap lestari oleh masyarakat pengguna tradisi, tidak akan lepas dari paradigma masyarakat pengguna tradisi yang memandang tradisi dari sudut pandang kegunaan atau manfaatnya. Sedangkan, tradisi yang “dibunuh” dan yang dipelihara atau dihidupkan kembali oleh pihak yang berkuasa (pemerintah), tidak akan lepas dari muatan-muatan politis. Tradisi ini umumnya hanya menguntungkan sebagian golongan, dan tidak peduli atas kerugian golongan lain.

Penulis, alumnus UPI Bandung, peminat seni tradisi.

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos