Naskah Sunda Kuno - Kumpulan Do'a, Jampe dan Silsilah



Ringkasan isi:
Isi naskah ini terdiri atas kumpulan jampe (mantra), doa dan beberapa kisah atau silsilah para bangsawan dari kerajaan tradisional di tatar Sunda. Tidak sedikit dalam naskah itu, jampe-jampe dikemas dalam bentuk isim yang dijadikan azimat. Disebutkan pula beberapa tuah dari jampe-jampe itu diantranya dari aspek sosial, ekonomi hingga bagaimana menciptakan hubungan suami istri yang harmonis lahir dan batin. Palintangan waktu dalam kehidupan mempunyai peran penting. Hari baik, bulan dan tahun baik ada waktunya (perhitungan ketentuan). Sementara doa-doa pun sangat penting untuk tercipta kesempurnaan hidup. Bermacam-macam doa mulai dari yang pernah digunakan Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Jika manusia melaksanakan dan konsisten dalam melakukannya, maka akan tercipta kesempurnaan dunia dan akherat (sejatining manusia). Itulah keutamaan doa.

KISAH 1
Diceritakan Sunan Amangkurat dari Kesultanan Mataram hendak melebur tembaga putih untuk dijadikan sebuah bedil (senjata api). Sunan mengumpulkan para Adipati dan menanyakan pada mereka siapa yang sanggup melebur tembaga putih. Tapi tidak ada seorangpun dari para Adipati yang sanggup. Kemudian Sunan Amangkurat bertapa di Kedaleman mencari petunjuk. Dalam pertapaan beliau mendapat petunjuk bahwa yang akan mampu melebur tembaga itu adalah seseoran Kyai Gandumayak. Kemudian Sunan menanyakan kepada para Adipati apakah ada yang bernama Kyai Gandumayak. Ki Ngabehi Wiranangga dari Galuh menjawab : Benar Gusti! Ada, tepatnya di wilayah Bangkelung.

Setelah mendengar jawaban Ki Ngabehi, Sang Sunan memanggil Kyai Gandumayak dan ditanya kesanggupannya untuk melebur tembaga putih, jika tidak sanggup maka akan dipenggal kepala Kyai itu. Kyai Gandumayak menyanggupi dengan kompensasi ia mendapatkan tanah (wilayah). Sunan mengabulkan permintaan Kyai Gandumayak dengan memberi beberapa tanah dari Wiranangga di Galuh, pangeran Suta Jaya di Gebang, Pangeran Rangga Gempol di Sumedang. Kemudian tembaga putih itu dilebur oleh Gandumayak dan dijadikan bedil dan dinamakan Guntur Geni. Setelah selesai membuat bedil diangkat oleh Sunan Amangkurat menjadi lurah dan diberi gelar Lurah Trenggana yang mempunyai cacah 750 jiwa, serta ditempatkan di Bangkelung, wilayah Galuh dan diberi Surat Piagam.

Sunan Amangkurat membuat pernyataan yang berisi penitipan Lurah Trenggana kepada 3 tumenggung, 4 rangga, dan 5 lurah Wangsa Raja juga kepada Kompeni supaya jangan sekali-sekali diganggu. Pernyataan Sunan Amangkurat dilanjutkan oleh penggantinya yaitu Kangjeng Sunan Dipati Puger. "Saya menitipkan Lurah Trenggana kepada 3 tumenggung, 4 rangga, dan 5 Lurah Wangsa Raja, Kapiten Jangkung, dan Kapiten Mayor. Jika terdapat anak cucu Lurah Trenggana di tanah kulon atau dimana-mana jangan diperlakukan sewenang-wenang atau diperkerjakan oleh kompeni karena tidak punya tanah. Barangsiapa memperkerjakannya kepada kompeni dan menganiaya, saya doakan celaka, durhaka serta tidak punya umur untuk keturunannya."

KISAH 2
Pancakaki Sakawayana bubar dari Padjadjaran, maka Prabu Siliwangi berputra Batara Sangon Waya dan Sunan Tampogawa berputra Sunan Jati Langgeng, berputra Sunan Jati Wisesa, berputra Sunan Panggeng, berputra Subang Karancang, berputra Prabu Haris Bancana punya adik Prabu Liman Senjaya, beradik Prabu Tartomas Sembung, Prabu Liman Kencana,Prabu Liman Dawah, Prabu Ngerah, Prabu Tunggang beradik Prabu Payung Kancana, berputra Prabu Harimangun, Prabu Indang Kancana, Prabu Haji Mentri berputra Santawaan Lukta Panggung berputra Santawaan Jagabaya, berputra Ki Ngabehi Naya Manggala, berputra Ki Ngabehi Patra yang memegang Tapes Wates Cutak Sukawayana.

KISAH 3
Sejarah Cihaur Manunggal muncul dari Jatining Pangeran, yakni Sang Ratu Sulton Sakti yang ada di Gunung Mandalawangi, Sang Ratu Wisesa yang ada di Curug Cimandiracun, Sang Ratu Taji Larang yang ada di Gunung Kuta, Sunan Guru Windu yang ada di Gunung Windu. Raden Aci Maya yang ada di hulu Cigunung Agung, Sang Ratu Aci Putih Maya Herang yang ada di gunung, Raden Sangiang yang ada di Gunung Picung, Raden Jaya Wisesa yang ada di Sangiyang Tapak, Raden Antera yang yang ada di Sangiang Ngantrang, Pangeran Ujug Putih yang ada di Hulu Cipancar, Raden Maya Sakti yang ada di Bojong Gowong, Raden Maya Wisesa yang ada di Bojong Pulus, Raden Sangkan Jaya yang ada di Gunung Haruman, Raden Sangkan Herang yang ada di Gunung Leutik, raden Kanawati yang ada di Hulu Cikacang, raden Sunia Larang yang ada di Gunung Kaledong, Ratu Mandala Agung yang ada di Hulu Cipari. Pangeran Mangkubumi yang ada di Sarongge, Raden Manik Sakti yang ada di Hulu Cikembulan.


Kondisi Naskah:
Kecamatan : Sukawening
Nama Pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 13 x 19 cm
Ruang tulisan : 9 x 14 cm
Keadaan naskah : baik
Tebal naskah : 263 Halaman
Jumlah baris per halaman : 10 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 10 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : besar
Warna tinta : hitam
Bekas pena : agak tajam
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas daluang
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : kecoklat-coklatan
Keadaan kertas : tebal agak keras
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : prosa

0 Waleran:

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos