Naskah Sunda Kuno - Layang Buana Wisesa



Ringkasan isi:
Konon ada dua orang kakak beradik bernama Buana dan Wisesa. Selama hidupnya antara keduanya selalu saling bertanya jawab masalah hidup dan mereka selalu berfikir mengenai nilai-nilai kehidupan. Buana bertempat tinggal di sebuah Kampung besar yang bernama Jembarngalah, sedangkan Wisesa bertempat tinggal di sebuah kampung kecil bernama Jamanngalah.

Pertanyaan pertama diajukan oleh Wisesa yang kemudian dijawab oleh Buana. Adapun pertanyaan itu berbunyi. "Ketika hidup di dunia bagaimana asal muasalnya dan bagaimana kita lahir dari orang tua itu?"

Kata Buana, "kita berada di tujuh alam, dan melalui tujuh alam itu kita lahir ke dunia. Ketujuh alam itu adalah alam akhadiat, alam wahdat, alam wahidiat, alam arwah, alam ajam, alam misal, dan alam insan kamil".

Selanjutnya Buana mengajukan pertanyaan kepada Wisesa yang isinya, "Apa yang akan ditempuh oleh orang yang akan meninggal dunia?" Wisesa menerangkan bahwa jalan yang akan ditempuh oleh orang yang akan mati melalui tujuh alam yang berlambangkan dalam tubuh kita sendiri yaitu lidah, telinga, hidung, mata, kulit, otak dan kemaluan. Kepada tujuh anggota badan itulah kita mengabdi selama hidup."

Karena kesenangan di akhirat nanti sangat tergantung pada penggunaan ketujuh anggota badan itu, yaitu apakah diabdikan kepada kehidupan duniawi saja ataupun bagi kepentingan hidup di akherat nanti, maka Wisesa memberi nasehat agar kita jangan terlalu mementingkan kehidupan di dunia saja.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh Wisesa setelah menjawab pertanyaan Buana, "Apa yang dapat dibawa dari kehidupan di dunia untuk kepentingan hidup di akherat nanti" Buana menerangkan bahwa ada lima hal pekerjaan di dunia, yaitu yang dilakukan oleh mata, hidung, telinga, mulut dan otak. Kelima pekerjaan itu seperti dilambangkan oleh Rukun Islam. Keterangan mengenai Rukun Islam oleh Buana dijelaskan dengan panjang lebar.

Nasehat-nasehat dari dua orang kakak beradik itu sangat penting buat kita yang pokoknya dalam hidup itu kita harus saling asah, saling asuh dan saling asih.


Kondisi Naskah:
Kecamatan : Sukawening
Nama Pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 16 x 21 cm
Ruang tulisan : 15 x 17 cm
Keadaan naskah : baik
Tebal naskah : 79 Halaman
Jumlah baris per halaman : 15 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 14 dan 17 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : hitam
Bekas pena : tumpul
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : putih kecoklat-coklatan
Keadaan kertas : tipis halus
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi, nasihat

0 Waleran:

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos