Naskah Sunda Kuno - Layang Muslimin Muslimat



Ringkasan isi:
Tersebutlah dua orang kakak beradik bernama Muslimin dan Muslimat. Muslimin, kakaknya seorang laki-laki, sedangkan adiknya Muslimat adalah perempuan. Muslimin berbeda dengan muslimat dalam hal penguasaan ilmu bagbagan keagamaan. Maka tidak heran ia sering didatangi adiknya yang bermaksud menanyakan masalah-masalah agama. Sementara Muslimin pun tidak menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan adiknya.

Pada suatu pagi ditengah ruang sepulang mereka sholat subuh dari surau nampak duduk berdua saling berhadapan, sementara di depan masing-masing terdapat makanan dan minum. Ketika itu tiba-tiba Muslimat berkata kepada kakaknya bahwa ia masih penasaran tentang hal sholat. Adapun yang ditanyakannya berbunyi "Sholat lima waktu itu dilakukan oleh semua umat Islam sebagai ibadah terhadap Allah SWT. Apakah sholat termasuk wajib atau fardu? Dan apa bedanya wajib dengan fardu?" Raden Muslimin menjawab "Sholat adalah fardu sesuai apa yang diucapkan kita sewaktu niat bersholat, usoli fardu isya misalnya, tidak usoli wajib isya". Wajib dan fardu beda sesuai dengan bahasanya namun meskipun berdua berbeda tetap harus disatukan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Wajib merujuk kepada masalah ilmu yang datang dari Allah SWT. Sedangkan fardu merupakan perintah dari Rosulullah SAW dalam hal ibadah. Masalah wajib yang datang dari Allah nyata sekali sesuai dengan hadis nabi bahwa semua umat manusia yang beragama wajib percaya adanya zat yang Maha Kuasa yakni Allah SWT. Wajib ma'rifat kepada kepada Allah SWT agar bisa kembali innalillahi wainnailahi roojiun. Jalannya tiada lain harus mengetahui zat-Nya yang utusan-Nya, hakekat Muhammad Rosulullah SAW. Jika sudah yakin kepada Muhammad, pada Allah SWT pun pasti yakin, sebab Allah tidak terlepas bagaikan gula dengan manisnya, air dengan dinginnya, ombak dengan lautan. Adapun masalah fardu, berkaitan dengan ibadah kepda Allah SWT sebagai kholik. Sebagai wujud jasmani harus turut perintah Rosul untuk melakukan fardu, seperti Rukun Islam yang lima itu : syahadat, sholat, zakat, puasa dan naik haji ke baitulloh. Fardu dan wajib kedua-duanya harus dikerjakan agar kita sempurna selamat lahir dan batin."

Kemudian Raden Muslimat menanyakan lagi tentang penting mana wajib dengan fardu. Dijawab oleh Raden Muslimin bahwa yang lebih penting adalah wajib sebab itu adalah perintah Allah kepada semua manusia, wajib ma'rifat kepada Allah, Adapun fardu dengan sendirinya akan mengikuti namun wajib adalah hal yang mutlak. Selanjutnya Muslimat bertanya tentang sifat Ghoniyun dalam hadis yang berarti bahwa Allah itu kaya tidak perlu kebutuhan-kebutuhan lagi. Kakaknya menjelaskan bahwa Allah masih memiliki Kebutuhan-kebutuhan Maha Suci, kebutuhan maha agung, bukan lagi orang yang beribadah, orang rajin mengaji, orang yang rajin memuji-Nya karena semua itu milik-Nya. Pada saat kakaknya menjelaskan demikian Raden Muslimat menyelanya dan mengatakan kepada Raden Muslimin sebagai sebagian orang murtad, karena keterangannya itu ia anggap bertolak belakang dengan keterangan dalil yang pernah ia temukan. Tetapi Raden Muslimin cepat-cepat pula memberi penjelasan. Dijelaskan oleh Muslimin: "Kebutuhan Allah itu adalah wujud. Buktinya segala makhluk ciptaan-Nya di dunia tetap masih ada. Manusia masih tetap berketurunan, karena masih berkembang biak, tumbuh-tumbuhan masih tetap bertunas, walaupun sudah banyak manusia yang mati, hewan-hewan disembelih tapi tidak kurang yang datang (lahir). Itu semua menandakan kebutuhan Allah."

Mengenai rusaknya makhluk hingga menimbulkan mati sesuai dalil Al-Qur'an "Kullu nafsin Daaikotul Maut" yang artinya semua badan atau tubuh akan akan mengalami mati. Dijelaskan bahwa itu kehendak Allah jika manusia tidak mati maka bumi akan penuh dan tidak ada tempat. Penjelasan itu oleh Muslimat di anggap tidak rasional sehingga ia bertanya, "Jika alasannya demikian mengapa Allah tidak berkehendak memperluas alam di dunia ini?" Muslimin dengan serta merta menjawab, "Dinda, perkara itu jangan dipikirkan, itu kehendak alam dunia ini. Hal itu sebagai tanda Allah berbeda dengan hawadis." Jika hawadis (mahluk) tidak rusak (langgeng), tidak mati, berarti sama dengan Allah sebagai Kholiq, pencipta hawadis. Kesimpulannya semua makhluk berbeda dengan Allah tidak akan bisa sama.

Mengenai kematian manusia tidak sama sesuai dengan usianya yang beda-beda. Ada yang mati ketika masih bayi, kakek-kakek, masih bujang ataupun setengah baya. Oleh karena hal tersebut menunjukkan Allah pemurah dan pengasih, sifat murah Allah sudah nyata dan dapat dirasakan oleh semua makhluk, termasuk manusia dengan disediakannya lima jenis untuk kehidupan di dunia ini. Kelima jenis dimaksud adalah : api, udara, tanah, air dan matahari. Satu dari kelima jenis tidak ada, maka manusia dan seluruh makhluk di dunia ini tidak akan mampu hidup. Sedangkan asihnya Allah itu memberikan kehidupan kepada semua makhluk-Nya tidak ada bedanya hingga ke Alam Akherat. Hidup langgeng tidak kena rusak atau mati, adapun yang kena rusak dan mati adalah raga atau jasmani.


Kondisi Naskah:
Kecamatan : Sukawening
Nama Pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
Asal naskah : salinan
Ukuran naskah : 16 x 21 cm
Ruang tulisan : 13 x 17 cm
Keadaan naskah : utuh
Tebal naskah : 73 Halaman
Jumlah baris per halaman : 27-30 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 26 dan 22 baris
Huruf : Latin
Ukuran huruf : kecil
Warna tinta : biru
Bekas pena : tumpul
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : putih
Keadaan kertas : tebal agak keras
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : prosa

0 Waleran:

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos