Naskah Sunda Kuno - Samaun



Ringkasan isi:
Nyi Siti Huna di negeri Mekah bersuamikan Ki Halid. Mereka masih menyembah berhala. Karena putranya yang sembilan orang itu perempuan semua, mereka selalu berdo'a agar dikaruniai anak laki-laki. Permohonan kedua suami istri itu dikabulkan, maka lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Samaun. Begitu bayi itu dilahirkan, serentak bayi itu berlari keluar rumah dan bersujud kepada Allah sambil mengucapkan kalimat syahadat. Nyi Siti Huna sangat terkejut, apalagi ketika disuruh menyusu tidak mau bahkan berkata tidak mau menyusu karena ibunya seorang kafir. Demi kebahagiaan anaknya, Kemudian Siti Huna masuk Islam Dan mengucapkan syahadat.

Di tempat tidur Samaun selalu bercakap-cakap dengan ibunya. Ki Halid melihat kenyataan bahwa anaknya baru tiga hari sudah dapat berbicara dan meminta agar ayahnya masuk Islam, maka Ki Halid pun masuk Islam dan mengucapkan syahadat.

Nabi Muhammad mendengarkan ada anak yang baru dilahirkan sudah dapat berbicara dan kedua orang tuanya sudah masuk Islam, berkenan pergi melayat. Samaun dipangku dan dicium nabi Muhammad. Abu Jahal mendengar Nabi Muhammad telah melayat keluarga Ki Halid, berkenan pula pergi menengok Samaun. Akan tetapi, baru saja Abu Jahal masuk di pekarangan. Samaun berteriak-teriak mengancam sehingga Abu Jahal lari pontang-panting. Atas kelakuan Samaun semacam itu menimbulkan kemarahan Abu Jahal. Patih Surakah dimintai tolong oleh oleh Abu Jahal agar Nabi Muhammad dan samaun diusir dari Mekah. Ketika diadakan pembicaraan bagaimana caranya mengusir Samaun, ternyata tidak ada yang sanggup. Oleh karena itu Abu jahal meminta bantuan kepada Kin Wan raja di negeri Iskandar.

Sebelum Kin Wan datang melapor ke Abu jahal akan menangkap Samaun dilewatinya rumah Samaun itu. Kin Wan terpancing pertengkaran mulut dengan Samaun sehingga kemudian berkelahi dan Kin Wan terbunuh. Rakyat Mekah geger menyaksikan Kin Wan terbunuh itu. Abu Jahal bertambah marah, dikumpulkannya tentara dan dikepungnya rumah Samaun. Akan tetapi setiap orang yang akan menangkap Samaun selalu mati terbunuh.

Pada suatu ketika Samaun bertemu dengan Abu Jahal di pasar. Terjadilah percakapan yang tidak mengenakkan Abu Jahal, apalagi setelah Samaun berkata agar putrinya diberikan untuk dijadikan istri. Samaun masuk ke rumah Abu Jahal. Di rumah Abu Jahal Samaun menjumpai dua orang wanita dan satu diantaranya adalah putri Abu jahal, kedua orang wanita itu kemudian masuk Islam dan dibawa ke rumah Samaun. Abu Jahal bukan main berangnya, tetapi ia bingung pula memikirkan bagaimana cara mengusir Samaun dan nabi Muhammad.

Tersebutlah di negeri Swara yang dirajai oleh Kobti mempunyai seorang putri bernama Siti mariyah, walaupun sudah dilamar oleh banyak raja, tetapi selalu ditolak oleh ayahnya, Siti Mariyah menyuruh orang untuk datang kepada Nabi Muhammad. Siti Mariyah meminta Nabi Muhammad agar datang melamarnya. Mula-mula Nabi Muhammad bingung, tetapi setelah mendapat restu dari Siti Aisyah, istrinya, dan pula setelah mendapat wahyu maka berangkatlah Nabi Muhammad berikut pengikutnya ke negari Swara. Raja Swara tidak senang atas kedatangan Nabi Muhammad itu dan terjadilah peperangan. Peperangan atas kedua belah pihak akhirnya dimenangkan oleh tentara Nabi Muhammad meskipun jumlah tentara Kobti lebih banyak. Samaun dalam peperangan ini bukan main berjasanya, bahkan Siti Mariyah putri raja Kobti pun dapat dibawa lari oleh Samaun, yang kemudian diserahkan kepada Nabi Muhammad. Raja Kobti berikut para pengawalnya mati terbunuh oleh Ali, sahabat Nabi. Para prajurit Kobti yang masih hidup bersama-sama Siti Mariyah kemudian masuk Islam. Seluruh harta kekayaan negeri Kobti dibawa ke negeri Mekah dan diperlakukan sebagai barang gonimah.


Kondisi Naskah:
Kecamatan : Cikelet
Nama Pemegang naskah : Aki Ebeng
Tempat naskah : Desa Cikelet Kulon
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 16.3 x 21 cm
Ruang tulisan : 14 x 19 cm
Keadaan naskah : hilang sebagian
Tebal naskah : 72 Halaman
Jumlah baris per halaman : 16 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 14 dan 16 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : biru
Bekas pena : tumpul
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : putih
Keadaan kertas : halus, agak tebal
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi

0 Waleran:

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos