Naskah Sunda Kuno - Walangsungsang



Ringkasan isi:
Prabu Siliwangi, raja Padjadjaran mempunyai dua orang putra, yang sulung laki-laki bernama Walangsungsang, dan adiknya perempuan bernama Rara Santang. Disamping kedua putranya itu, Baginda mempunyai putra yang lainnya pula sebanyak sembilan orang. Tetapi mereka meloloskan diri dari keratin. Kesembilan putranya itu terdiri atas lima orang laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka bertapa di Gunung yang saling berjauhan. Seorang putranya laki-laki bertapa di Jakarta, yang lain di Tanjung Kuning bernama Santang Partala, sedang yang lainnya lagi bernama Garantang Setra, Ishu Gumare di Lebak dan Sang Sekarsari. Adapun putra-putranya yang perempuan adalah Nyi Tanjung Buana betapa di Pesisir Barat, Nyi Gending Juri atau Nyi Panjang Nagara di pesisir Selatan, Nyi Ratu di Kawali, dan Nyi Sekar Bang di Karang Pangantik.

Pada suatu malam Walangsungsang bermimpi. Dalam mimpi ia bertemu dengan Rosul yang menganjurkan agar pergi menuju Gunung Amparan dan menemui Syeh Jati, seorang guru dari Mekah. Keesokan harinya Walangsungsang memberikan impiannya itu kepada ayahnya. Prabu Siliwangi setelah mendengar pembicaraan Walangsungsang sangat murka. Lalu Walangsungsang berjalan menuju Karawang menemui Syeh Orah, yaitu seorang guru keturunan Qurais yang menganggap guru kepada Syeh Gunung Jati.

Atas petunjuk Syeh Ora, Walangsungsang pergi menuju Gunung Amparan untuk berguru kepada Syeh Nurjati. Tetapi di tengah perjalanan ia singgah dulu di padepokan agama Budha. Ia belajar agama Budha dari Pandita Danuwarsi sampai paham betul tentang seluk-beluk agama itu.

Dikisahkan Rara Santang akhirnya melaksanakan pula pesan kakaknya. Ia meninggalkan keraton menyusul Walangsungsang. Di Gunung Tangkuban Perahu ia bertemu dengan Nyai Indang Sakiti, yakni adik Prabu Siliwangi. Dari Nyai Indang, Rara Santang memperoleh hadiah azimat baju antakusumah. Khasiat baju tersebut, barangsiapa yang memakai baju tersebut maka ia dapat terbang. Kemudian Rara Santang berganti nama menjai Nyi Batin. Ia meninggalkan Gunung Tangguban Perahu dan pergi ke Gunung Cilawung, atas anjuran Nyi Indang Sakiti. Di Gunung Cilawung Nyi Batin bertemu dengan Sang Banjaran Angganati, seorang pendeta. Sebuah nama diberikan oleh pendeta itu kepada Nyi Batin, ialah nama Nyi Eling.

Pertemuan kakak beradik, Walangsungsang dan Rara Santang terjadi di tempat kediaman pendeta Danu Wargi. Pendeta itu mempunyai seorang anak perempuan bernama Nyi Endang Geulis yang kemudian dikawin oleh Walangsungsang. Walangsungsang diberi sebentuk cincin ampil ali-ali dan nama baru yakni Samadulahi. Walangsungsang terus mencari guru agama Islam. Sampai ada petunjuk terus melanjutkan perjalanan ke Gunung Jati. Petunjuk itu datang dari raja Bango yang berhasil ditaklukan Walangsungsang ketika ia akan mendapatkan azimat berupa pandil baja. Di Gunung Jati ada Syeh Nurjati, nama lainnya Syeh Nurbayan, cucu Nabi Muhammad. Putra raja Padjadjaran itu menyatakan tunduk kepada Syeh Nurjati dan ia berguru agama Islam. Syeh Nurjati memberi nama kepada Walangsungsang, Cakrabumi.

Pada suatu waktu Syeh Nurjati menengok Walangsungsang di Sembung Luwung. Saat itulah Syeh Nurjati menyuruh Walangsungsang dan Rara Santang untuk pergi ke Baitulloh. Kemudian kedua kakak beradik itu pergi ke Mekah dengan membawa sepucuk surat dari Syeh Nurjati yang dialamatkan kepada Syeh Bayan. Kepada Syeh Bayan inilah Walangsungsang berguru agama Islam.

Dikisahkan Rara Santang diperistri oleh raja Mesir dan mempunyai dua orang anak, ialah Syarif Hidayat dan Syarif Arifin. Adapun Walangsungsang setelah diberi Sorban oleh raja Mesir dan perbekalan di Arab kembali lagi ke Pulau Jawa dengan Nama Abdul Keman. Dalam perjalanannya ia singgah dulu di Aceh. Di sana ia mengobati Sultan Kut dan kawin dengan anak sultan itu.

Diceritakan oleh yang empunya cerita bahwa Syarif Hidayat mencari Nabi Muhammad. Atas pertolongan Abdul Safari dengan memberikan dua buah barang yang berasal dari Malaikat Jibril. Syarif Hidayat dapat mengadakan perjalanan Mi?raj. Ia bertemu dengan Nabi Muhammad dan mengadakan percakapan tentang rahasia hidup dan mati. Atas perintah Nabi Muhammad. Syarif Hidayat akhirnya pergi ke Gunung Jati di Pulau Jawa dan berjumpa lagi dengan ibunya, Rara Santang yang sudah pulang dari Mesir, di Cirebon. Sebelum ia bermukim di Gunung Jati dengan nama Sunan Jati Purba, ia pernah berkelana di Jawa, Madura, Palembang dan Cina.


Kondisi Naskah:
Kecamatan : Wanaraja
Nama Pemegang naskah : Imas Darwati
Tempat naskah : Desa Tegalsari
Asal naskah : pemberian dari Ny. Titi, Cinunuk Garut
Ukuran naskah : 17 x 21.5 cm
Ruang tulisan : 11 x 15 cm
Keadaan naskah : baik
Tebal naskah : 266 Halaman
Jumlah baris per halaman : 13 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 14 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : hitam
Bekas pena : tajam
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas tidak bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : kekuning-kuningan
Keadaan kertas : tebal, halus
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi

0 Waleran:

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos