Kesatuan Adat Banten kidul Kasepuhan Sinar Resmi

|0 waleran

Kesepuhan Sinar Resmi terletak di Desa Sirna Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi yang terletak diantara perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Dengan begitu termasuk kategori daerah adat yang di kenal dengan sebutan
“Kesatuan Adat Banten kidul Kasepuhan Sinar Resmi“.
Komunitas Adat ini meliputi tiga Kabupaten yaitu :

1. Kabupaten Sukabumi (Provinsi Jawa barat)
2. Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa barat)
3. Kabupaten Lebak (Provinsi Banten)

Seiring perkembangan zaman dan laju pertumbuhan di segala bidang menyikapi hal tersebut, maka salah satu program prioritas di lingkungan Kesatuan Adat Banten Kidul mengadakan Acara Ritual Adat Seren Taun yang merupakan sikap responsif terhadap aspirasi masyarkat disekitar Kasepuhan Sinar Resmi, sebagai bukti peran aktif dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghormati warisan leluhur yaitu dengan cara Mempertahankan ciri adat kebudayaannya.

Naskah Kuno - Pustaka dan Tradisi Mandala

|2 waleran
Naskah Kuno (Tradisi Mandala) di Sunda ngeunaan Ilmu Pengetahuan:
(1) Caradigama Sastra (lmu Etika dan Tatakrama)
(2) Caracara Pustaka (Naskah Ilmu Binatang dan Tumbuhan)
(3) Candrāditya Grahana Sastra (Ilmu Pengetahuan Gerhana Bulan dan Matahari)
(4) Sastradaksa Pustaka (Naskah Ilmu Kesusastraan)
(5) Sastrakala Sastra (Ilmu Karawitan)
(6) Sarwa Satwānggalika Sastra (Ilmu Menjinakan Binatang)
(7) Garbawasa Sastra (Ilmu Kebidanan)
(8) Hémanta Pustaka (Naskah Ilmu Musim Dingin)
(9) Hastisiksa Sastra (Pengetahuan Tentang Gajah)
(10) Pustaka Jaladimantri (Naskah Ilmu Kelautan)
(11) Pustaka Sénapati Sarwajala (Naskah Memimpin Perang Laut)
(12) Pustaka Kawindra (Naskah Penyair Besar)
(13) Sarwa Krawyada Sastra (Pengetahuan Berbagai Binatang Buas)
(14) Carita Lahrumasa (Kisah Musim Kemarau)
(15) Serat Madiragawé (Petunjuk Membuat Minuman Keras)
(16) Wanadri Sastra (Pengetahuan Hutan dan Pegunungan)
(17) Ratnapéni Sastra (Pengetahuan Berbagai Perhiasan)
(18) Pustaka Gulay-gulayan (Naskah Tentang Rempah-rempah)
(19) Serat Saptawara, Pancawara, Sadwara Masa (Petunjuk Siklus Tujuh Harian, Lima Harian, Enam Harian)
(20) Serat Candrasangkala lawan Suryasangkala (Petunjuk Siklus Tahun Bulan dan Tahun Matahari)
(21) Rénacumba Sastra (Ilmu Mendidik Anak)
(22) Wihangpretadi Sastra (Ilmu Penangkal Gaib)
(23) Iti Candani Sastra (Pengetahuan Tentang Bebatuan)
(24) Digwidig Sastra (Pengetahuan Tentang Arah Mata Angin)
(25) Maryadépananggraha Sastra (Pengetahuan Adat Pernikahan)
(26) Jyotisa Sastra (Ilmu Astronomi)
(27) Serat Prasadétiraning Sagara (Petunjuk Tentang Menara di Tepi Pantai)
(28) Pustaka Sarwa Gosana Raja (Naskah Berbagai Pengumuman Raja)
(29) Piterpuja Tantra (Pedoman Pemujaan Arwah)
(30) Smaragama Sastra (Pengetahuan Seni Asmara)
(31) Pustaka Yogasamadi (Naskah Tentang Berkontemplasi)
(32) Pustaka Sasanawakta (Ilmu Tata Cara Berpidato)

Naskah Kuno (Pustaka Mandala) di Sunda ngeunaan obat-obatan jeung panyakit:
(1) Kalpasastra (Ilmu Obat-obatan)
(2) Sarwa Wyadi Sastra (Ilmu Berbagai Penyakit)
(3) Yaksami Sastra (Ilmu Penyakit Paru-paru)
(4) Sarwosadawédya Sastra (Ilmu berbagai Pengobatan)
(5) Usadilata Sastra (Ilmu Tanaman Obat)
(6) Usadawédya Sastra (Ilmu Pengobatan)
(7) Sarpa Wisosada Sastra (Ilmu Pengobatan Racun)
(8) Sarwa Wyadayanang Janapada (Berbagai Penyakit Masyarakat)
(9) Serat Wyadaya Sarwa Satwa (Catatan Penyakit Berbagai Hewan)
(10) Kajamasosada Sastra (Ilmu Perawatan Rambut)
(11) Sarwa Pārnosada Sastra (Ilmu Berbagai Obat Penyakit Parah)
(12) Pustaka Wyadikang Nirosada (Kitab Penyakit Yang Tak Ada Obatnya)
(13) Gamyosadi Sastra (Ilmu Obat Mujarab)
(14) Ayurwéda Sastra (Ilmu Ketabiban)
(15) Sarwa Kusalasala Sastra (Ilmu Berbagai Kedokteran)

(Dok.Salakanagara)

Menguak Konsep Kosmologi Sunda Kuno

|0 waleran
Pada zaman kuno (masa pra-Islam) orang Sunda memiliki konsep tersendiri tentang jagat raya. Konsep tersebut merupakan perpaduan antara konsep Sunda asli, ajaran agama Budha, dan ajaran agama Hindu. Uraian mengenai hal ini antara lain terdapat dalam naskah lontar Sunda Kropak 420 dan Kropak 422 yang kini tersimpan sebagai koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta. Kedua naskah yang ditulis pada daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuna itu berasal dari kabuyutan Kawali, termasuk daerah Kabupaten Ciamis sekarang.
 
Dulu di kabuyutan Kawali tersimpan sejumlah naskah lontar Sunda dan barang pusaka lainnya peninggalan kerajaan Sunda. Lokasi tersebut selain pernah menjadi ibu kota Kerajaan Sunda-Galuh, juga menjadi tempat pengungsian sejumlah pejabat dan rakyat Kerajaan Sunda-Pajajaran, setelah ibu kota kerajaan mereka (Pakuan Pajajaran) di sekitar Kota Bogor sekarang diserang dan diduduki oleh pasukan Islam Banten-Cirebon. Bersama dengan naskah-naskah lontar lainnya, kedua naskah lontar tersebut diserahkan oleh Bupati Galuh R.A. Kusumadiningrat (memerintah tahun 1839-1886) kepada Museum Gedung Gajah (Museum Nasional sekarang) pada perempatan ketiga abad ke-19.

Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda

|2 waleran
Ajaran Islam di Tatar Sunda selain telah mengubah keyakinan seseorang dan komunitas masyarakat Sunda juga telah membawa perubahan sosial dan tradisi yang telah lama dikembangkan orang Sunda. Penyesuaian antara adat dan syariah seringkali menunjukkan unsur-unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan sebelumnya. Hal tersebut dapat dipahami karena para penyebar Islam dalam tahap awal menggunakan strategi dakwah akomodatif dengan mempertimbangkan sistem religi yang telah ada sebelumnya.

 
Masuknya Islam Ke Tatar Sunda


ABAD pertama sampai keempat hijriyah merupakan fase awal proses kedatangan Islam ke Nusantara. Hal ini antara lain ditandai kehadiran para pedagang Muslim yang singgah di berbagai pelabuhan di Sumatra sejak permulaan abad ke-7 Masehi. Proses Islamisasi di tatar Sunda terjadi dan dipermudah karena adanya dukungan dari kedua belah pihak yakni orang-orang Muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan masyarakat yang menerimanya.

Benarkah Ki Sunda Sudah Terpuruk?

|0 waleran
Saat ini banyak kalangan di tatar Sunda mengulas tentang keberadaan Ki Sunda. Pada umumnya mereka mengulas tentang memudarnya jati diri Ki Sunda yang seolah telah hilang atau ditinggalkan oleh sebagian besar Ki Sunda khususnya oleh generasi muda karena bermacam sebab. kekecewaan demi kekecewaan tercetus karena merasa bahwa Ki Sunda saat ini sudah mulai terpuruk dan keberadaannya bagai jati kasilih ku junti, benarkah demikian?
 
Sejarah tatar Sunda, sepenggal kecil wilayah dari sekian luas kawasan nusantara, kepulauan terbesar di dunia, sejak dahulu kala konon sudah banyak disinggahi para pendatang dari berbagai belahan bumi, seakan memiliki pesona dan magnet yang mampu menyedot para pendatang untuk datang dan bermukim di sini. Pembauran ras dan budaya bercampur aduk, secara bertahap berkembang membentuk budaya baru dan baru lagi. Budaya yang selalu dinamis berkembang mengikuti perjalanan waktu, mulai dari pola pikir dan pola hidup yang paling sederhana sampai kepada pola yang kita jalani di abad 21 ini.

Kerajaan Pajajaran

|0 waleran

Munculnya nama Kerajaan Pajajaran menggantikan nama Sunda Galuh seiring dengan penobatan Jayadewata atau yang dikenal dengan Sri Baduga Maharaja, Prabu Wangi / Siliwangi (1482-1521) selanjutnya setelah Prabu Wangi, para raja diberi gelar Silihwangi, (Silih = pengganti setelah yang pertama, seperti Silihmulud). Prabu Siliwangi memilih Pakuan sebagai ibukota, sehingga dikenal juga nama Pakuan Pajajaran.

Barangkali Prabu Siliwangi ini merupakan raja yang paling melekat namanya di hati masyarakat Sunda kontemporer. Beliau sering dikenal sebagai karuhun urang Sunda. Ditilik kiprahnya dalam sejarah Sunda, memang beliau banyak membuat karya besar pada jamannya. Yang utama adalah pada masa pemerintahannya rakyat makmur sejahtera. Perdagangan meningkat pesat ditunjang oleh kontrol penuh atas selat Sunda, Pelabuhan Banten, Pelabuhan (Sunda) Kalapa, dan Muara Jati Cirebon. Penguasaan atas pelabuhan Cirebon kemudian diberikan kepada Raden Walangungsang, anaknya dari Subanglarang, yang seorang muslimah. Pada masanya juga ditandatangani perjanjian dagang dan keamanan dengan penguasa selat Malaka, Portugis. Sementara di dalam negeri, dibangunlah situs Rancamaya (Bogor sekarang).

Kerajaan Galuh

|0 waleran


Ini adalah sebuah perjalanan panjang dari sepasang kerajaan yang bercikal bakal dari Tarumanagara. Dalam rentang waktu hampir 1000 tahun, dua kerajaan ini, Sunda dan Galuh mengalami masa putus nyambung hampir sepanjang sejarahnya.

Sejarah bermula dari eksodus seorang brahmana India bernama Manikmaya, yang oleh raja ke-7 Taruamanagara, Suryawarman, difasilitasi untuk membangun Kerajaan Kendan (lokasi Nagreg sekarang). Karena watak rata rata Kerajaan tatar sunda yang memperlakukan kerajaan kerajaan bawahannya sebagai kerajaan otonom, maka Kerajaan Kendan pun diwariskan secara turun temurun. Dari Manikmaya diteruskan oleh Rajaputra Suraliman Sakti, diteruskan oleh Kandiawan, yang kebetulan sudah mempunyai kerajaan sendiri, yaitu Medang Jati. Setelah Kandiawan lebih memilih untuk jadi petapa, maka kekuasaan diserahkan kepada anak bungsunya, yaitu Wretikandayun (612-702). Wretikandayun lebih tertarik mendirikan kerajaan baru, yang dinamakan Galuh, yang berarti permata.

Kerajaan Indrapahasta

|0 waleran


Bila ada kerajaan kecil di tatar Sunda yang bertahta melintas jaman, mulai dari era Salakanagara, Tarumanagara, hingga Sunda Galuh, ia lah Kerajaan Indraprahasta. Hanya karena salah memihak, pada tahun 726 M kerajaan ini dihancurkan Raja Sanjaya dari kerajaan Sunda. Memang sayang untuk sebuah kerajaan yang telah berusia lebih dari 350 tahun.
 
Lokasi Kerajaan ini kurang lebih di Cirebon selatan sekarang. Seperti halnya riwayat kerajaan kerajaan Sunda kuno, pendirian kerajaan ini diawali kedatangan maharesi dari India. Maharesi Sentanu melarikan diri dari Sungai Gangga menghindari kejaran Raja Samudragupta.

Kerajaan Medang Jati

|0 waleran

Kerajaan Medang Jati merupakan kerajaan bawahan Tarumanegara.
Terletak di daerah Sumedang sekarang. Sebagai raja pertama dan terakhir adalah Kandiawan (597-612). Ia menjadi raja dua kerajaan kecil sekaligus karena Kerajaan Kendan diwariskan kepadanya oleh ayahandanya, Manikmaya.
 
Ia kemudian memilih jadi petapa di Layungwatang, Kuningan. Kekuasaan kemudian diberikan kepada anak bungsunya, Wretikandayun. Namun sang anak memilih mendirikan kerajaan baru bernama Galuh. Sebuah pilihan penuh makna, karena kelak Galuh menjadi Kerajaan besar, setara dengan Kerajaan Tarumanegara..
 

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos