Naskah Kuno - Pustaka dan Tradisi Mandala

|0 waleran
Naskah Kuno (Tradisi Mandala) di Sunda ngeunaan Ilmu Pengetahuan:
(1) Caradigama Sastra (lmu Etika dan Tatakrama)
(2) Caracara Pustaka (Naskah Ilmu Binatang dan Tumbuhan)
(3) Candrāditya Grahana Sastra (Ilmu Pengetahuan Gerhana Bulan dan Matahari)
(4) Sastradaksa Pustaka (Naskah Ilmu Kesusastraan)
(5) Sastrakala Sastra (Ilmu Karawitan)
(6) Sarwa Satwānggalika Sastra (Ilmu Menjinakan Binatang)
(7) Garbawasa Sastra (Ilmu Kebidanan)
(8) Hémanta Pustaka (Naskah Ilmu Musim Dingin)
(9) Hastisiksa Sastra (Pengetahuan Tentang Gajah)
(10) Pustaka Jaladimantri (Naskah Ilmu Kelautan)
(11) Pustaka Sénapati Sarwajala (Naskah Memimpin Perang Laut)
(12) Pustaka Kawindra (Naskah Penyair Besar)
(13) Sarwa Krawyada Sastra (Pengetahuan Berbagai Binatang Buas)
(14) Carita Lahrumasa (Kisah Musim Kemarau)
(15) Serat Madiragawé (Petunjuk Membuat Minuman Keras)
(16) Wanadri Sastra (Pengetahuan Hutan dan Pegunungan)
(17) Ratnapéni Sastra (Pengetahuan Berbagai Perhiasan)
(18) Pustaka Gulay-gulayan (Naskah Tentang Rempah-rempah)
(19) Serat Saptawara, Pancawara, Sadwara Masa (Petunjuk Siklus Tujuh Harian, Lima Harian, Enam Harian)
(20) Serat Candrasangkala lawan Suryasangkala (Petunjuk Siklus Tahun Bulan dan Tahun Matahari)
(21) Rénacumba Sastra (Ilmu Mendidik Anak)
(22) Wihangpretadi Sastra (Ilmu Penangkal Gaib)
(23) Iti Candani Sastra (Pengetahuan Tentang Bebatuan)
(24) Digwidig Sastra (Pengetahuan Tentang Arah Mata Angin)
(25) Maryadépananggraha Sastra (Pengetahuan Adat Pernikahan)
(26) Jyotisa Sastra (Ilmu Astronomi)
(27) Serat Prasadétiraning Sagara (Petunjuk Tentang Menara di Tepi Pantai)
(28) Pustaka Sarwa Gosana Raja (Naskah Berbagai Pengumuman Raja)
(29) Piterpuja Tantra (Pedoman Pemujaan Arwah)
(30) Smaragama Sastra (Pengetahuan Seni Asmara)
(31) Pustaka Yogasamadi (Naskah Tentang Berkontemplasi)
(32) Pustaka Sasanawakta (Ilmu Tata Cara Berpidato)

Naskah Kuno (Pustaka Mandala) di Sunda ngeunaan obat-obatan jeung panyakit:
(1) Kalpasastra (Ilmu Obat-obatan)
(2) Sarwa Wyadi Sastra (Ilmu Berbagai Penyakit)
(3) Yaksami Sastra (Ilmu Penyakit Paru-paru)
(4) Sarwosadawédya Sastra (Ilmu berbagai Pengobatan)
(5) Usadilata Sastra (Ilmu Tanaman Obat)
(6) Usadawédya Sastra (Ilmu Pengobatan)
(7) Sarpa Wisosada Sastra (Ilmu Pengobatan Racun)
(8) Sarwa Wyadayanang Janapada (Berbagai Penyakit Masyarakat)
(9) Serat Wyadaya Sarwa Satwa (Catatan Penyakit Berbagai Hewan)
(10) Kajamasosada Sastra (Ilmu Perawatan Rambut)
(11) Sarwa Pārnosada Sastra (Ilmu Berbagai Obat Penyakit Parah)
(12) Pustaka Wyadikang Nirosada (Kitab Penyakit Yang Tak Ada Obatnya)
(13) Gamyosadi Sastra (Ilmu Obat Mujarab)
(14) Ayurwéda Sastra (Ilmu Ketabiban)
(15) Sarwa Kusalasala Sastra (Ilmu Berbagai Kedokteran)

(Dok.Salakanagara)

Menguak Konsep Kosmologi Sunda Kuno

|0 waleran
Pada zaman kuno (masa pra-Islam) orang Sunda memiliki konsep tersendiri tentang jagat raya. Konsep tersebut merupakan perpaduan antara konsep Sunda asli, ajaran agama Budha, dan ajaran agama Hindu. Uraian mengenai hal ini antara lain terdapat dalam naskah lontar Sunda Kropak 420 dan Kropak 422 yang kini tersimpan sebagai koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta. Kedua naskah yang ditulis pada daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuna itu berasal dari kabuyutan Kawali, termasuk daerah Kabupaten Ciamis sekarang.
 
Dulu di kabuyutan Kawali tersimpan sejumlah naskah lontar Sunda dan barang pusaka lainnya peninggalan kerajaan Sunda. Lokasi tersebut selain pernah menjadi ibu kota Kerajaan Sunda-Galuh, juga menjadi tempat pengungsian sejumlah pejabat dan rakyat Kerajaan Sunda-Pajajaran, setelah ibu kota kerajaan mereka (Pakuan Pajajaran) di sekitar Kota Bogor sekarang diserang dan diduduki oleh pasukan Islam Banten-Cirebon. Bersama dengan naskah-naskah lontar lainnya, kedua naskah lontar tersebut diserahkan oleh Bupati Galuh R.A. Kusumadiningrat (memerintah tahun 1839-1886) kepada Museum Gedung Gajah (Museum Nasional sekarang) pada perempatan ketiga abad ke-19.
 
Kosmologi Sunda kuna membagi jagat raya ke dalam tiga alam, yaitu bumi sangkala (dunia nyata, alam dunia), buana niskala (dunia gaib, alam gaib), dan buana jatiniskala (dunia atau alam kemahagaiban sejati). Bumi sangkala adalah alam nyata di dunia tempat kehidupan makhluk yang me miliki jasmani (raga) dan rohani (jiwa). Makhluk demikian adalah yang disebut manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
 
Buana niskala adalah alam gaib sebagai tempat tinggal makhluk gaib yang wujudnya hanya tergambar dalam imajinasi manusia, seperti dewa-dewi, bidadara-bidadari, apsara-apsari, dll. Jumlah dan ragam makhluk tersebut banyak dan bisa bergabung satu dengan lainnya serta berkedudukan lebih tinggi daripada manusia. Buana niskala yang disebut juga kahyangan yang terdiri atas surga dan neraka.
 
Naskah Kropak 422 menyebutkan Pwah Batari Sri, Pwah Lengkawati, Pwah Wirumananggay, dan Dayang Trusnawati sebagai penghuni buana niskala. Di samping itu, penghuni buana niskala lainnya di antaranya 9 dewi, seperti Dewi Tunyjung Herang, Dewi Sri Tunyjung Lenggang, Dewi Sari Banawati, dan 45 bidadari yang disebutkan namanya, antara lain Bidadari Tunyjung Maba, Bidadari Naga Nagini, Bidadari Endah Patala, Bidadari Sedajati.
 
Buana jatiniskala adalah alam kemahagaiban sejati sebagai tempat tertinggi di jagat raya. Penghuninya adalah zat Maha Tunggal yang disebut Sang Hyang Manon, zat Maha Pencipta yang disebut Si Ijunajati Nistemen. Zat inilah yang tingkat kegaiban dan kekuasaannya paling tinggi. Dialah pencipta batas, tetapi tak terkena batas. Dengan demikian, tiap-tiap alam mempunyai penghuninya masing-masing yang wujud, sifat, tingkat, dan tugas/kewenangannya berbeda.
 
Kosmologi Sunda kuna berbeda dengan kosmoligi Islam. Dalam ajaran Islam jagat raya digambarkan terdiri dari 5 alam, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Kosmologi menurut konsep Islam cenderung didasarkan pada urutan kronologis kehidupan manusia (dan makhluk lainnya). Alam roh dan alam rahim yang merupakan alam gaib menjadi tempat kehidupan manusia sebelum lahir ke dunia (alam dunia), sementara alam barzah dan alam akhirat yang juga merupakan alam gaib menjadi tempat kehidupan manusia sesudah mengalami kematian. Kehidupan manusia di alam dunia sangat menentukan kehidupannya di alam kubur dan alam akhirat.
 
Jika kosmologi Islam mencerminkan gambaran urutan kronologis kehidupan manusia, kosmologi Sunda kuna mencerminkan gambaran jenis penghuninya dan tingkat kegaibannya. Karena itu kosmologi Sunda kuna menggambarkan pula tinggi-rendah kedudukannya, baik kosmosnya maupun penghuninya. Kosmologi Sunda kuna tidak mengungkapkan adanya alam yang dihuni oleh roh manusia sebelum lahir ke alam dunia (bumi sakala). Walaupun tempat hidup manusia di alam dunia, tapi setelah kematian ada dua kemungkinan tempatnya, yaitu (1) kembali ke alam dunia dalam wujud yang derajatnya lebih rendah (menjadi hewan, tumbuhan atau benda lainnya sesuai dengan kepercayaan reinkarnasi) dan (2) menuju alam niskala, bahkan terus ke alam jatiniskala (menyatu dengan kehidupan dewa dan kemudian mahadewa).
 
Yang menentukan tempat seseorang sesudah kematian adalah sikap, perilaku, dan perbuatannya selama hidup di dunia. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya buruk, bertentangan dengan perintah dan sesuai dengan larangan ajaran agama, ia akan kembali lagi ke alam dunia dalam wujud yang lebih rendah derajatnya (kepercayaan reinkarnasi) atau masuk ke dalam siksa neraka. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya baik, sesuai dengan perintah dan bertentangan dengan larangan ajaran agama, ia (rohnya) akan naik menuju alam niskala yang menyenangkan (surga) dan bahkan ke alam jatiniskala yang paling menenteramkan. Kejadian tersebut disebut moksa dan merupakan jalan ideal yang selalu didambakan oleh manusia. Dalam hal ini prinsip dampak kehidupan sesudah manusia mati mengandung kesejajaran dengan konsep Islam, yaitu bertalian dengan situasi dan kondisi kehidupan manusia di alam akhirat ditentukan oleh sikap, perilaku, dan perbuatannya di alam dunia.
 
Sehubungan dengan adanya jalan ideal yang menghubungkan bumi sakala (alam dunia) dengan buana niskala dan buana jatiniskala (alam akhirat), maka dalam naskah lontar Kropak 420 diutarakan secara panjang lebar tentang ciri-ciri dan sifat kehidupan di bumi sakala, sedangkan dalam Kropak 422 dikemukakan ciri-ciri dan sifat kehidupan di buana niskala dan buana jatiniskala yang menggiring manusia agar memilih jalan ideal yang lurus menuju buana niskala yang berupa surga yang menyenangkan, bahkan buana jatiniskala yang paling tinggi derajatnya.
 
Kropak 420 membuka penuturannya dengan pernyataan dan pertanyaan, "Lampah tunggal na rasa ngeunah, paduum na bumi prelaya, maneja naprewasa, ka mana eta ngahingras?" (Berjalan teriring rasa senang, saling bagi saat dunia binasa, tembus memancarkan sinar. Ke manakah harus meminta tolong?).
 
Jawaban atas pertanyaan tersebut dijelaskan oleh Pwah Batara Sri, penghuni Kahyangan (buana niskala), "Ka saha geusan ngahiras, di sakala di niskala, manguni di kahyangan, mo ma dina laku tuhu, na jati mahapandita," (Kepada siapakah mohon pertolongan, baik di sakala maupun di niskala, terlebih lagi di kahyangan, kecuali dalam perilaku setia, pada kodrat mahapandita).
 
Mahapandita adalah pandita (pemimpin/ahli agama) yang hidup di bumi sakala dan paling tinggi tingkatannya. Ia mengemukakan ciri-ciri kehidupan di bumi sakala bahwa, "Samar ku rahina sada, kapeungpeuk ku langit ageung, kapindingan maha linglang, ja kaparikusta ku tutur, karasa ku sakatresna, kabita ku rasa ngeunah, kawalikut ku rasa kahayang, bogoh ku rasa utama, beunang ku rasa wisisa." (Samar oleh keadaan pagi hari, tertutup oleh langit yang luas, terhalangi keluasan langit sebab terjebak oleh cerita, terasa oleh segala kecintaan, tergiur oleh rasa nikmat, tergugah lagi oleh keinginan, senang oleh perasaan luar biasa, terpikat oleh perasaan mulia).
 
Ajaran moral keagamaan dibahas dalam bentuk dialog antara pendeta utama dengan Pwah Batara Sri (penguasa alam Kahyangan) dan Pwah Sanghyang Sri (penjaga alam kasurgaan). Ditekankan bahwa setiap makhluk yang ada di jagat raya, baik di bumi sakala maupun di buana niskala, hendaknya mampu menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan kadar bayu (kekuatan), sabda (suara), dan hedap (iktikad) yang diterima dari Sang Pencipta. Manusia pun hendaknya mampu menyeimbangkan bayu, sabda, dan hedapnya masing-masing melalui berbagai kegiatan tapa (pengabdian) lahir dan batin agar kelak bisa kembali ke kodratnya bagaikan dewa.
 
Selain itu, dalam melaksanakan tapa manusia hendaknya diiringi oleh penuh rasa keikhlasan, jangan rakus, jangan mengambil hak yang lain supaya tidak tersesat kembali ke bumi sakala dan mengalami sengsara. Apabila hendak berbuat kebajikan, janganlah setengah hati! Itulah kodrat pendeta dan hakikat pertapaannya yang dilakukan tak kenal siang dan malam. Perhatikanlah orang yang benar! Carilah orang yang menjalankan tapa! Semoga berhasil berbuat kebaikan.
 
Janganlah menjalankan tapa yang salah! Yaitu tapanya orang yang suka menyiksa badan, berlebihan dalam hal kekuasaan, terperdaya oleh isi hati, dan tersesat karena berahi. Itulah perilaku yang tak bermanfaat. Menjadi pendeta, janganlah hanya mengaku-aku, melainkan hendaknya disertai kekuasaan sejati.
 
Nasihat pendeta utama yang lain adalah "Mulah cocolongan bubunian, jadi budi nupu manglahangan, ngagetak ngabigal, mati-mati uwang sadu, ngajaur nu hanteu dosa, hiri dengki nata papag, pregi ngajuk ngajalanan," (Janganlah mencuri sembunyi-sembunyi, berpikiran tamak menghalangi, menggertak merampok, suka membunuh orang suci, memeras yang tak berdosa, iri dengki melukai memukul, berani mengawali berutang). Adapun berbagai kenikmatan dunia antara lain lumut rumput dan berbagai umbi, berbagai dedaunan tak pernah kurang, ilalang arak dan berbagai buah-buahan (lukut jukut sarba beuti, tangtarukan tada kurang, kusa madi sarba pala).
 
Adapun ciri dan sifat kehidupan di buana niskala dan buana jatiniskala, tempat tinggalnya para dewa-dewi, batara-batari, Sanghyang Manon, dan makhluk halus lainnya mencerminkan kehidupan tingkat tinggi yang tak dibatasi oleh keperluan dan kepentingan duniawiah, sebagaimana diutarakan pada teks Kropak 422 yang berjudul Jatiraga. Penjelmaan yang paling sempurna, menurut naskah ini, adalah umat manusia. Karenanya manusia diwajibkan untuk berusaha berbuat amal kebaikan agar kelak sukmanya bisa kembali ke kodrat sejati di Kahyangan (surga). Sementara manusia yang terlalu terbawa nafsu angkara murka, akan menjadi raksasa serakah, tamak, dan rakus terhadap hak-hak yang lain. Sukma mereka hanya bisa kembali ke alam niskala sebagai penghuni neraka. Kalaupun mendapat keringanan dari penjaga neraka, sukma itu harus mengalami reinkarnasi di bumi sakala yang bisa jadi derajatnya lebih rendah dari manusia.
 
Bahwa yang berada di buana jatiniskala itu (Si Ijunajati) terlalu tangguh dan kuasa, karena dia adalah pemilik keesaan, kebijakan, kekuasaan, kesentosaan, pengabdian, tenaga, ucapan, dan nuraninya sendiri. Rumusannya adalah, "Ah ini Si Ijunajati. Ah lain kasorgaanna, Sang Hyang Tunggal Premana. Muku ita leuwih, ja tunggal tunggal aing, premana premana aing, muku ita leuwih, ja wisisa wisisa aing, muku ita leuwih teuing, ja hurip hurip aing, tapa tapa aing, bayu bayu aing, sabda sabda aing, hdap hdap aing." (Ah inilah Si Ijunajati. Ah bukan surga yang dikuasai oleh, Sang Hyang Tunggal Premana. Kalaulah itu tangguh, sebab keesaan keesaanku sendiri, kebijakan kebijakanku sendiri, kalaulah itu unggul, sebab kekuasaan kekuasaanku sendiri, kalaulah itu terlal u berkuasa, sebab kesentosaan kesentosaanku sendiri, pengabdian pengabdianku sendiri, tenaga tenagaku sendiri, ucapan ucapanku sendiri, nurani nuraniku sendiri).
 
"Ah wisisa teuing aing, hamwa waya nu wisisa manan aing, hamwa waya nu leuwih manan aing, hamwa waya nu diwata manan aing, tika hanteu nu ngawisisa aing, ka pangikuna aci jatinistmen." (Ah begitu berkuasanya aku, tak mungkin ada yang berkuasa melebihi aku, tak mungkin ada yang unggul melebihi aku, tak mungkin ada yang suci lebih dariku, sehingga mustahil ada yang menguasaiku, sebagai pengikut hakikat kebenaran sejati).
 
Batara Jatiniskala berkuasa di mana-mana dan wujud kekuasaannya luar biasa sehingga, "Wijaya ta sira hasta, na bumi tan hana pretiwi, na dalem tan hana angkasa, na rahina tan hana aditya, na candra tan hana wulan, na maruta tan hana angin, na tija tan hana maya, na akasa tan hana pemaga, na jati tan hana urip." (Berhasillah dia memerintah, pada bumi tanpa tanah, pada ruangan tanpa udara, pada siang hari tanpa matahari, pada purnama tanpa bulan, pada tiupan tanpa angin, pada cahaya tanpa bayangan, pada angkasa tanpa langit, pada kodrat tanpa kehidupan).
 
Salah satu kelompok penghuni buana niskala teridentifikasi berwujud jenis wanita, seperti dewi, apsari, bidadari. Hakikat kewanitaan, menurut naskah ini, adalah kekuasaan yang berada di tangan Sang Hyang Sri dengan ciri-cirinya, "Ti nu wisisa leuwih, ti nu leuwih bidito, ti nu bidito hurip, ti nu hurip adras, ti nu adras indah, ti nu indah alit, ti nu alit niskala, ti nu niskala rampis, ti nu rampis diwata, ti nu diwata." (Dari yang berkuasa unggul, dari yang unggul mengasuh, dari yang mengasuh sejahtera, dari yang sejahtera tak tampak, dari yang tak tampak indah, dari yang indah halus, dari yang halus gaib, dari yang gaib sempurna, dari yang sempurna bersifat kedewaan, dari yang bersifat kedewaan).
 
Di dalamnya diungkapkan pula tentang makna benar. Bahwa benar itu artinya, jika, "Bayu dibaywan deui, sabda disabdaan deui, hdap dihdapan deui, hurip dihuripan deui, hirang dihirangan deui, jati dijatyan deui, niskala diniskalaan deui, alit dialitan deui, lenyep dilenyepkeun deui, talinga ditalingakeun deui, leumpang dileumpangkeun deui, geuing digeuingkeun deui." (Kekuatan diper kuat lagi, ucapan diucapkan lagi, perasaan dirasakan lagi, hidup dihidupkan lagi, jernih dijernihkan lagi, sejati disejatikan lagi, kegaiban digaibkan lagi, halus dihaluskan lagi, lenyap dilenyapkan lagi, pengawasan diawasi lagi, berjalan diberjalankan lagi, sadar disadarkan lagi).
 
Berdasarkan seluruh uraian di atas tampak bahwa konsep kosmologi Sunda Kuna bukan hanya dimaksudkan untuk pengetahuan semata-mata mengenai struktur jagat raya, melainkan lebih ditujukan sebagai media agar kehidupan manusia jelas tujuan akhir-nya, yaitu kebahagiaan dan ketenteraman hidup di buana niskala dan buana jatiniskala yang abadi.
 
 
Oleh EDI S. EKADJATI - Pikiran Rakyat, Kamis, 2 Juni 2005 
Penulis Ketua Badan Pengurus Pusat Studi Sunda dan Guru Besar pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unpad.

Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda

|1 waleran
Ajaran Islam di Tatar Sunda selain telah mengubah keyakinan seseorang dan komunitas masyarakat Sunda juga telah membawa perubahan sosial dan tradisi yang telah lama dikembangkan orang Sunda. Penyesuaian antara adat dan syariah seringkali menunjukkan unsur-unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan sebelumnya. Hal tersebut dapat dipahami karena para penyebar Islam dalam tahap awal menggunakan strategi dakwah akomodatif dengan mempertimbangkan sistem religi yang telah ada sebelumnya.
 
 
Masuknya Islam Ke Tatar Sunda


ABAD pertama sampai keempat hijriyah merupakan fase awal proses kedatangan Islam ke Nusantara. Hal ini antara lain ditandai kehadiran para pedagang Muslim yang singgah di berbagai pelabuhan di Sumatra sejak permulaan abad ke-7 Masehi. Proses Islamisasi di tatar Sunda terjadi dan dipermudah karena adanya dukungan dari kedua belah pihak yakni orang-orang Muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan masyarakat yang menerimanya.
 
Di tatar Sunda, menurut naskah “Carita Parahiyangan” diceritakan seorang pemeluk agama Islam yang pertama kali di tatar Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh. Ia memilih hidupnya sebagai saudagar besar; biasa berlayar ke Sumatra, Cina, India, Srilangka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang Muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan dengan seorang Muslimah ini, Bratalegawa memeluk Islam, kemudian menunaikan ibadah haji dan mendapat julukan Haji Baharudin. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa.
Bila kedatangan Haji Purwa di tanah Sunda tahun 1337 Masehi dijadikan titik tolak masuknya Islam ke tatar Sunda, hal ini mengandung arti bahwa pertama, agama Islam yang pertama kali masuk ke tatar Sunda berasal dari Makah yang dibawa pedagang (Bratalegawa); dan kedua, pada tahap awal kedatangannya, agama ini tidak hanya menyentuh daerah pesisir utara Jawa bagian Barat, tetapi diperkenalkan juga di daerah pedalaman. Akan tetapi, agama itu tidak segera menyebar secara luas di masyarakat disebabkan tokoh penyebarnya belum banyak dan pengaruh Hindu dari Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda Pajajaran terhadap masyarakat setempat masih kuat.
 
Sementara itu, di Karawang terdapat sebuah pesantren di bawah pimpinan Syekh Hasanuddin yang dikenal dengan sebutan Syekh Quro sebagai penyebar dan guru agama Islam pertama di daerah Karawang pada abad ke-15 sekira tahun 1416 sezaman dengan kedatangan Syekh Datuk Kahpi yang bermukim di Pasambangan, bukit Amparan Jati dekat Pelabuhan Muarajati, kurang lebih lima kilometer sebelah utara Kota Cirebon. Keduanya lalu menjadi guru agama Islam dan mendirikan pesantren masing-masing. Pesantren di Muara Jati semakin berkembang ketika datangnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari Mesir. Ia masih keturunan Prabu Siliwangi bermukim di Cirebon sejak tahun 1470 dan mulai menyebarkan syiar Islam ke seluruh wilayah tatar Sunda mulai dari Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, Bogor, hingga Banten. Atas perjuangannya, penganut kepercayaan animisme, dinamisme, agama Hindu, dan Budha beralih menjadi Muslim, sedangkan penganut ajaran Sunda Wiwitan merupakan agama asli orang Sunda tersisihkan ke pedalaman Baduy.
 
Pada tahap awal, sebagaimana dilakukan Bratalegawa, penyebaran agama Islam rupanya baru berlangsung secara terbatas di lingkungan tempat tinggal para tokoh agama tersebut. Seiring terbentuknya pesantren-pesantren sebagai tempat pembentukan kader ulama atau para guru agama yang mendidik para santri, syiar Islam mulai berkembang pesat di tatar Sunda sejak pertengahan abad ke-15.
 
 
Dari Sunda Wiwitan Ke Sunda Islam
 

PADA proses perkembangan agama Islam, tidak seluruh wilayah tatar Sunda menerima sepenuhnya, di beberapa tempat terdapat komunitas yang bertahan dalam ajaran leluhurnya seperti komunitas masyarakat di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak yang dikenal dengan masyarakat Baduy. Mereka adalah komunitas yang tidak mau memeluk Islam dan terkungkung di satu wilayah religius yang khas; terpisah dari komunitas Muslim Sunda dan tetap melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan.
Dasar religi masyarakat Baduy dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang bersifat monoteis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan kepercayaan kepada satu kekuasaan yakni Sanghyang Keresa (Yang Maha Kuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib) yang bersemayam di Buana Nyungcung (Buana Atas). Orientasi, konsep, dan pengamalan keagamaan ditujukan kepada pikukuh untuk menyejahterakan kehidupan di jagat mahpar (dunia ramai). Pada dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal memiliki keturunan tujuh orang batara yang dikirimkan ke dunia melalui Kabuyutan; titik awal bumi Sasaka Pusaka Buana. Konsep buana bagi orang Baduy berkaitan dengan titik awal perjalanan dan tempat akhir kehidupan. (Garna, 1992:5).
 
Menurut ajaran Sunda Wiwitan, perjalanan hidup manusia tidak terpisah dari wadah tiga buana, yaitu (1) Buana Nyungcung sama dengan Buana Luhur atau Ambu Luhur; tempat bersemayam Sang Hyang Keresa di tempat paling atas; (2) Buana Panca Tengah atau Ambu Tengah yang dalam dunia pewayangan sering disebut Mayapada atau Arcapada tempat hidup manusia dan mahluk lainnya; dan (3) Buana Larang sama dengan Buana Handap atau Ambu handap yaitu tempatnya neraka. Manusia yang hidup di Buana Panca Tengah suatu saat akan menemui Buana Akhir yaitu Buana Larang, sedangkan proses kelahirannya ditentukan di Buana Luhur. Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapisan alam yang tersusun dari atas ke bawah, lapisan teratas disebut Bumi Suci Alam Padang atau Kahyangan tempat Sunan Ambu dan para pohaci bersemayam.
 
Pada pelaksanaan ajaran Sunda Wiwitan di Kanekes, tradisi religius diwujudkan dalam berbagai upacara yang pada dasarnya memiliki empat tujuan utama: yaitu (1) menghormati para karuhun atau nenek moyang; (2) menyucikan Pancer Bumi atau isi jagat dan dunia pada umumnya; (3) menghormati dan menumbuhkan atau mengawinkan Dewi Padi; dan (4) melaksanakan pikukuh Baduy untuk mensejahterakan inti jagat. Dengan demikian, mantra-mantra yang diucapkan sebelum dan selama upacara berisikan permohonan izin dan keselamatan atas perkenan karuhun, menghindari marabahaya, serta perlindungan untuk kesejahteraan hidup di dunia damai sejahtera.
 
Masuknya agama Islam ke tatar Sunda menyebabkan terpisahnya komunitas penganut ajaran Sunda Wiwitan yang taat dengan mereka yang menganut Islam. Masyarakat penganut Sunda Wiwitan memisahkan diri dalam komunitas yang khas di pedalaman Kanekes ketika agama Islam memasuki kerajaan Pakuan Pajajaran. Hal ini dapat ditemukan dalam cerita Budak Buncireung, Dewa Kaladri, dan pantun Bogor versi Aki Buyut Baju Rambeng dalam lakon Pajajaran Seureun Papan.
 
Secara sadar, masyarakat Kanekes dengan tegas mengakui perbedaan mereka dengan masyarakat Sunda lainnya di luar Kanekes hanyalah dalam sistem religi, bukan etnis. Menurut Djatisunda (1992;2-3) mereka menyebut orang Sunda di luar Kanekes dengan sebutan Sunda Eslam (orang Sunda yang beragama Islam) dan dianggap sebagai urang Are atau dulur are. Arti dari istilah urang are atau dulur are dikemukakan Ayah Kaiti bekas seurat Tangtu Cikeusik bahwa: harti urang are ta, ja dulur are. Dulur-dulur na mah, ngan eslam hanteu sabagi kami di dieu (arti urang are yaitu dulur are. Saudara sih saudara, tetapi menganut agama Islam tidak seperti saya di sini). Ungkapan tersebut memperjelas pengakuan kedudukan etnis masyarakat Kanekes sebagai suku bangsa Sunda yang membedakannya hanyalah sistem religi karena tidak menganut agama Islam.
 

Madrais dan Aliran Perjalanan


BERBEDA dengan masyarakat Baduy yang bertahan dengan tradisinya akibat desakan pengaruh Islam, perjumpaan Islam dengan budaya Sunda dalam komunitas lain malah melahirkan kepercayaan baru seperti yang dikembangkan Madrais di Cigugur Kabupaten Kuningan dan Mei Kartawinata di Ciparay Kabupaten Bandung.
 
Madrais semula dibesarkan dalam tradisi Islam kemudian melahirkan ajaran baru yang mengajarkan faham Islam dengan kepercayaan lama (pra-Islam) masyarakat Sunda yang agraris dan disebutnya sebagai Ajaran Djawa Sunda atau Madraisme pada tahun 1921. Ia menetapkan tanggal 1 Sura sebagai hari besar seren taun yang dirayakan secara besar-besaran antara lain dengan ngagondang (menumbukkan alu pada lesung sambil bernyanyi). Menurut ajarannya, Dewi Sri atau Sanghyang Sri adalah Dewi Padi yang perlu dihormati dengan upacara-upacara religius daur ulang penanaman padi serta ajaran budi pekerti dengan mengolah hawa nafsu agar hidup selamat. Di pihak lain, ia pun memuliakan Maulid Nabi Muhammad, tetapi menolak Alquran dengan anggapan bahwa Alquran yang sekarang tidak sah sebab Alquran yang sejati akan diturunkan menjelang kiamat.
 
Ajaran Madraisme ini, setelah Madrais meninggal dunia tahun 1939 dilanjutkan anaknya bernama Pangeran Tejabuana, serta cucunya Pangeran Jati Kusumah yang 11 Juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU) mengharuskan para pengikutnya untuk melestarikan ajaran karuhun Sunda dan ke luar dari agama Islam.
 
Sementara itu, Mei Kartawinata (1898-1967) seorang tokoh kebatinan mendirikan aliran kepercayaan perjalanan yang dikenal dengan “Agama Kuring” (Agamaku) dan pendiri Partai Permai di Ciparay Kabupaten Bandung. Kisahnya, 17 September 1927, di Subang ia mendapat wangsit untuk berjuang melalui pendidikan, kerohanian, dan pengobatan melalui perkumpulan Perjalanan yang mengibaratkan hidup manusia seperti air dalam perjalanannya menuju laut dan bermanfaat sepanjang jalan. Dia menulis buku “Budi Daya” tahun 1935 yang dijadikan ‘kitab suci’ oleh para pengikutnya. Ajaran ini memadukan sinkretisme antara ajaran Sunda Wiwitan, Hindu, Budha, dan Islam.
 
 
Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda


PERJUMPAAN Islam dengan Budaya Sunda tidak melanggengkan tradisi lama seperti Sunda Wiwitan dan tidak memunculkan ajaran baru seperti Agama Djawa Sunda dan aliran kepercayaan Perjalanan adalah adaptasi antara Islam sebagai ajaran agama dengan tradisi budaya yang melekat di masyarakat. Hal ini dapat dipahami karena umumnya dalam tradisi budaya masyarakat Muslim di tanah Jawa oleh Mark R. Woodward disebut Islam-Jawa, adaptasi unsur-unsur tradisi dengan Islam tampak sekali, misalnya adaptasi budaya dalam penamaan bulan. Bulan-bulan dalam tradisi Jawa "termasuk juga Sunda" sebagian mengadaptasi bulan Hijriah yaitu Sura (Muharram), Sapar (Shafar), Mulud (Rabiul Awwal), Silih/Sawal Mulud (Rabiul Akhir), Jumadil Awal (Jumadil Awwal), Jumadil Akhir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Puasa (Ramadan), Sawal (Syawal), Kapit/Hapit (Zulkaidah), dan Rayagung/Raya Agung (Zulhijah).
 
Penyesuaian yang bijaksana atas sistem kalender Jawa Kuno (tahun Saka) ke dalam sistem kalender Islam dibuat tahun 1663 Masehi oleh Sultan Agung dari kerajaan Mataram yang menetapkan tahun 78 Masehi sebagai titik awal tahun Saka. Dengan sistem penanggalan baru tersebut, bulan pertama dalam kalender Jawa disamakan dengan bulan pertama kalender Islam yang sekarang menginjak tahun 1936 Saka (1424 H). Hal ini menurut Bekki (1975) dalam “Socio Cultural Changes in a Traditional Javanese Village” dimungkinkan dalam kehidupan beragama di Jawa, karena sikap lentur orang Jawa terhadap agama dari luar. Meskipun kepercayan animisme sudah mengakar sejak zaman dahulu, orang Jawa dengan mudah menerima agama Hindu, Budha, Islam, dan Kristen, lalu ‘men-jawa-kan’ semuanya.
Islamisasi di tatar Sunda selain dibentuk oleh ‘penyesuaian’ juga dibentuk melalui media seni yang digemari masyarakat. Ketika ulama masih sangat jarang, kitab suci masih barang langka, dan kehidupan masih diwarnai unsur mistis, penyampaian ajaran Islam yang lebih tepat adalah melalui media seni dalam upacara-upacara tradisi.
 
Salah satu upacara sekaligus sebagai media dakwah Islam dalam komunitas Sunda yang seringkali digelar adalah pembacaan wawacan dalam upacara-upacara tertentu seperti tujuh bulanan, marhabaan, kelahiran, dan cukuran. Seringnya dakwah Islam disampaikan melalui wawacan ini melahirkan banyak naskah yang berisi tentang kisah-kisah kenabian, seperti Wawacan Carios Para Nabi, Wawacan Sajarah Ambiya, Wawacan Babar Nabi, dan Wawacan Nabi Paras yang ditulis dengan huruf Arab, berbahasa Sunda dalam bentuk langgam pupuh, seperti Pupuh Asmarandana, Sinom, Kinanti, Dangdanggula, dan Pangkur. Untuk mengikat pendengar yang hadir, si pembaca naskah menguncinya dengan membaca sebuah kalimat: Sing saha jalma anu maca atawa ngadengekeun ieu wawacan nepi ka tamat bakal dihampura dosa opat puluh taun. Dengan khidmat, si pendengar menikmati lantunan juru pantun yang berkisah tentang ajaran Islam ini dari selepas isya hingga menjelang subuh.
 
Sejak agama Islam berkembang di Tatar Sunda, pesantren, paguron, dan padepokan yang merupakan tempat pendidikan orang-orang Hindu, diadopsi menjadi lembaga pendidikan Islam dengan tetap menggunakan nama pasantren (pasantrian) tempat para santri menimba ilmu agama. Pesantren ini biasanya dipimpin seorang ulama yang diberi gelar “kiai”. Gelar kiai ini semula digunakan untuk benda-benda keramat dan bertuah, tetapi dalam adaptasi Islam dan budaya Sunda, gelar ini melekat dalam diri para ulama sampai sekarang. Di pesantren ini jugalah huruf dan bahasa Arab mendapat tempat penyebaran yang semakin luas di kalangan masyarakat Sunda dan menggantikan posisi huruf Jawa dan Sunda yang telah lama digunakan sebelum abad ke-17 Masehi.
 
Dalam sejumlah doktrin dan ritus tertentu, di Tatar Sunda pun berkembang ajaran Islam yang mengadopsi unsur tapa dalam agama Hindu dan diwarnai aspek-aspek mistis dan mitologis. Dari banyak unsur tradisi Hindu-Jawa yang tetap bertahan adalah kesaktian, praktik tapa, dan tradisi Wayang yang terakomodasi dalam jalan orang-orang yang mencari kesalehan normatif sekaligus melestarikan ajaran kebatinan.
Dalam bidang arsitektur, pembangunan arsitektur masjid dan rancang bangun alun-alun dan keraton diwarnai perpaduan antara budaya Sunda dengan Islam. Di setiap alun-alun kota kecamatan dan kabupaten sejak Sunan Gunung Jati berkuasa (1479-1568) dibangun Masjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun, di samping pasar, keraton, serta penjara dengan penyesuaian fungsi dan posisinya sebagai bangunan pusat pemerintahan kerajaan berdasarkan Islam dengan masjid (bale nyungcung) sebagai simbol utama. Simbol bale nyungcung ini mengisyaratkan adaptasi tempat Sanghyang Keresa bersemayam di Buana Nyungcung (buana atas) dalam ajaran Sunda Wiwitan.
 
Beberapa contoh di atas, perjumpaan Islam dengan budaya Sunda telah melahirkan beberapa hal sebagai berikut:
 
Pertama, pertumbuhan kehidupan masyarakat Islam dengan adat, tradisi, budaya yang mengadaptasi unsur tradisi lama dengan ajaran Islam melalui pola budaya yang kompleks dan beragam telah melahirkan pemikiran, adat-istiadat, dan upacara ritual yang harmoni antara Islam dan budaya Sunda.
 
Kedua, berkembangnya arsitektur baik sakral maupun profan, misalnya masjid (bale nyungcung), keraton, dan alun-alun telah mengadaptasi rancang bangun dan ornamen lokal termasuk pra Islam ke dalam rancang bangun arsitektur Islam.
 
Ketiga, berkembangnya seni lukis kaca dan seni pahat yang menghasilkan karya-karya kaligrafi Islam yang khas, kesenian genjring dan rebana yang berasal dari budaya Arab, dan berbagai pertunjukkan tradisional bernapaskan Islam dengan mudah merasuki kesenian orang Sunda yang seringkali muncul dalam pentas seni dan pesta-pesta perkawinan.
 
Keempat, pertumbuhan penulisan naskah-naskah keagamaan dan pemikiran keislaman di pesantren-pesantren telah melahirkan karya-karya sastra dalam bentuk wawacan, serat suluk, dan barzanji yang sebagian naskahnya tersimpan di keraton-keraton Cirebon, museum, dan di kalangan masyarakat Sunda, dan
 
Kelima, berbagai upacara ritual dan tradisi daur hidup seperti upacara tujuh bulanan, upacara kelahiran, kematian, hingga perkawinan yang semula berasal dari tradisi lama diwarnai budaya Islam dengan pembacaan barzanji, marhabaan, salawat, dan tahlil.
 
Karena itulah, tidak bisa dimungkiri bahwa perjumpaan Islam dengan budaya dan komunitas masyarakat di wilayah tatar Sunda telah melahirkan tiga aspek religiusitas yang berbeda. Pertama, terkungkungnya satu wilayah religius yang khas dan terpisah dari komunitas Muslim Sunda di Kanekes (Baduy) yang melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan; kedua lahirnya tradisi, budaya, dan religi baru yang mencampurbaurkan antara ajaran Islam dengan tradisi sebelumnya seperti yang dikembangkan dalam Ajaran Jawa Sunda di Cigugur Kuningan dan aliran kebatinan Perjalanan di Ciparay Kabupaten Bandung; dan ketiga terciptanya kehidupan harmoni dan ritus keagamaan yang berasal dari Islam dengan tradisi yang telah ada dan satu sama lain saling melengkapi.
 
Terlepas dari itu semua, pemahaman pelaksanaan adaptasi dan harmoni antara Islam sebagai ajaran agama dengan tradisi Sunda sebagai adat istiadat warisan budaya lama disadari akan menimbulkan pemaknaan yang berbeda. Di satu pihak ada yang menganggap bahwa berbagai upacara tradisi itu adalah adat istiadat yang perlu tetap dilestarikan dan sejalan dengan agama Islam, bahkan menjadi ‘sunah’, sebaliknya di pihak lain ada yang beranggapan bahwa ajaran Islam yang diwarnai oleh tradisi dan budaya Sunda adalah bentuk perbuatan bid'ah.
 
Oleh: Dadan Wildan - Pikiran Rakyat, Rabu, 26 Maret 2003.

Benarkah Ki Sunda Sudah Terpuruk?

|0 waleran
Saat ini banyak kalangan di tatar Sunda mengulas tentang keberadaan Ki Sunda. Pada umumnya mereka mengulas tentang memudarnya jati diri Ki Sunda yang seolah telah hilang atau ditinggalkan oleh sebagian besar Ki Sunda khususnya oleh generasi muda karena bermacam sebab. kekecewaan demi kekecewaan tercetus karena merasa bahwa Ki Sunda saat ini sudah mulai terpuruk dan keberadaannya bagai jati kasilih ku junti, benarkah demikian?
 
Sejarah tatar Sunda, sepenggal kecil wilayah dari sekian luas kawasan nusantara, kepulauan terbesar di dunia, sejak dahulu kala konon sudah banyak disinggahi para pendatang dari berbagai belahan bumi, seakan memiliki pesona dan magnet yang mampu menyedot para pendatang untuk datang dan bermukim di sini. Pembauran ras dan budaya bercampur aduk, secara bertahap berkembang membentuk budaya baru dan baru lagi. Budaya yang selalu dinamis berkembang mengikuti perjalanan waktu, mulai dari pola pikir dan pola hidup yang paling sederhana sampai kepada pola yang kita jalani di abad 21 ini.
 
Sejarah mencatat bahwa langkah Ki Sunda telah berjalan menempuh rentang waktu yang amat panjang, konon sejak zaman Aki Tirem di ujung barat tatar Sunda di abad pertama masehi sampai saat ini. Kebangkitan dan keterpurukan Ki Sunda dari masa ke masa bergulir silih berganti, berfluktuasi sejalan dengan peran para tokoh sejarahnya. Berbagai episode telah menghias ilustrasi perjalanan skenario sejarah di tatar Sunda.
 
Salah satu episode yang paling dikenal oleh masyarakat Sunda adalah era Pajajaran (1482 M-1579 M) yang pernah mengalami masa kejayaan pada zaman pemerintahan pendirinya Prabu Siliwangi (1482 M-1521 M) dan kemudian terpuruk sampai pada total kehancurannya di tahun 1579 M akibat ulah para generasi penerusnya.
 
Tome Pires, orang Portugis yang berkunjung ke Pakuan tahun 1513 M, menyebutkan Sunda sebagai "negeri ksatria dan pahlawan laut". Menurutnya, orang Sunda menarik (goodly figure), ramah, tinggi kekar (robust), dan they are true man (orang jujur). "The Kingdom of Sunda is justly governed" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil).
 
Menurut cerita Parahiyangan, Purbatisti purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kretarasa (Peraturan dan ajaran leluhur dipegang teguh. Oleh karena itu, tidak akan kedatangan musuh lahir dan musuh batin. Bahagia sentosa di utara, selatan, barat, dan timur karena perasaan sejahtera). Tahun 1521 M, Prabu Siliwangi wafat dan dipusarakan di Rancamaya setelah memerintah selama 39 tahun.
 
Penggantinya, Surawisesa Sang Putera Mahkota naik tahta. Pada saat pemerintahan ayahnya, dia dua kali diutus sebagai duta Pajajaran untuk menjalin persahabatan dan hubungan dagang dengan Alfonso d'Albuquerque, raja muda Portugis di Malaka. Perjalanannya ke Malaka ini digubah oleh pujangga pantun menjadi cerita Raden Mundinglaya Dikusumah.
 
Pada era pemerintahannya, pecah perang saudara antara Pajajaran dan Cirebon. Galuh dikalahkan dan dikuasai Cirebon yang dibantu Demak sehingga Surawisesa hanya menguasai dan mempertahankan wilayah kerajaan Sunda, warisan dari kakeknya. Perang yang berlangsung selama 5 tahun itu berakhir dengan perdamaian. Surawisesa wafat pada tahun 1535 M dan dipusarakan di Padaren.
 
Putera Surawisesa, Ratu Dewata menggantikan ayahnya. Ia sangat alim (lumaku ngarajaresi) dan merasa aman karena sangat percaya pada jaminan perjanjian damai yang dibuat ayahnya dengan Cirebon. Namun Banten, sekutu Cirebon, kurang setuju terhadap isi perjanjian karena hanya aman bagi Cirebon, tapi kurang aman bagi Banten. Agar tidak melanggar perjanjian, Banten membentuk pasukan tambuh sangkane (tanpa identitas) untuk menyerang Pakuan, namun benteng yang dibangun Sri Baduga sulit ditembus. Ratu Dewata wafat tahun 1543 M setelah memerintah selama 8 tahun (1535 M-1543 M) dan dipusarakan di Sawah Tampian Dalem.
 
Ia digantikan oleh putranya, Pangeran Sakti. Berbeda dengan ayahnya, raja ini memerintah tanpa mempedulikan norma-norma pemerintahan. Membunuh orang tak berdosa, merampas harta rakyat, tidak berbakti kepada orang tua dan menghina para pendeta. Raja ini diturunkan dari tahta setelah memerintah selama 8 tahun (1543 M-1551 M). Dan setelah wafat, ia dipusarakan di Pengpelengan.
 
Anaknya, Nilakendra menggantikan sang ayah. Dalam pemerintahannya, Pajajaran sudah demikian rusak. Setiap saat berpesta-pora dan mabuk-mabukan. Cai tiningkalan nidra wisaya ning baksa-kilang (air memabukkan menjadi penyedap makan dan minum). Tatan agama gyang kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beunghar (Tidak ada ilmu yang disukai kecuali makan lezat sesuai dengan kekayaannya).
Ajaran tentang nyatu tamba ponyo, nginum twak tamba hanaang (makan sekadar pelepas lapar, minum tuak sekadar pelepas dahaga) telah ditinggalkan. Semua itu terjadi dalam keadaan kerajaan terancam musuh dan rakyat kelaparan. Tiba saatnya kaliyuga, yaitu zaman yang penuh kejahatan dan kemaksiatan yang kemudian akan diikuti oleh pralaya (kehancuran). Dalam keadaan demikian Nilakendra bersama pengikutnya meninggalkan kerajaan. Tidak diketahui di mana raja ini wafat dan dipusarakan setelah memerintah selama 16 tahun (1551 M-1567 M).
 
Ragamulya Suryakancana, raja terakhir, mengungsi bersama pengikutnya ke Kadu Hejo di lereng Gunung Pulasari Pandeglang. Ia bertahan di salah satu kerajaan daerah dan gugur di sana sebelum pasukan gabungan Banten-Cirebon menghancurkan Pajajaran. Konon benteng Pakuan dapat ditembus karena adanya pengkhianatan "orang dalam".
 
Setelah itu, Pakuan tidak ada beritanya lagi. Reruntuhannya ditemukan sebagai puing dalam keadaan kosong tanpa penghuni oleh pasukan ekspedisi Kumpeni Belanda pimpinan Sersan Scipio pada 1 September 1687  M.
Dari episode di atas, dapat kita simpulkan bahwa betapa pun Prabu Siliwangi membawa Pajajaran ke jenjang zaman keemasan, membangun benteng pertahanan yang sangat kuat, namun akibat mental dan prilaku penerusnya, Pajajaran harus mengalami kehancuran. Beberapa episode lainnya tak kalah tragis bahkan juga memalukan, namun episode di atas rasanya cukup mewakili sebagai pembanding keberadaan kita di era Sunda kiwari.
 
"Sunda kiwari" 

Saat ini kita dapat melihat dan merasakan fenomena kaliyuga yang menimpa Ki Sunda walau dalam bobot dan versi yang berbeda.Kemaksiatan, kerakusan, pengkhianatan, anarkis telah membayang-bayangi. Banyak motif yang menjurus kepada kehancuran, antara lain pola hidup konsumtif yang berlebihan yang kemudian berdampak di antaranya kepada perilaku korupsi, pelecehan seksual, dan narkoba. Tentu kita berharap tidak terjadi pralaya, keterpurukan, atau kehancuran seperti yang pernah dialami leluhur kita dan ini perlu kita
tafakuri, patut dijadikan cermin agar flek-flek yang tampak pada wajah kita dapat segera diobati, diprotek sebelum menjadi parah.
 
Keberadaan Ki Sunda kiwari dan masa datang sangat bergantung kepada Ki Sunda sendiri. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum itu sendiri tidak mengubah nasibnya. Sudah saatnya kini Ki Sunda paheuyeuk-heuyeuk leungeun membangun kembali Benteng Pajajaran yang tangguh.

Ki Sunda, baik pituin maupun mukimin harus sejalan menjunjung tinggi budaya tatar Sunda. Kita gali dan pelihara bersama budaya warisan para leluhur yang ada, namun wayahna harus rela meninggalkan kultur yang selalu membuat kita statis, menghambat kemajuan, dan mulai menerima segala perubahan dengan lapang dada sehingga kita tidak selalu ketinggalan langkah.
 
Kita belum terpuruk dan kita belum kehilangan jati diri, namun harus kita sadari bahwa Ki Sunda kini sedang dalam proses metamorposis untuk menjadi Ki Sunda baru yang tidak lagi ku'uleun atau yang betah berkutat dalam alam feodal warisan masa lalu. Ki Sunda harus menjadi komunitas yang tangguh dan mampu beradaptasi dengan segala kondisi setiap saat. Budaya Mataram yang dominan memengaruhi identitas Ki Sunda selama berabad-abad, khususnya yang ribet (tidak praktis) kini tengah berada pada titik puncak perubahan dan mulai ditinggalkan. Jadi tidak perlu heran jika perubahan terjadi dan ini akan terus dan terus berlanjut di masa yang akan datang. Pada era teknologi dan informasi saat ini waktu sangat berharga, sehari saja kita tertinggal, kita sudah menjadi manusia masa lalu.
 
Kita tidak perlu pesimistis. Hanya dengan rasa memiliki (sense of belonging) dan semangat yang tinggi, Ki Sunda akan tetap eksis. Ki Sunda akan tetap Ki Sunda di mana pun berada walau dikelilingi budaya mana pun.
 
Memang tidak banyak Ki Sunda yang peduli terhadap keberadaannya karena kebanyakan sibuk dengan kepentingannya dalam usaha mempertahankan hidup, namun dari yang sedikit ini kita sangat berharap banyak. Saat ini kita berpacu dengan waktu, juga dengan komunitas lain. Kita harus berusaha tegas dan berjuang keras agar tidak selalu ketinggalan langkah sehingga istilah jati kasilih ku junti bagi keberadaan Ki Sunda tidak pernah kita dengar lagi. Ki Sunda harus kembali mengesankan bagi orang lain maupun orang asing seperti halnya kesan Tom Pires di abad 16M.
 
Hanya dengan ketulusan dan kebersihan hati serta tekad yang kuat kita akan menggapai suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kretarasa (bahagia sentosa di utara, selatan, barat, dan timur karena perasaan sejahtera), seperti yang pernah dialami pada zaman keemasan Pajajaran di masa silam. Insya Allah.
 
Oleh DINKA S. PRADJA - Seniman dan Pemerhati Budaya.

Kerajaan Pajajaran

|0 waleran

Munculnya nama Kerajaan Pajajaran menggantikan nama Sunda Galuh seiring dengan penobatan Jayadewata atau yang dikenal dengan Sri Baduga Maharaja, Prabu Wangi / Siliwangi (1482-1521) selanjutnya setelah Prabu Wangi, para raja diberi gelar Silihwangi, (Silih = pengganti setelah yang pertama, seperti Silihmulud). Prabu Siliwangi memilih Pakuan sebagai ibukota, sehingga dikenal juga nama Pakuan Pajajaran.

Barangkali Prabu Siliwangi ini merupakan raja yang paling melekat namanya di hati masyarakat Sunda kontemporer. Beliau sering dikenal sebagai karuhun urang Sunda. Ditilik kiprahnya dalam sejarah Sunda, memang beliau banyak membuat karya besar pada jamannya. Yang utama adalah pada masa pemerintahannya rakyat makmur sejahtera. Perdagangan meningkat pesat ditunjang oleh kontrol penuh atas selat Sunda, Pelabuhan Banten, Pelabuhan (Sunda) Kalapa, dan Muara Jati Cirebon. Penguasaan atas pelabuhan Cirebon kemudian diberikan kepada Raden Walangungsang, anaknya dari Subanglarang, yang seorang muslimah. Pada masanya juga ditandatangani perjanjian dagang dan keamanan dengan penguasa selat Malaka, Portugis. Sementara di dalam negeri, dibangunlah situs Rancamaya (Bogor sekarang).
 
Sementara di tanah Jawa lainnya, Kerajaan yang sedang kuat kuatnya adalah Demak yang bercorakkan Islam. Di tatar Sunda sendiri, perkembangan Islam begitu pesat. Mungkin karena agama baru ini lebih mendekati agama asli urang Sunda (jatisunda, sundawiwitan) yang monotheism.

Setelah wafat, maka beliau digantikan Surawisesa (1521-1535). Bukan main beratnya melanjutkan nama besar sang ayah. Pada masanya, Kesultanan Cirebon melepaskan diri. Disusul wilayah Banten yang mendeklarasika Kesultanan Banten. Terakhir adalah Sunda Kalapa yang direbut Fatahillah, yang setelah direbut berganti nama menjadi Jayakarta. Satu persatu kerajaan di bawah Pajajaran lainnya mulai lepas. Mulai dari Kerajaan Galuh, Kerajaan Talaga, dan akhirnya Sumedang Larang. Ketika akhirnya perjanjian damai ditandatangani Oleh Kerajaan Pajajaran dan dan Kesultanan Cirebon, Surawisesa telah kehilangan setengah wilayahnya.
 
Mungkin hal ini yang mendorong penulisan Prasasti Batu Tulis yang menceritakan kebesaran ayahnya dan simbolisasi penyesalan atas banyaknya kehilangan wilayah pada masanya. 
Setelah wafat Surawisesa, maka Praba Ratu Dewata (1535-1543) menggantikannya. Pada masa beliau, keadaan kehidupan yang sulit melanda kerajaan. Kondisi ini diperparah dengan serbuan kesultanan Banten yang menyerang ibukota Pakuan, walaupun gagal. Sebagian berpendapat situasi ini disebabkan sang Prabu kurang cakap dalam memimpin kerajaan, dan lebih tertarik mendalami ilmu tapabrata.

Keadaan tidak lebih baik setelah Sang Ratu Saksi naik tahta (1543-1551). Jika sang ayah adalah ahli ibadah yang lemah lembut, maka sang anak berperangai keras dan sewenang wenang. Banyak kasus dimana harta benda rahayat diambil paksa. Lebih parah lagi dia meniru perangai buyutnya, Dewa Niskala dengan menikahi wanita yang sudah bertunangan, dan melakukan skandal dengan mantan selir ayahnya. Akhirnya sang Ratu diturunkan dengan paksa, dan digantikan Nilakendra (1551-1567). 
 
Pada saat Nilakendra berkuasa, Pajajaran benar benar dilanda situasi tidak menentu dan dan frustasi yang meluas. Rakyat banyak yang kelaparan. Ditengah kekacauan, Nilakendra melarikan diri dari himpitan masalah dengan menganut ajaran ekstrim, tantra. Aliran ini mengutamakan merapal manteta mantera untuk menyelesaikan persoalan, dan mabuk mabuk setelah menyantap hidangan yang lezat sebagai salah satu ritualnya. Sementara ditengah suramnya ekonomi, malah digelar proyek memperindah istana dengan hiasan hiasan berlapis emas. 
 
Tak heran bila kesultanan Banten dengan mudah menghancurkan Pakuan. Raja terakhir Pajajaran, Prabu Seda / Raga Mulya / Suryakancana, akhirnya meninggalkan Pakuan dan memilih Rajatapura, di Pandeglang sebagai pusat pemerintahan dalam pelarian. Rajatapura, di tempat inilah dulu untuk pertama kalinya Kerajaan Sunda kuno era Salakanagara berdiri. Semacam pertanda Kerajaan Sunda dimulai di Rajatapura, dan berakhir di Rajatapura. Ramalan itu ada benarnya, saat Pasukan kesultanan Banten membumi hanguskan Rajatapura. bertepatan dengan tanggal 8 Mei 1579 Masehi.

Benarkah Kerajaan Pajajaran musnah ketika Raja terakhir Suryakancana dan pengikutnya diluluh lantakkan oleh pasukan Kesultanan Banten? tidak juga.

Jauh sebelum Sri Baduga Maharaja bertahta, tepatnya pada saat buyutnya, Prabu Darmasiksa berkuasa (1175-1297), berarti sekitar 300 tahun sebelum penobatan Prabu Siliwangi, Prabu Darmasiksa banyak mendirikan kabuyutan (daerah suci) yang dilengkapi dengan mandala (lingkungan dengan penataan selaras alam).
 
Tercatat kabuyutan yang didirikan adalah di Ciburuy (Garut), dan Kanekes (Banten). Salah satu yang bertahan melintasi jaman hingga kini adalah Kanekes atau yang lebih dikenal dengan Baduy sekarang. Jika dihitung sejak berdirinya hingga sekarang, maka diperkirakan kampung Baduy telah berusia sekitar 500 tahun.

Tidak banyak yang berubah dari kehidupan Kanekes. Dengan demikian, setidaknya kita tahu potret sepotong kehidupan Kerajaan Sunda Kuno, dari kanekes lah kita bisa memperkirakan bahwa istana kerjaan sunda dibangun seluruhnya dengan kayu, hanya alasnya saja yang ditopang dengan bebatuan. jadi wajar saja jika kerajaan sunda tidak berbekas istananya. sebagian pendapat mengatakan bahwa Istana Kerajaan Sunda hilang bersama hilangnya Sang Prabu..

Wallohu a'lam..

Kerajaan Galuh

|0 waleran


Ini adalah sebuah perjalanan panjang dari sepasang kerajaan yang bercikal bakal dari Tarumanagara. Dalam rentang waktu hampir 1000 tahun, dua kerajaan ini, Sunda dan Galuh mengalami masa putus nyambung hampir sepanjang sejarahnya.

Sejarah bermula dari eksodus seorang brahmana India bernama Manikmaya, yang oleh raja ke-7 Taruamanagara, Suryawarman, difasilitasi untuk membangun Kerajaan Kendan (lokasi Nagreg sekarang). Karena watak rata rata Kerajaan tatar sunda yang memperlakukan kerajaan kerajaan bawahannya sebagai kerajaan otonom, maka Kerajaan Kendan pun diwariskan secara turun temurun. Dari Manikmaya diteruskan oleh Rajaputra Suraliman Sakti, diteruskan oleh Kandiawan, yang kebetulan sudah mempunyai kerajaan sendiri, yaitu Medang Jati. Setelah Kandiawan lebih memilih untuk jadi petapa, maka kekuasaan diserahkan kepada anak bungsunya, yaitu Wretikandayun (612-702). Wretikandayun lebih tertarik mendirikan kerajaan baru, yang dinamakan Galuh, yang berarti permata.
 
Pilihan Kandiawan untuk mengutamakan Wretikandayun dibanding tiga kakaknya ternyata tepat. Dibawah kepemimpinannya, Galuh berkembang pesat, dari segi perdagangan dan terutama pasukan kerajaan. Hal lain adalah sang raja dikaruniai umur panjang sampai 110 tahun, yang setara dengan pergantian enam kali Raja Tarumanagara, mulai dari Kertawarman sampai raja terakhir Linggawarman, sehingga ia faham betul liku liku Tarumanagara.
 
Sementara itu Tarumanagara sebagai Kerajaan induk mulai mengalami masa masa redup pada era Linggawarman. Sehingga ketika wafat Linggawarman, Tarus Bawa (669-723) menantu raja yang ditunjuk sebagai penerus tahta mengambil inisiatif untuk mengubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda. Suatu tindakan yang langsung direspon oleh Wretikandayun dengan deklarasi pemisahan Kerajaan Galuh dari Induknya yaitu Kerajaan Sunda atau Tarumanagara.
 
Pemisahan Kerajaan berlangsung damai. Dengan kedudukan sekarang yang sederajat, maka dimulailah era Kerajaan kembar Sunda Galuh yang dipisahkan oleh Sungai Citarum.


Masa Keemasan

Mulai dari era Sunda Sembawa (964-973) maka kerajaan Sunda Galuh benar benar berada dalam perdamaian dan masa keemasan. walaupun tidak tercatat melakukan ekspansi memperluas wilayah, kala itu Kerajaan mempunyai angkatan perang yang kuat baik angkatan darat maupun angkatan laut. Sebagaimana diketahui, beberapa pelabuhan penting saat itu dibawah otoritas Sunda Galuh, terutama Banten, Cirebon, dan tentu saja Kalapa (Sunda Kalapa, Jayakarta, dan akhirnya Batavia, Jakarta). 
 
Masa damai itu tidak terpengaruh oleh terjadinya peperangan antara negara negara sekitarnya (Sriwijaya, Kediri, Samudra Pasai). Bahkan pada masa Raja Darmasiksa (1175 - 1297), Kerajaan Sunda Galuh -tepatnya di bekas ibukota Sundapura - menjadi tempat perundingan damai segitiga antara Kekaisaran China, Sriwijaya, dan Kediri. Perlu dicatat, Darmasiksa mempunyai seorang cucu yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya, setengah Sunda, setengah Jawa, kemudian  mendirikan Majapahit yang terkenal itu. Darmasiksa memang raja visioner. Dia mendirikan banyak kabuyutan, diantaranya Ciburuy (Garut), Sanghyang Tapak (Sukabumi), dan Kanekes (Banten). 800 tahun kemudian, kini, kita masih dapat menyaksikan miniatur Kerajaan Sunda di Kanekes.
 
Pada era Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kerajaan Sunda Galuh mempunyai ibukota baru, yaitu Kawali (kuali, belangga). Selama ini ibukota kerajaan berada bolak balik antara Pakuan, Galuh, atau Saung Galah (sekitar Gunung Galunggung). Maka mulai saat itu orang mengenal era  Kawali dalam perjalanan sejarah Sunda Galuh. Pada saat yang sama Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa dihadapan Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana di Majapahit.
 
Hampir 400 tahun berlalu sudah sejak Raja Sunda Sembawa memerintah. Masa keemasan terus berlanjut hingga Prabu Maharaja Lingga Buana (1350-1357) naik tahta.


Tragedi Perang Bubat

Tragedi Perang Bubat, Selasa Wage, tanggal 4 September 1357.
Apapun alasannya,  menyerbu sebuah iring-iringan calon pengantin, tidak bisa dibenarkan. Kala itu adalah masa keemasan Kerajaan Sunda Galuh, namun juga masa keemasan kerajaan tetangganya yang sangat ekspansif dan agresor, ialah Majapahit.
 
Dua kerajaan besar, dua kerajaan yang sejajar, dua raja dengan satu nenek moyang. Seorang raja, Lingga Buana, seorang puteri, Dyah Pitaloka, dan iring iringan pengantin harus gugur karena nafsu penaklukan. Seorang raja berkuasa, Hayam Wuruk, harus terpukul hingga menderita sakit. Dan karir sang Mahapatih harus berakhir tidak jelas.
 
Dari generasi ke generasi, peristiwa kelam ini selalu dikenang. Memang seluruh tubuh yang gugur disucikan dengan upacara. Memang para pembesaran Majapahit mengungkapkan penyesalan yang mendalam. Memang para perwira yang menjunjung tinggi harga diri ini kembali dibaringkan di tanah Sunda. Tetapi beban sejarah yang berat harus dipikul seorang Bunisora.
 
Bunisora, adik Lingga Buana, harus memimpin rahayat Pasundan Galuh melewati semua ini. Dialah seorang pendeta tingkat satmata, tingkat lima, yang karena kecelakaan sejarah dinobatkan menjadi raja. Saat itu putera mahkota baru berusia 9 tahun. Dialah yang harus membimbing calon penerus, Anggalarang, terutama bersikap bijak terhadap tragedi Bubat. Bukan hal yang mudah..
 
Tapi berhasil. Berkat bimbingan sang paman, Anggalarang tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana. Pada waktu dinobatkan pada usia 23 tahun, dan bergelar Mahaprabu Niskala Wastukencana, dikenal juga dengan nama Wangisutah, seorang raja besar telah dilahirkan. Pada waktu itu untuk pertama  kalinya Keluarga Kerajaan Sunda Galuh, mempunyai anggota keluarga yang beragama Islam yang baru saja pulang Haji. Dia adalah kakak ipar raja sendiri, putera dari Bunisora, pamannya. Tidak terjadi intrik atas perbedaan agama ini. Bratalegawa atau Haji Purwa Galuh setelah masuk Islam, malah diberi tanah di Cirebon untuk mengembangkan agamanya. Indah, bukan?
 
Pada saat itu juga sebuah tim ekspedisi dari negeri China dipimpin Laksamana Cheng Ho mengunjungi pelabuhan Muara Jati di Cirebon, dan menghadiahkan  sebuah mercu suar disana. Sementara itu, untuk pertama kalinya berdiri pesantren di tatar Sunda oleh Syekh Hasanudin bin Yusuf di daerah Karawang, tetunya atas ijin Mahaprabu. Sementara sebuah padepokan agama Budha didirikan di Kerajaan Talaga, Majalengka sekarang.


Akhir Dari Era Galuh

Maha Prabu Wastukencana yang berkuasa atas Kerajaan Sunda dan Galuh menjelang akhir hayatnya membagi kerajaan menjadi dua bagian: Sebelah barat Citarum, kerajaan Sunda diberikan kepada Haliwungan atau Prabu Susuktunggal, anak dari istri Ratna Sarkati. Sebelah timur Citarum, Kerajaan Galuh kepada Dewa Niskala, anak dari istri Mayangsari. Kedua Kerajaan berdiri sejajar. Kerajaan Sunda Galuh kembali ke masa pemecahan, kali ini karena amanat Wastukencana.

Skandal terjadi di Kawali. Perang Bubat ternyata masih menyisakan soal. Diawali dengan pelarian pembesar Majapahit ke Galuh. Waktu itu memang sedang terjadi huru hara akibat perebutan kekuasaan di Majapahit. Pelarian di sambut baik di Galuh. Yang jadi soal adalah Dewa Niskala mengawini salah seorang pembesar Majaphit tersebut, sesuatu yang diharamkan sejak Bubat. Lebih lebih lagi wanita itu telah bertunangan.
 
Akibat pelanggaran kode etik itu, Prabu Susuktunggal menjadi murka dan berniat menyerbu Galuh. Namun perang dapat dicegah, dan pihak pihak bersengketa duduk di meja perundingan. Hasil kesepakatan adalah baik  Susuktunggal ataupun Dewa Niskala harus mengundurkan diri sebagai raja di kerajaan masing masing. Sebagai gantinya mereka menunjuk Jayadewata yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus mantu Susuktunggal.
 
Akhirnya Kerajaan Sunda Galuh kembali dilebur dengan raja Jayadewata, Sribaduga Maharaja, Prabu Siliwangi, dengan ibukota Pakuan. Maka lahirlah Kerajaan Pajajaran..

Kerajaan Indrapahasta

|0 waleran


Bila ada kerajaan kecil di tatar Sunda yang bertahta melintas jaman, mulai dari era Salakanagara, Tarumanagara, hingga Sunda Galuh, ia lah Kerajaan Indraprahasta. Hanya karena salah memihak, pada tahun 726 M kerajaan ini dihancurkan Raja Sanjaya dari kerajaan Sunda. Memang sayang untuk sebuah kerajaan yang telah berusia lebih dari 350 tahun.
 
Lokasi Kerajaan ini kurang lebih di Cirebon selatan sekarang. Seperti halnya riwayat kerajaan kerajaan Sunda kuno, pendirian kerajaan ini diawali kedatangan maharesi dari India. Maharesi Sentanu melarikan diri dari Sungai Gangga menghindari kejaran Raja Samudragupta.
 
Kedatangannya disambut hangat Raja Dewawarman VIII, bahkan dinikahkan dengan puteri ketiganya, Dewi Indari. Mereka dijinkannya untuk membuka permukiman di lereng gunung Ciremai. Permukiman yang terus berkembang sehingga membentuk kerajaan yang dinamakan Indraprahasta. Sentanu menjadi raja pertama (363-398). Raja Sentanu diteruskan oleh putera sulungnya, Jayasatyanagara ( 398-421). Pada masa ini Kerajaan Indrapahasta ditaklukkan oleh Purnawarman, dan menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara.
 
Tahta diteruskan kepada anaknya, Wiryabanyu (421-444) yang bersahabat dengan Wisnuwarman, raja ke 4 Tarumanagara. Disaat pemberontakan Cakrawarman, Kerajaan Indraprahasta bersama 6 kerajaan bawahan Tarumanagara lainnya berhasil menghancurkan pasukan pemberontak. Persahabatan Indraprahasta dan Tarumanegara lebih erat lagi ketika Puteri Wirabanyu, Suklawatidewi, dipersunting Wisnuwarman. Dari pernikahan tersebut lahir Indrawarman, yang menjadi penerus Wisnuwarman.
 
Dari raja ke 4 sampai raja ke 10, tidak ada peristiwa khusus yang terjadi. Raja ke 11, Wisnumurti, mempunyai seorang puteri yang dipersunting raja terakhir Tarumanegara, Linggawarman. Pada saat raja ke 13, Padmahariwangsa, Kerajaan Tarumanegara pecah menjadi Sunda dan Galuh. Karena posisi geografisnya, Indprahasta menjadi bagian dari Galuh, bahkan ikut dalam perebutan kekuasaan dengan mendukung Purbasora. Akibatnya Raja ke 14, Wiratara menjadi sasaran gempuran Sanjaya. Kerajaan Indraprahasta, akhirnya benar benar hancur tidak bersisa.

Kerajaan Medang Jati

|0 waleran

Kerajaan Medang Jati merupakan kerajaan bawahan Tarumanegara.
Terletak di daerah Sumedang sekarang. Sebagai raja pertama dan terakhir adalah Kandiawan (597-612). Ia menjadi raja dua kerajaan kecil sekaligus karena Kerajaan Kendan diwariskan kepadanya oleh ayahandanya, Manikmaya.
 
Ia kemudian memilih jadi petapa di Layungwatang, Kuningan. Kekuasaan kemudian diberikan kepada anak bungsunya, Wretikandayun. Namun sang anak memilih mendirikan kerajaan baru bernama Galuh. Sebuah pilihan penuh makna, karena kelak Galuh menjadi Kerajaan besar, setara dengan Kerajaan Tarumanegara..
 

Kerajaan Kendan

|0 waleran

Sejak Dewawarman I  memperkenalkan sistem kerajaan di tatar Sunda, maka bermunculanlah kerajaan kerajaan kecil yang berafiliasi kepada kerajaan lebih besar atau induk. Pada jaman Salakanagara, kita mengenal dua kerajaan bawahannya yaitu Kerajaan Ujung Kulon dan Kerajaan Tanjung Kidul.
 
Pada Masa dinasti Tarumanagara, kerajaan kerajaan kecil ini membengkak hingga 47 kerajaan. Salah satunya adalah Kerajaan Kendan. Adalah Manikmaya, seorang brahmana dari Calankayana, yang ditikahkan dengan Dewi Tirtakencana, puteri Raja ke-7, Suryawarman. Pasangan ini kemudian dikaruniai tanah di Kendan (kurang lebih Nagreg sekarang) lengkap dengan pasukan perang dan perangkat istana.

Jadilah Kerajaan Kendan dengan Manikmaya sebagai raja pertama (536-568).
 
Setelah Manikmaya wafat, kedudukannya digantikan Rajaputra Suraliman Sakti (568-597), anaknya yang lebih banyak melewatkan waktu di Tarumanagara dengan sang kakek, Suryawarman. Beliau menikah dengan Dewi Mutyasari dari Kerajaan Kutai keturunan Kudungga.
 
Sepeninggalan Rajaputra, Kepemimpinan berpindah ke tangan Putra sulungnya, Kandiawan yang telah menjadi raja di Medang Jati.
 
Selanjutnya, era kerajaan Medang Jati..

Kerajaan Tarumanagara

|0 waleran
Salakanagara 348 - 362 M mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Dewawarman VIII. Salah satu peristiwa yang cukup menonjol adalah terjadi eksodus besar besaran pengungsi dari India. Mereka adalah penduduk Calakayana yang kerajaannya di kalahkan pasukan Magada. Diantara para pengungsi terdapat seorang Maharesi Calakayana, Jayasingawarman. Sang resi kemudian dinikahkan dengan puteri Dewawarman VIII, Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi. Kemudian diberi tempat di tepian sungai Citarum, dan diberi nama Tarumadesya ( Desa Taruma ).


Karena peningkatan jumlah penduduk yang pesat, maka Tarumadesya berganti nama menjadi Tarumanagara. Secara alamiah Tarumanagara menjadi lebih besar dari Salakanagara, sehingga pada  masa pemerintahan Dewawarman IX  Salakanagara malah hanya menjadian bagian Kerajaan Tarumanagara. Tidak tercatat peperangan pada masa transisi ini. Mungkin karena kuatnya pertalian darah antar mereka.

Total tercatat 12 raja yang memerintah Tarumanagara.

Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta

Raja-raja Tarumanegara
NoRajaMasa pemerintahan
1Jayasingawarman358-382
2Dharmayawarman382-395
3Purnawarman395-434
4Wisnuwarman434-455
5Indrawarman455-515
6Candrawarman515-535
7Suryawarman535-561
8Kertawarman561-628
9Sudhawarman628-639
10Hariwangsawarman639-640
11Nagajayawarman640-666
12Linggawarman666-669

Masa masa Jayasigawarman dan Dharmawarman adalah masa masa konsolidasi. Puncak keemasan Tarumanagara terjadi pada saat Purnawarman berkuasa. Pada saat itulah kata Sunda mulai digunakan. Dipakai untuk menamai ibukota baru Sundapura yang terletak kurang lebih antara Bekasi - Bogor sekarang. Sunda berarti berkilau, putih, suci, bersih, jernih, murni. Sementara luas wilayah juga mengembang sampai ke Purwalingga, Jawa Tengah sekarang ( lihat peta di bawah). Total terdapat  47 kerajaan kecil bawahan Tarumanagara. 
 
Pada masa Wisnuwarman terjadi kudeta besar yang melibatkan Cakrawarman,  panglima perang sejak jaman Purnawarman dan sejumlah besar menteri dan pasukan terlibat. Kudeta gagal, dan Cakrawarman tewas. Raja raja setelahnya memimpin dengan damai tanpa kejadian berarti. Catatan khusus diberikan kepada Suryawarman karena pada eranya seorang brahmana dari Calankayana, Manikmaya, ditikahkan dengan puterinya, Dewi Tirtakencana. Kemudian pasangan ini dihadiahi sebuah kerajaan bernama Kendan, sesuai dengan nama lokasinya ( sekarang kurang lebih di Nagreg ). Kerajaan Kendan ini nantinya bermetamorfosa menjadi medang jati, dan akhirnya menjadi Kerajaan Galuh. 
 
Skandal besar terjadi pada masa Raja ke 8. Kertawarman menikahi Setyawati dari golongan sudra. Keadaan bertambah rumit karena Setyawati berpura pura hamil, padahal Kertawarman diketahui mandul. Untuk menutupi skandal ini, sang Raja mengangkat anak angkat, Brajagiri, dari golongan sudra juga. Manuver yang gagal, karena suasana kerajaan memanas. Namun sampai akhir hayatnya, Kertawarman tetap menjadi raja.
 
Kertawarman kemudian digantikan oleh adiknya, Sudhawarman. Sudhawarman digantikan anaknya, Hariwangsawarman,  yang beribu India, dan dibesarkan di kerajaan Palawa. Didikan India menjadikannya keras dalam memegang aturan kasta. Sehingga Brajagiri yang saat itu memegang jabatan senapati diturunkan pangkatnya menjadi penjaga gerbang keraton. Brajagiri yang sakit hati kemudian membunuh Hariwangsawarman. Tragedi kembali menyelimuti Tarumanagara.
 
Era Nagajayawarman praktis tidak ada skandal yang berarti. Linggawarman kemudian tampil memimpin. Namun tanda tanda kemerosotan Tarumanagara mulai terlihat. Sepeninggalan Linggawarman, Tarusbawa, menantu Linggawarman yang bercita cita mengembalikan kejayaan masa Purnawarman, mengubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda. Sebuah keputusan yang fatal, karena seketika Tarumanagara kehilangan separuh wilayah kerajaannya.
 
Dimulailah era Kerajaan Sunda Galuh..