Museum Naskah Sunda Kuno

Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, sedang membuat Museum Naskah Kuno Nusantara di Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Museum ini diharapkan selesai pada 2012.

Dekan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Dadang Suganda mengatakan, museum itu diharapkan menjadi sumber literatur dan pencatatan sejarah tradisi masyarakat serta mencegah maraknya penjualan naskah kuno ke luar negeri.

”Perlindungan terhadap naskah kuno sudah sangat mendesak karena penjualan naskah ke pihak asing masih marak,” kata Dadang di Bandung, Selasa (23/11/2010).

Selain itu, dalam naskah kuno tertentu tersimpan berbagai macam pengetahuan, kehidupan sosial budaya, cara pengobatan, dan praktik pemerintahan yang masih relevan apabila diterapkan saat ini. Dadang mengatakan, museum yang sudah mulai dibangun ini akan diisi berbagai naskah kuno, baik hasil pencarian ke berbagai daerah maupun sumbangan pihak tertentu.

Ia mencontohkan naskah hasil sumbangan filolog asal Perancis, Viviane Sukanda-Tessier, sebanyak 981 naskah kuno berbahasa Arab, Sunda, serta Jawa dari Jabar dan Banten. Naskah terbuat dari daun lontar, kertas daluang, dan kertas buatan Eropa bertanda air dari abad ke-17 dan abad ke-18.

Selain itu, pencarian naskah juga dilakukan dengan membentuk tim untuk mencari naskah yang saat ini berada di masyarakat. Ketua Konsentrasi Bidang Kajian Utama Filologi dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Kalsum mengatakan, keterlibatan masyarakat juga diharapkan menjaga keberadaan naskah kuno di Jabar.

Akibat minimnya pemahaman masyarakat, banyak naskah kuno yang terlalu dianggap sakral atau bahkan dianggap tidak bernilai sejarah. Akibatnya, banyak nilai dan kandungan ilmu yang ada dalam naskah tidak bisa dimanfaatkan untuk kehidupan saat ini.

”Karena minimnya pemahaman masyarakat terhadap naskah kuno, banyak pula naskah yang dijual kepada pihak asing,” ujarnya. (CHE)

0 Waleran:

Sapuluh Seratan nu Pangpajengna Diaos